Ketika sedang berjalan dikoridor kelas, aku bingung kelas IPA 1 dimana. Terus ku telusuri koridor itu, belum beberapa menit aku mencari, aku melihat guru yang ingin melalui jalan yang sama denganku. Tanpa basa-basi kuhampiri guru itu...dan bertanya.
"Permisi pak, saya ingin bertanya, kelas IPA 1 dimana ya, pak?" Tanyaku dengan sopan.
Apa aku yang salah lihat atau memang wajah pak guru itu tampak kaget melihatku. Hmmm... mungkin saja hanya perasaanku,
"Permisi pak, kelas IPA 1 dimana ya, pak?" Tanyaku sekali lagi.
Wajah kagetnya tiba-tiba buyar seketika, dan melihatku dengan penuh-penuh memperhatikan.
"Ohh ia nak, kelas IPA 1 ada di lorong paling ujung, di sana dekat tangga " jawab pak guru dengan penuh keraguan.
" Ooo.. di situ, trimakasih ya pak, saya permisi dulu" ucap Rika
"Ehh.. tunggu.." panggil pak guru itu kepadaku dengan cepat.
"Iya pak, ada apa?" Tanya ku
"Mmmm..tidak ada" ucap pak guru itu dengan nada ragu
"Baik, permisi pak" ucap ku dengan wajah bertanya-tanya dan bingung.
Ketika sedang berjalan menuju kelas IPA 1, aku merasa pak guru itu masih berada di koridor itu, dengan penasarannya aku berbalik dan melihat ternyata pak guru itu masih ada disitu dengan terus-menerus melihatku, dengan sigap, ku berbalik dan cepat-cepat menuju kelas IPA 1.
"Greekkk...."
Kubuka pintu kelas itu dengan nafas terengah-engah, seperti dikejar dengan anjing yang kelaparan.
Tanpa berpikir lagi, aku menuju meja yang paling belakang dan duduk disitu.
"Ouuhh..yeah.. duduk disini memang yang paling enak dan nyaman, paling cocok untukku tidur"
Sekitar 15 menit Rika duduk, kelas IPA 1 sudah dipenuhi oleh murid-murid baru, termasuk dia.
"Krriiiiiiiinngggg..."
Bel masuk berbunyi.
Ruang kelas itu sangat berisik karena banyak yang memperkenalkan diri mereka, dan mencari kawan bangku yang menurut mereka sudah kenal akrab dengan yang lain.
Apalah nasib dayaku, di antara semua anak murid yang lain, sama sekali aku tidak memiliki kawan lama, kawan-kawan ku semua pergi kemasa depan mereka, ada yang menjadi pilot, polisi, pramugari, masih banyak lagi deh. Dan aku...hanya masuk ke sekolah ini yang sudah ditentukan oleh kakakku.
Beberapa menit kemudian...
"Hai..." Seorang anak laki-laki yang, mmm.. lumayan tampan menyapaku.
"Hai.." sapaku kepada laki-laki itu.
"Apa aku boleh duduk disini?" Tanya laki-laki itu. " Yaa.. silakan"
"Perkenalkan namaku Indra, kamu?"
"Oh..yaa namaku Rika"
Belum terlalu lama obrolan mereka berdua, keheningan pun menghampiri kami.
"Greekk.."
Pintu kelaspun terbuka, dan muncul lah seorang guru yang membuat Rika kaget seketika.
"Kenapa pak guru itu bisa masuk ke kelas iniii..., Eh yaampuun aku lupa, dia kan guru. Nggak aneh dong kalo dia masuk ke kelas ini, iiiiihhh bodohh bangett sihh akuu iniii...." Ucap Rika dalam hati.
Pak guru itu berjalan menuju meja guru yang berada didekat papan tulis, dan berdiri disampingnya. Entah kenapa perasaanku saja, atau pak guru itu liatin kearah aku terus, mungkin aku terlalu berlebihan memikirkan hal aneh, bisa saja pak guru itu, melihat kearahku, karna area aku duduk,bukan aku saja yang disini, masih ada yang disamping kanan, kiri, depan, dan belakangku.
