Tata baru selesai dengan pekerjaannya. Gadis bersurai hitam kecokelatan akibat terik matahari itu menyalakan ponsel sambil berjalan ke arah parkir khusus karyawan, yang letaknya di sisi kiri lalu ke belakang.
Depot makan memang ramai saat makan siang. Tempat kerjanya itu buka hingga sore pukul lima saja dan buka mulai pukul tujuh pagi. Depot tempat Tata bekerja menyediakan makanan ala warteg yang punya banyak lauk-pauk dan juga aneka sayur yang bisa pilih sendiri. Banyak orang yang datang membeli biasanya sayur dan lauk-pauk saja dan juga aneka kue-kue basah yang dititipkan di Depot tersebut. Makanya saat menjelang makan siang seperti ini Depot tersebut ramai. Menjelang sore akan mulai sepi dan juga jarang ada pembeli. Maka dari itu tempat tersebut hanya buka sampai jam lima sore saja, sehingga Tata bisa pulang dan menikmati malamnya dengan santai di rumah. Biasanya ia jalan dengan Amira, teman baru setahun ini yang ia kenal. Seorang guru yang baru pindah dari kota.
Ngomong-ngomong soal Amira, beberapa hari ini ia kesulitan menghubungi sahabatnya tersebut telepon pun tidak pernah diangkat pesan pun juga tidak pernah dibalas dan ia kepikiran untuk datang ke rumah Amira yang letaknya sekitar 10 km dari rumahnya karena jalan di desa banyak belokan dan melewati sawah.
Akhirnya memutuskan untuk ke rumah Amira tiba di sana ia tidak mendapati tanda-tanda kehidupan di rumah tersebut. Rumahnya tutup, terlihat sepi dan sepertinya tidak ada orang di rumah. Maka dari itu ia putuskan untuk kembali pulang saja. Baru juga ia menyalakan motor, Tata disapa oleh Mbah Gimin tetangga dekat rumah Amira yang sedang mengangkat jemuran tertinggal karena magrib menjelang.
"Tata mau ketemu Amira?" tanya Mbah Gimin yang sudah mengenal Tata.
"Iya, Mbah, tapi kok rumahnya tutup ya. Amira ke mana. Dia juga tidak bisa dihubungi. Aku jadi khawatir sama dia, Mbah," jelas Amira.
"Oh, Amira sedang di rumah sakit. Kemarin siang katanya ada orang yang mau mencuri di rumah Amira. Pas itu Amira sendirian di rumah. Kejadiannya siang siang pas kami semua sedang di sawah dan juga pada tutup pintu semua. Tidak ada yang melihat dengan jelas, hanya temannya dari kota yang tahu kejadian itu."
Tata tampak terkejut, tak percaya dengan kabar tersebut. "Ada pencurian di rumah Amira? Kalau sekarang sampai di rumah sakit mana?"
"Di umum kata teman yang bawa Amira. Kemarin temannya itu datang ke sini ambil tas dan ketemu Mbah. Dia bilang kondisi Amira sekarang masih belum sadar dan minta tolong untuk mengabarkan ke Pak RT kejadian pencurian di rumah Amira."
"Mbah tahu di mana kamar tempat Amira dirawat?"
Mbah Gimin menggeleng. "Tidak tahu, Ta. Kemarin temannya Amira itu cuma ngasih nomor telepon dia, kalau ada apa-apa suruh hubungi. Siapa ya namanya Mbah lupa. Maklum sudah tua, Mbah pikun kadang-kadang. Sudah, kamu telepon saja itu temannya Amira. Tanya di mana tempat Amira dirawat. Mbah juga mau menengok ke sana."
Tata menerima nomor telepon yang ditulis di secarik kertas dan disimpan oleh Mbak Gimin di bawah taplak meja ruang tamunya. Memang orang tua itu tidak punya ponsel jadi, hanya menyimpan lipatan kertas itu dan menyerahkan pada tata untuk disalin kemudian ia pamit undur diri.
Tata langsung menelepon nomor tersebut, menanyakan kabar Amira dan juga di mana tempat sahabatnya itu dirawat. Karena ia ingin menjenguk malam ini juga, sekarang sudah mau magrib.
***
Saka menerima panggilan dari nomor baru yang tidak ia kenal. Ia tidak kaget, karena ia berpikir mungkin saja dari orang atau tetangga Amira. Mengingat ia menitipkan nomor teleponnya pada tetangga Amira.
