Brie mengira ancaman terbesarnya adalah PPATK atau intel kepolisian. Selama ini, ia selalu waspada terhadap audit perbankan dan pemeriksaan KPK yang sistematis. Ternyata ia salah. Ancaman terbesarnya justru datang dari seorang perempuan dua puluh dua tahun yang haus validasi di media sosial.
Minggu itu, Brie berniat bangun siang untuk membalas dendam pada jam tidurnya yang kurang kemarin. Namun, mimpinya buyar saat ponsel di atas nakas bergetar tanpa henti. Ratusan notifikasi meledak serentak. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Brie membuka sosial media.
Seketika jantungnya serasa berhenti berdetak. Akun @DokterAudit baru saja mengunggah sebuah cuitan di X yang sudah di-repost belasan ribu kali.
"Cocoklogi Pagi: Siapa bilang 'Malaikat Skincare' kita cuma jualan serum? Kemarin, Brianna Anindita terciduk di sebuah club eksklusif di Menteng dengan seorang yang diduga 'simpanan' pejabat daerah. Pejabatnya ada loh di situ. Foto lokasi sama, cuma beda angle saja."
Brie meremas ponselnya kuat-kuat. Matanya yang tadi mengantuk kini menyalang tajam. Giginya gemeretak menahan amarah yang meluap. "Dasar ani-ani bodoh! b******k! Ngapain dia pakai posting foto di i********: Story segala?" geramnya sendirian di dalam kamar.
Meski Tissa tidak menandai lokasi, netizen berhasil menemukan detail yang identik: mulai dari corak marmer meja hingga pantulan lampu gantung kristal di kacamata hitam yang dikenakan Brie.
Tanpa membuang waktu Brie langsung menelepon Bian. "Bian! Kamu udah lihat X?" Tanyanya tanpa basa-basi.
"Saya baru aja mau telepon, Mbak. Ini udah ramai banget." Suara Bian terdengar tegang di ujung telepon.
Brie langsung memberinya perintah. "Dengar. Kita enggak mungkin klarifikasi pakai kebohongan mentah. Cari dua atau tiga influencer yang mau dibayar buat bikin alibi sekarang juga. Jangan yang terlalu terkenal. Suruh mereka bikin narasi kalau aku ke sana itu buat diskusi kerjaan. Mereka pasti mau pansos gratis. Kasih foto aku yang kemarin kamu ambil, suruh mereka edit pakai AI seolah aku lagi duduk bareng mereka. Suruh mereka posting secepatnya! Bayarannya kamu ambil dari satu miliar yang kemarin."
"Siap, Mbak. Saya eksekusi sekarang," jawab Bian sebelum menutup telepon.
Dua jam kemudian, postingan 'bukti' dari tiga influencer bayaran itu muncul serentak. Hanya dalam hitungan jam, narasi di media sosial mulai bergeser. Netizen yang tadinya menghujat mulai ragu.
Brie menarik napas lega. Ia juga sudah meminta Baskara, untuk memberitahukan Pak Gubernur agar menjaga 'mainan' nya.
Setelah situasi mulai terkendali, sore harinya Brie bersiap di depan kamera untuk merekam video klarifikasinya. Ia sengaja tampil sangat santai, mengenakan jubah mandi sutra dengan rambut yang hanya dicepol asal, memberikan kesan bahwa ia baru saja bangun tidur.
"Halo semuanya," Brie memulai dengan senyum tipis yang tampak sangat tenang di depan kamera. "Aku baru bangun tidur dan kaget banget lihat X ramai soal foto aku di Menteng. Padahal kemarin itu aku lagi meeting santai sama beberapa partner influencer buat proyek campaign terbaru. Sedih ya, niatnya mau produktif malah dikira yang aneh-aneh. Buat teman-teman media, yuk lebih teliti lagi sebelum bikin asumsi. Anyway, aku mau 'me time' dulu ya. Have a nice weekend!"
Brie mengakhiri klarifikasinya dengan sebuah senyuman palsu. Brie tahu jika ia muncul dengan video yang terlalu formal atau terkesan membela diri, publik akan mengendus ketakutannya. Ia ingin dunia melihat bahwa bagi seorang Brianna Anindita, gosip murahan seperti itu hanyalah kerikil kecil yang bahkan tidak pantas membuatnya repot-repot memakai riasan.
***
Senin pagi biasanya menjadi awal dari ritme kerja yang menggila bagi Brianna, namun kali ini suasananya berbeda. Setelah badai postingan dokteraudit Minggu kemarin yang nyaris meruntuhkan reputasinya, Brie memutuskan untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk Jakarta.
Saat Bian baru saja melangkah masuk ke penthouse dengan wajah tegang—siap dengan laporan update media sosial terbaru—ia justru terpaku melihat bosnya sudah siap di ruang tengah dengan outfit santai.
"Hari ini kita libur, gantiin weekend kemarin," ujar Brie cepat, memotong pertanyaan yang belum sempat keluar dari mulut Bian.
"Kita mau ke mana, Mbak?" Bian bertanya dengan nada khawatir.
"Tenang, Bian. Aman. Aku udah booking spa privat di Bogor setengah hari, khusus buat treatment kita," jawab Brie santai sambil memasukkan 10 ikat uang ke dalam sehuah tote bag kulit.