Selang beberapa detik kemudian..
" Halo semuanya, selamat pagi" sapa pak guru itu kepada kami.
" Halo pak, selamat pagi.." ucap kami serentak menyapa pak guru itu.
"Perkenalkan nama bapak dimas Renandra, kalian bisa memanggil bapak, pak Dimas. Saya disini termasuk guru baru, saya mengajar disekolah ini sudah hampir setahun. Kalian santai saja sama bapak, karna jika di posisi umur, umur kita hanya beda 4 tahun, jadi jangan terlalu kaku jika berhadapan dengan saya. Oke siapa yang mau bertanya?"
"Saya pak.." salah satu murid tunjuk tangan, dan ingin melontarkan pertanyaannya.
"Iya silahkan, nak" ucap pak Dimas
"Bapak mengajar pelajaran apa" tanya murid itu kepada pak Dimas.
"Pertanyaan yang bagus, karna di sekolah ini banyak guru yang mengajarkan hanya pelajaran kelas 11 dan 12. Jadi dikelas 10, guru yang mengajarkan semua mapel hanyalah guru-guru yang terpilih, dan setiap 1 guru hanya masuk ke 1 kelas, dan bapaklah termasuk guru yang terpilih itu, bapak yang akan mengajarkan semua mapel kepada kalian kelas IPA 1, dan jangan lupa bapak juga sekaligus wali kelas kalian, dan bapak mohon semoga kalian tidak bosan terus menerus melihat bapak setiap hari datang kekelas ini."
"Tentu tidak pak, bapak terlalu tampan untuk menjadi wali kelas kami.. kyaa.." serbu teriakan anak-anak perempuan kepada pak Dimas, kecuali aku. Ingat garis bawahi kecuali aku.
"Kalian ini bisa saja" ucap pak Dimas.
"Oke, tidak perlu berlama-lama lagi, sebaiknya kita atur posisi tempat duduk kalian, bapak ingin tempat duduk kalian sesuai dengan nomor yang ada dimading. Kalian mengerti?"
"Mengerti pakk..." Ucap serentak anak murid IPA 1
"Kalau begitu, sekarang laksanakan" perintah pak Dimas.
Setelah perpindahan tempat duduk sesuai yang ada dimading. Aku kaget, ternyata walaupun aku duduk dibarisan nomor 2 dari depan bagian tengah, aku tetap semeja dengan Indra.
Uuuuuuhhh enaknya duduk dengan cowok tampan. Ucapku dalam hati.
"Indra, kok kamu bisa duduk sebelahan sama aku, padahalkan awal nama huruf kamu ' I ' ?"
"Hahahhahaha..." Indra pun tertawa.
"Kok ketawa sih, emang ada yang lucu ya?" Tanyaku bingung.
"Aduhhh maaf, aku jadi ketawa ya?"
"Hahaaha nggak papa kok, mungkin pertanyaan ku yang salah, makanya kamu ketawa" Jawabku sambil nyengir.
"Aduhh sorry ya, aku bukannya ngetawain pertanyaan kamu yang tadi, cuma yang kamu tanyain itu yang bikin aku ngetawain diri sendiri, bodohnya, aku lupa ngenalin diri pakek nama lengkap ke kamu, maaf yaaa?" Ucap jelas Indra.
"Oohh gak papa kali, aku kirain kamu ngetawain apa, heheheh" Jawab aku lega.
"Okeyy, kita ulangin perkenalan kita" ucap Indra sambil menjabat tanganku.
"Hai, namaku Rhadika Indra, biasa di panggil Indra"
"Hai juga, namaku Rika Risnani, biasa di panggil Rika"
"Salam kenal yaa" ucap Indra.
"Salam kenal juga" jawabku.