"Ya, halo," jawab Saka begitu suara perempuan di seberang sana menyapa.
"Ini benar dengan temannya Amira?" tanya Tata di seberang sana hati-hati, dan ia tidak menyangka bahwa teman Amira itu laki-laki. Ia kira temannya itu perempuan sama seperti dirinya.
"Iya benar, dengan siapa ya?"
"Saya Tata, temannya Amira. Kalau boleh tahu Amira dirawat di kamar mana ya? Soalnya saya mau menjenguk Amira."
"Oh gitu. Di kamar Sedudo."
Tata paham dan ia pun segera mengakhiri panggilan tersebut, agar ia bisa segera berangkat. Sekarang sudah pukul enam lebih lima belas menit. Ia berangkat sekarang agar tidak kemalaman pulangnya.
Karena berada di ruang Sedudo, berarti Amira harus lewat belakang karena posisi ruangan itu ada di paling belakang, atau di bagian utara.
Setelah mencari sejenak dan melongokkan kepala dari jendela kaca untuk melihat pasien di dalam, Tata akhirnyan menemukan di mana ruangan Amira. Gadis itu sedang tertidur entah karena obat atau memang masih belum sadar seperti kata Mbah Gimin tadi. Begitu ia masuk, Tata dapati seorang laki-laki menyambutnya.
"Permisi, saya yang menelpon tadi. Saya Tata." Ia memperkenalkan diri.
Saka agak terkejut, rupanya perempuan yang datang adalah perempuan yang sempat ia abadikan dalam ponselnya. Ternyata perempuan itu adalah teman Amira. sungguh Takdir memang sedang berpihak padanya. Begitu Saka ingin mencari tahu soal saksi atas apa yang terjadi pada Amira, Tuhan mempertemukannya dengan orang tersebut.
Saka tersenyum menyambut teman Amira tersebut. Selain ia bahagia karena akhirnya ada orang yang menjenguk Amira, ia juga bahagia karena titik terang mencari pelaku sudah di depan mata. Ia tinggal mengorek informasi pada perempuan yang memperkenalkan diri bernama Tata. Saka berharap semoga saja saat itu tata sempat berpapasan dengan laki-laki berbaju hitam dan setidaknya mengenali.
"Ayo silakan masuk." Saka mempersilakan Tata masuk dan duduk di kursi samping ranjang Amira. Gadis itu tampak terlelap dan Amira tak bisa membendung rasa sedihnya.
"Aku dengar ada pencurian di rumah Amira. Tadi Mbah Gimin kasih tahu."
Tata menoleh pada Saka, laki-laki yang kini berdiri di dekat ranjang Amira berseberangan dengan Tata duduk.
"Iya, aku tidak tahu tepatnya orang itu hendak mencuri apa. Tapi waktu aku datang dia sudah membawa Amira dengan motor. Dan saat aku lihat rumahnya, tidak ada barang yang sempat diambil sepertinya. Entahlah, aku sudah minta ke Mbah Gimin untuk melapor pada Pak RT."
Tata mengangguk. "Kasihan ya, Amira. Bagaimana bisa dia mengalami hal seperti ini. Memangnya orang tua Mira tidak di rumah?"
Saka menggeleng. "Tidak, tapi aku sudah menghubungi orang tua Amira. Katanya malam ini sudah sampai di rumah. Tidak tahu langsung ke sini atau mampir ke rumah dulu, karena aku juga bilang Amira baik-baik saja Hanya tinggal menunggu dia sadar."
"Apa sejak masuk dan sampai sekarang Tata belum sadar juga?"
Saka menggeleng. "Dia belum sadar juga."
***
Sementara itu di kamar lain, seorang laki-laki tengah sibuk dan panik melepas bajunya. Membungkus dalam kantong kresek dan membawanya ke teras depan. Dari belakang ia ambil minyak tanah yang biasa dipakai untuk bakar-bakar sampah, pun korek api di meja.
Membakar jejak ia lakukan. Layaknya keseharian masyarakat sekitar yang membakar sampah masing-masing. Kegiatan laki-laki itu tak akan dicurigai. Bahkan dengan perasaan yang mulai tenang, ia duduk jongkok sambil melihat apo melahap naju hitam yang ua kenakan dalam kantong kresek dilalap si jago merah.
