Kejam. Hanya satu kata yang mungkin dimiliki setiap manusia. Sebagian besar manusia memilih menunjukkan sisi kejam itu namun tidak sedikit juga yang menyembunyikan atau bahkan tidak menyadarinya.
Seperti halnya Fian yang memilih menunjukkan sisi kejamnya. Ia tidak lagi menyembunyikan sisi kejamnya karena seseorang telah mengusik miliknya yang berharga. Sesuatu yang ia jaga mati-matian agar tidak tergores, yang ia perlakukan spesial, yang selalu dipastikan agar bahagia. Seseorang itu melukainya dan Fian tidak akan diam saja.
Jadi, ia memberikan keputusan luar biasa tadi.
Kaki panjangnya melangkar dengan pasti menuju kelas gadisnya. Gadis itu pasti merenung di kelas dan sedang menunggunya karena jam istirahat sudah berbunyi sepuluh menit yang lalu. s**l! Karena ayah dan anak itu ia harus datang terlambat, padahal kemarin merupakan hari bahagia mereka.
Di ujung koridor ponsel di saku celana Fian bergetar. Laki-laki itu lantas meraih ponselnya dan mengerutkan dahi. Untuk apa ‘dia’ meneleponnya?
“Hal—”
“Jika kamu tidak bisa menjaganya lebih baik dia ikut bersamaku. Aku mempercayakan dia tidak untuk terluka.”
Sambungan telepon diputus secara sepihak. Sontak saja rahang Fian mengeras, matanya berkilat emosi, namun tak ayal tubuhnya gemetar. Hanya satu kalimat, namun sukses membuat tubuh Fian gemetar ketakutan.
Tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa membuat Fian gemetar ketakutan selain ‘dia’. Sosok iblis yang selalu mengawasi dirinya dan gadisnya. Iblis yang siap membawa gadisnya kapan saja saat ia lengah. Hanya satu hal yang membuat Fian takut, saat gadisnya tidak ada di sampingnya. Gadis itu dunianya, tempatnya pulang. Jika gadis itu tidak ada ke mana ia akan pulang?
“Fian.”
Panggilan seseorang membuat Fian tersadar. Tubuh yang tadinya bergetar kini berusaha ia sembunyikan. Senyuman terbaik segera ia persembahkan agar gadis yang ada di hadapannya ini tidak khawatir.
Tangan Fian menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tatapan mata Abby yang tengah menyorotnya tajam. Senyum laki-laki itu juga tidak dibalas olehnya. Dengan ragu ia duduk di samping gadisnya dan mengelus kepalanya lembut.
“Kamu, kan?”
“Iya,” jawab Fian jujur.
“Jahat banget.” Fian hanya bisa memberikan senyuman tanpa dosanya hingga membuat gadis di sebelahnya ini berdecak. Itu memang perbuatan Fian dan ia tidak menyangkalnya sama sekali.
“Nih, makan nih sayur, makan!” ujar Abby. Gadis itu menyuapkan sesendok penuh nasi goreng dan sayur yang ada di kotak bekalnya pada Fian. Fian hanya pasrah menerima suapan nasi tersebut.
Gadisnya ini memang sangat anti terhadap sayuran namun pecinta buah-buahan. Meski Fian mengetahui hal tersebut namun ia berusaha membuat gadis ini makan sayur secara rutin, minimal seminggu sekali dengan satu jenis sayuran. Daya tahan tubuh Abby sangat lemah dan rentan sakit, bahkan ia tidak boleh kecapekan. Untuk itu ia harus banyak mengkonsumsi sayuran yang bergizi. But, bukan Abby namanya jika ia tidak bisa melawan.
Setiap Abby menemukan sayuran pada makanannya ia akan menyuapkan sayuran tersebut pada pelaku kejahatan yang dengan tega menambahkan sayuran pada makanannya. Seperti hari ini, ia menyuapkan sayuran di nasi goreng pada kekasihnya. Tidak tanggung-tanggung, ia menyuapkan hampir sebagian sayuran itu pada Fian.
“Udah, sekarang kamu makan.” Fian merebut sendok dari tangan Abby. Sayuran dalam nasi goreng itu sebagian telah hilang dan berpindah ke perut Fian. Ia menyendok nasi dan sedikit sayur lalu diarahkan pada mulut kekasihnya. Abby menggeleng segera menjauh dari sayuran yang menurutnya menjijikkan itu. “Kamu mau makan dari sendok atau mulut aku?”
Jika Abby cerdik maka Fian licik. Laki-laki itu selalu punya cara agar Abby menuruti keinginannya. Ia tidak akan memberikan kesempatan Abby untuk menang saat apa yang dilakukannya menyangkut kebaikan gadis itu.
Abby segera melahap nasi beserta sayuran itu saat Fian menatapnya dengan tajam. Hal itu membuat senyum penuh kemenangan terbit di wajah Fian. Ia mengelus rambut Abby dengan penuh kasih sayang.
“Aku nggak keberatan nyuapin kamu pake mulut aku sebenarnya.”
“Halah dasar lelaki kerdus,” ucap Abby yang membuat Fian terbahak. Gadis ini sangat menggemaskan.
“Aku mau tanya sesuatu sama kamu.”
“Silakan,” ujar Fian tenang. Laki-laki itu jelas tahu apa yang akan ditanyakan gadisnya. Jalan pikiran kekasihnya ini memang mudah ditebak. Kecuali kalau gadis ini sedang kalut, di saat seperti itu pikirannya bisa sangat kreatif.
“Kamu beneran pecat kepsek dan keluarin anaknya dari sekolah?” Fian mengangguk, mengiakan. Tidak ada alasan baginya mempertahankan mereka di sekolah ini. Toh, dia tidak akan kehilangan uang hanya karena mereka pergi.
Abby hanya mengangguk dan memakan kembali bekalnya. Kenapa Abby tidak melarang perbuatan kekasihnya itu? Percuma. Fian tidak akan sungkan melakukan hal di luar batas jika sudah menyangkut Abby.
Rasa sayang Fian padanya memang tidak main-main. Fian akan selalu membalas siapa pun yang melukai Abby dengan kejam. Bahkan, laki-laki itu pernah hampir membuat seseorang meninggal karena orang itu membuat Abby terjatuh dan mendapatkan luka berdarah.
Tidak hanya sekali atau dua kali gadis itu melihat sisi kejam kekasihnya. Sudah sangat sering Fian mengotori tangannya hanya untuk membalas setiap luka yang Abby dapatkan. Fian juga sudah membuat tiga orang temannya koma karena melukai Abby. Hanya satu yang Abby belum ketahui. Apakah Fian pernah membunuh seseorang di belakangnya?
“Aku mencintaimu. Sangat,” ujar Fian lembut. Pikiran laki-laki itu hanya tertuju pada ‘dia’ sekarang, ‘dia’ yang akan mengambil Abby-nya. Ancaman terbesar dan paling kuat, yang akan membawa gadisnya pergi.
Aku tidak akan membiarkan dia mengambilmu dariku sayang.