"Bawa cash sebanyak itu Mbak?" Tanya Bian heran.
"Kali ini aku nggak mau ada jejak transfer, Bian. Aku mau bayar semuanya tunai. Tip untuk terapisnya tunai, makan siang kita pun tunai. Hari ini, aku mau jadi orang yang tidak punya nama di sistem bank mana pun."
Bian mengangguk. Tak bertanya lagi.
Perjalanan menuju Bogor terasa sunyi. Brie hanya menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung tinggi Jakarta yang perlahan digantikan oleh pepohonan hijau. Begitu sampai di vila spa tersembunyi itu, Brie langsung memesan paket perawatan termahal.
"Bian, kamu juga ambil paket pijat sana. Muka kamu udah kayak kertas kusut," perintah Brie."
Bian mengangguk sambil tersenyum lebar.
Brie duduk di balkon vila yang menghadap ke lembah, menunggu perawatannya dimulai.
"Selamat sore! Mbak Brianna?" Seorang perempuan muda menghampirinya.
Brie mengangguk. "Mbaknya yang mau treatment saya?"
"Iya, Mbak, saya Ima. Kita foot spa dulu ya, Mbak?"
Terapis bernama Ima itu meminta Brie mengikutinya di sebuah ruangan yang sangat nyaman. Dengan penerangan yang hangat dan wangi aromaterapi yang menenangkan langsung membuat Brie ingin memejamkan mata.
"Ya ampun... ternyata Mbak Brie aslinya lebih cantik," ucap Ima sambil mulai mencuci kedua kaki Brie.
"Ah, bisa aja kamu," jawab Brie merendah, sambil sambil menarik ujung celana panjangnya.
"Saya follower Mbak, loh. Sering ikut Jumat berkah tapi enggak pernah kebagian," tambah Ima malu-malu.
"O ya? Sayang banget belum dapet." Brie menunjukkan raut menyesal yang tulus. Coba lagi Jumat besok ya? Nanti kamu tulis aja di DM, Ima dari Spa Bogor, biar aku tahu."
"Makasih, Mbak Brie." Wajah Ima langsung berbinar.
"Kamu udah lama kerja di sini?" Tanya Brie
"Sudah dua tahun, Mbak. Sejak cerai." Ima menjawab polos.
"Masih muda udah cerai? Punya anak?"
"Punya satu, saya titip Ibu di kampung."
"Kenapa cerai?" Brie mulai penasaran.
"Suami saya pengangguran." Sari menjeda sejenak, menarik napas panjang. "Kerjaannya cuma main judi online sampai uang s**u anak pun habis."
Brie mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu nikahin kalau tahu pengangguran?"
Ima tersenyum getir. "Tadinya sih, kerja di pabrik. Terus pabriknya tutup. Jadi, daripada tambah susah, saya ceraikan saja."
"Kamu enggak kangen sama anak?"
"Kangen banget Mbak, tapi mau gimana, daripada di kampung enggak bisa beli s**u. Saya mau kumpulin duit dulu buat bikin warung di kampung, biar enggak ninggalin anak."
Brie mendengarkan setiap kata itu. Ia teringat Tissa, simpanan gubernur itu. Usianya hampir sama dengan Ima. Tapi wanita di depannya ini mencari uang dengan keringat. Sementara Tissa hanya modal jual diri.
Sepanjang perawatan spa pikiran Brie melayang. Pikiran yang tiba-tiba saja terasa jernih. Mungkin karena efek relaksasi, atau karena ia sudah terlalu muak dengan permainan kotor ini.
Saat perawatan selesai Brie memanggil Ima yang sedang membereskan ruang perawatan. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan dua ikat uang seratus ribuan yang masih tersegel bank. Ia meletakkan uang dua puluh juta itu di telapak tangan Ima. "Ini buat kamu. Enggak usah nunggu Jumat Berkah."
Ima membeku. "Tipnya kebanyakan, Mbak..."
"Itu modal kamu buka warung di kampung," bisik. "Pulanglah. Temui anak kamu."
Air mata Ima tumpah seketika. Tangannya bergetar. Ia hampir jatuh terduduk di lantai. "Mbak Brie... ya ampun... ternyata bener, Mbak Brie berhati malaikat..."
"Ima, dengar," potong Brie sambil membantunya berdiri. "Tolong jangan posting apa pun soal ini di sosial media. Ini rahasia kita berdua saja. Aku enggak mau jadi rame."
Ima mengangguk cepat, masih terisak haru. "Iya, Mbak. Saya janji. Terima kasih banyak, Mbak Brie."
Brie melangkah keluar menuju area parkir dengan perasaan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Untuk pertama kalinya, ia memberikan uang tanpa sorotan lampu kamera, tanpa naskah konten, dan tanpa kepentingan bisnis. Entah mengapa ia merasa damai. Dalam benaknya, sebuah pembenaran mulai tumbuh. Uang itu adalah uang rakyat yang dirampok pejabat, dan ia baru saja mengembalikannya ke tangan yang benar.
Brie tersenyum. Jika ia harus menjadi bagian dari dunia yang kotor ini, maka ia akan menjadi 'Robin Hood' dengan caranya sendiri.
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Brie bisa bernapas dengan lega.