Ketika aku dan Indra sedang mengobrol, mataku tidak sengaja milirik kearah pak Dimas, ingat yaaa garis bawahi tidak sengaja.
Ternyata nggak salah lagi, filingku benar pak Dimas benar-benar melihat ke arah ku terus. Begitupun aku, aku pura-pura tidak melihat kalo pak Dimas melihatku terus-menerus, walau ada takut dikit.
...
Beberapa menit kemudian, pak Dimas memanggil namaku dan menyuruhku mengikutinya kekantor. Seketika aku keringat dingin, apa aku ada salah? Apa karna aku mengobrol terus dengan Indra? Tapi kan bukan hanya aku aja yang mengobrol dengan kawan semeja, banyak yang lebih bising dari pada aku, kenapa aku yang harus dipanggil kekantor? Aduuhhh Rika... Pikir positif, siapa tau pak Dimas mau minta tolong dibawakan buku dari kantor atau semacamnya.
Sesampai di kantor, ketika aku masuk, ternyata ruangan itu hanya khusus untuk 1 guru tiap ruang.
Ketika aku sudah duduk dikursi, pak Dimas masuk keruangnya dan langsung mengunci pintu itu, dan menyimpan kunci itu disaku celananya. Disitu pikiranku buyar entah kenapa.
Keringat dingin yang tadi mulai reda kembali memenuhi tubuhku.
"Pak, kenapa pintunya dikunci?" Tanyaku penuh dengan kewaspadaan.
"Kenapa harus kamu.." ucap pak Dimas.
"M-mmaksud bapak apa? Saya nggak ngerti?"
"Ini begitu sulit" ucap pak Dimas, sambil berjalan menuju ke arahku. Pak Dimas terus berjalan kearahku hingga jarak kami tinggal beberapa senti. Ketika aku menyadarinya, perlahan-lahan aku berjalan mundur supaya jarakku dengan pak Dimas tidak sedekat tadi, ketika ingin mundur, pak Dimas langsung menarik tanganku dan menangkap tubuhku kepelukannya.
Saat itu aku kaget, jantungku sampai berhenti seketika, dan mulai berdegup dengan kencang, hingga aku tidak tau lagi harus bagaimana.
"B-bbapakkk, kenapa memeluk saya? Tt-tolong pak, lepaskan pelukan ini.." ucapku dengan suara bergetar. Sambil menggerakkan diri supaya lepas dari pelukan itu.
"Aku mohon, jangan bergerak. Tetaplah seperti ini dulu, aku ingin memelukmu" jawab pak Dimas, sambil mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana kalau ada yang lihat pak, saya tidak mau ada kesalahpahaman, dan saya malah mendapatkan poin karna ini, saya murid baru disini, saya tidak mau mencari masalah"
"Siapa yang ingin melihat? Pintu sudah saya kunci, kamu jangan mengelak lagi, dan jangan memberontak untuk berusaha lepas dari pelukan saya. Jika kamu terus berusaha, saya akan melakukan hal lain yang lebih dari pelukan ini, kamu mengerti?"
"Kenapa bapak ngelakuin ini? Tolong jelaskan.." tanyaku dengan tidak sabar.
"Kamu saya hukum karena kamu menjadi murid saya, dan bersekolah disini"
"Apa salah saya, kenapa saya dihukum karena menjadi murid bapak, dan bersekolah disini?"
Pak Dimas pun melepas pelukannya. Dan menarok dahinya di bahuku.
"Huufff.. Kamu akan tau, ketika dirumahmu nanti"
"M-maksud bapak?"
"Kamu akan tau jawabannya, ketika dirumahmu nanti"
Setelah itu, pak Dimas berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu menggunakan kunci yang diletakkannya disaku celananya.
Cklekk..
"Kamu boleh kembali kekelas, saya akan menyusul nanti" ucap pak Dimas sambil membuka pintu.
"T-trimakasih pak" jawabku, dan langsung berlari kekelas secepat kilat