Meski usahanya gagal, tapi ia sedikit lega. Orang yang mengancam karir dan hidupnya kini sedang koma. Begitu yang ia dengar tadi. Untung saja ia pakai penutup wajah, jadi wajahnya tak akan ketahuan Amira. Bisa gawat jika Amira mengenalinya. Meski sempat ia lepas penutup wajah karena ia kabur di jalanana desa, helm membuatnya aman dari identitas yang akan dicurigai. Suara. Ah, untung saja ia bisa memakai suara lain. Ia pernah bermain peran saat SMA. Ia belajar suara lain karena saat itu ia dapat peran yang berbeda jauh dengannya. Rupanya ada gunanya juga ia dulu ikut banyak ekskul saat sekolah.
Kobaran api melahap makin keras pada kostum hitam di depannya. Hari sudah gelap. Asap membubung ke angkasa. Lampu-lampu sepanjang jalan dinyalakan. Begitu bakarannya tinggal sedikit, ia meninggalkannya masuk ke rumah.
Di dalam, ia mengambil ponsel. Mengetikkan pesan pada perempuan pujaan hatinya. Meminta waktu bertemu beberapa jam lagi. Mumpung suami sang kekasih yang bekerja di luar kota dan pulang sebulan sekali itu, tak akan ada di rumah. Adik sang kekasih juga sedang jalan ke rumah temannya. Jadinya ia akan aman di rumah berdua. Sengaja ia akan datang malam, agar mata-mata tetangga tak jelalatan kepo.
***
Hanya jilatan, awalnya. Namun tetap saja membuat Agustina menjerita tak karuan. Sang kekasih terlalu memanjakannya. Bahkan meski ia hanya telungkup di meja, dengan satu kaki dinaikkan. Membuat bongkahan kembar dan lubang merah berkerut itu tampak indah di mata sang kekasih. Lubang garis di bawah kerutan tampak basah karena jilatan membabi buta.
"Sayang, masukan."
Agustina memelas. Ia sudah lelah menahan. Telungkup di meja dengan menahan jeritan dan panas membakar di bagian bawah yang berkedut.
"Kamu tak sabaran sekali."
Laki-laki itu membalik tubuh Agustina. Telentang di atas meja makan yang tadinya mereka gunakan untum makan sayur sop dengan lauk ayam goreng ungkep. Sudah tandas, giliran memakan yang lain.
"Iya. Aku nggak pernah sabar kalau sama kamu."
Agustina pasrah begitu kedua pahanya dilebarkan. Dengan tatapan nakal, laki-laki itu meneliti tubuh sintal istri orang yang kesepian ditinggal kerja.
"Masuk sekarang?"
Agustina mengangguk semangat. Tidak. Laki-laki itu tak mengabulkan semudah itu. Ia menunduk lalu menuju inti perempuan itu. Menjilat bagian tengah yang menonjol. Mengulum pelan lama-lama semakin kuat. Membuat perempuan yang belum punya anak itu menjerit sambil menjambaki rambut sang kekasih gelap.
"Ah, jangan."
Laki-laki itu tak menggubris. Ia masih asyik dan terlalu asyik menggoda inti sang pujaan hati. Basah, merekah, hangat dan tentunya membuat kekasihnya akan semakin berteriak nikmat.
Napas Agustina terengah karena baru saja ia keluar. Hanya karena lidah. Belum batang panjang yang lebih berurat dan panjang dari milik suaminya. Kesukaannya.
"Kamu keluar, Yang."
Agustina mengatur napas. "Gara-gara kamu."
Sang lelaku tersenyum. Ia menunduk dan memagut bibir sang kekasih yang penuh. Ciuman keduanya semakin panas. Tanpa melepas pagutan, keduanya berjalan terseok menuju kamar.
Agustina telentang, diikuti sang lelaki yang berbaring di atas tubuh Agustina. Menindih, memagut, berdecap, dan turun ke dua gundukan sekal. Kedua tangan sang lelaki meremas, mengecupi pucuk kecokelatan.
Agustina mendesah nikmat. Terlebih kala kedua pahanya dibuka lebar dan ditekuk di samping. Batang itu menggoda sejenak untuk dibasahi. Hingga melesak masuk tanpa kesulitan. Agustina menahan napas sejenak begitu benda tumpul itu menyodok sampai ke dalam. Pagutan dan lesakan datang beriringan. Membuat Agustina kelabakan tak karuan.
Ritme yang pelan berubah semakin cepat. Laki-laki itu bahkan tak segan menusuk Agustina sambil memainkan biji keras di bagian inti. Tak dipungkiri Agustina menjerit, mendesah, berteriak agar lelaki itu semakin brutal menghabisinya. Ia hampir sampai, tapi laki-laki itu mencabutnya.
Agustina kecewa.
"Sayang, kenapa menyiksaku sih. Aku mau keluar nih." Agustina merengek dengan napas terengah.
Laki-laki itu menempelkan telunjuk ke bibir sang kekasih.
"Tenang, aku buat kamu keluar lebih banyak."
Jari itu merambat ke d**a, perut, dan tiba di pusat. Dimasukkan dua jari dan mengorek isinya. Satu tangan lelaki itu menahan paha Agustina agar tetap terbuka.
Seiring teriak dan jerit Agustina, seiring pula dengan cepatnya dua jari bergerak cepat di dalam inti. Mengorek isi, menarik kenikmatan, dan membuat gelombang itu datang dalam bentuk lelehan.
Puas, Agustina terengah. Sang lelaki tersenyum senang.
"Kamu suka?" bisik lelaki itu sambil memelintir pucuk Agustina yang menegang.
"Kamu ih, sukanya bikin aku enak.
Agustina menangkup pipi sang kekasih yang ada bekas luka di sana. "Tapi kamu belum keluar."
"Hem. Asal kamu enak duluan, aku bisa belakangan."
Agustina memukul manja d**a bidang sang kekasih. Sang lelaki memerangkap tubuh berkeringat itu. Membaliknya cepat. Turun ke bawah dan memposisikan lutut Agustina menumpu tubuh. Kedua paha dilebarkan. Bagian tengah yang basah dengan lelehan itu merekah indah.
Langsung saja, lelaki itu menghujam Agustina dari arah belakang sambil menjambak rambut sang perempuan agar mendongak. Laki-laki itu bergerak cepat, keras, dengan Agustina yang mendongak dan lutut menahan sodokan dari belakang.
"Yang, yang."
Lelaki itu hampir sampai. Yang artinya Agustina semakin kuat menahan deru sang kekasih yang mempercepat gerakan.
Kedua gundukan Agustina diremas sambil bagian bawahnya terus dibombardir dari belakang. Ia juga tak tahan akan keluar.
"Sayang, keluar bareng."
Keduanya mereguk nikmat hingga kemudian ambruk. Agustina tengkurap, dan laki-laki itu berguling ke samping.
"Kapan suami kamu pulang?" tanya lelaki itu.
"Minggu depan. Dia pulang seminggu."
Lelaki itu tampak menerawang langit-langit kamar Agustina. Kamar yang sering ia jadikan tempat olahraga malam seperti saat ini. Kadang juga di rumahnya yang masih kontrak. Ia bukan warga asli kota tersebut. Karena urusan kerjaan, ia jadi pindah kerja dan kontrak rumah di daerah Agustina.
"Kamu bakalan dipakek semingguan."
Agustina menoleh ke arah kekasihnya. "Yah, dia sebulan sekali baru pulang. Wajar, tapi bikin capek."
"Kamu jadi enak. Kenapa capek."
"Maunya sama kamu," jawab Agustina yang membuat laki-laki itu memiringkan badan.
"Setelah suamimu balik lagi, kamu masih sanggup sama aku?" godanya.
"Masih lah. Aku nggak pernah ngecewain kamu kan." Agustina mendekat dan tiduran di lengan laki-laki itu.
Keduanya saling mendekap sejenak, sebelum sang lelaki benar-benar pulang. Sebentar lagi adik Agustina pulang dari jalan dengan teman-temannya. Jika tak mau ketahuan, keduanya harus segera memberesi kekacauan dari dapur hingga kamar. Tak masalah, toh bukan kali pertama. Bahkan Agustina pernah membuat kekacaun dengan laki-laki itu saat adiknya di rumah.
Adik Agustina lihat TV, dan dua sejoli itu asyik bergelung di dalam kamar. Untung saja suara music dari sound sistem di kamar Agustina milik suaminya bisa meredam keriuhan pasangan tersebut. Setelahnya, sang kekasih kabur lagi lewat jendela kamar.
Nekat, iya. Maka dari itu laki-laki tersebut begitu panik kala dirinya sempat terbidik kamera Amira saat ia dan Agustina sedang jalan bareng.
________