5. Menjenguk Amira

2111 Words
Rayan melepas topi yang ia kenakan. Merapikan rambut, lantas ia melirik pada Tata yang sudah bersiap dengan tasnya. Keduanya berencana menjenguk Amira lepas kerja. Sudah pukul empat. Depot sudah tutup karena habis lebih cepat dan segala kerepotan setelah depit tutup; mencuci peralatan, membersihkan meja, menaruh barang pada tempatnya, mencatat dagang titipan hari ini, menyapu semua bagian sudah dilakukan masing-masing. Tinggal pemilik depot dan anaknya yang masih di depot menunggu orang-orang yang mengambil keuntungan jualan hari ini. Selain masak sendiri, ada kue basah dan camilan yang dititip tiap harinya. Batas waktu sampai habis Magrib diambil keuntungan, sisa dan tempat jualana. Setelah itu depot benar-benae tutup. Urusan uang sudah bukan bagian karyawan seperti Rayan dan Tata. "Naik motor sendiri-sendiri?" tanya Rayan. "Iya. Nanti aku langsung pulang." Padahal Rayan berharap bisa satu motor dengan Tata. Harapan sederhana yang tidak atau lebih tepatnya belum bisa ia wujudkan. Menyukai seseorang yang tak menganggapnya, rasanya memang menyakitkan. Namun Rayan bertahan. Ia tetap dekat dengan Tata. Toh, tak bisa memiliki sebagai kekasih pun ia sudah senang sebagai teman Tata. Keduanya pun segera bersiap di parkiran. Rayan menaiki motornya dan menghampiri Tata yang masih memasukkan barang du jok. "Helm mu, nih. Aku bawa pulang lagi nanti," kata Tata sambil menyerahkan helm yang ia pinjam untuk Saka kemarin. Ia kemaren ke kontrakan Rayan untuk meminjam benda itu. Bagaimanapun meski rumahnya desa, tetap saja menjemput Saka masih di area kota. Bisa kena tilang tiba-tiba kalau tak pakai helm. Mana dia punya cukup duit untuk menanggung resiko membawa Saka. "Ah iya ya. Sini." Rayan menerima helm dan membuka jok. Menautkan di samping. Karena jika dimasukkan pun tak muat. Tata melajukan motor lebih dulu meninggalkan area parkir di dalam, khusus untuk karyawan depot. Rayan mengikuti dari belakang. *** Di ruangan berisi satu pasien, Amira, tampak penuh. Bahkan sebagian ada yang duduk di teras depan ruangan. Teman kerja Amira dari SD tempat Amira mengajar pada datang menjenguk. Mereka semua beberapa masih mengenakan seragam mengajar warna abu-abu tua. "Kami semua turut prihatin, Pak. Saya juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Kapan hari Bu Amira sempat tidak masuk, tapi tidak ada izin. Saya kira mungkin tidak enak badan dan lupa mengabari sekolah. Hari itu juga banyak yang tidak masuk. Selain ada yang ikut rapat di gugus, juga ada guru yang dikirim pelatihan. Sebagian ada yang tidak ada kabar seperti Bu Amira. Ternyata malah ada musibah seperti ini." Pak Abidin mengangguk. "Benar, Bu. Saya juga tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini." Bu Narsih, kepala sekolah tempat Amira bekerja mendekat dan memeluk ibu Amira. "Yang sabar, Bu. Semoga Bu Amira segera sadar." Ibu Amira sedikit terisak. "Terima kasih, Bu. Terima kasih juga sudah menyempatkan menjenguk Amira. Maaf kalau di sekolah dia suka ngrepoti." "Ah, tidak masalah, Bu. Bu Amira juga teman kerja kami yang baik." Pak Adi, Bu Narsih beserta anaknya yang guru di sekolah lain, Bu Tami yang membawa suami, Pak Sugeng, dan Bu Rini yang membawa anak yang menjadi murid Amira pun segera pamit secara bergantian. Meski tidak semua personil jajaran guru ikut datang menjenguk, keluarga Amira sudah senang sekali mendapat kunjungan tersebut. Setelah berpamitan pulang, barulah Tata dan Rayan ganti masuk. Tata meletakkan bingkisan yang ia beli tadi saat berangkat dan sempat disimpan di jok motor. Rayan di belakangnya tak membawa bingkisan, tapi menyiapkan amplop dalam sakunya. "Pak Lek, Bu Lek, gimana kabar Amira?" Pak Abidin menatap putri yang masih tertidur lelap di ranjangnya. "Belum ada tanda dia pengen bangun. Amira masih enak di alam mimpinya, Ta." Rayan yang melihat Amira tergolek tak berdaya menjadi prihatin. Ia kenal Amira, tentu saja. Kadang saat ia bersama Tata, Amira akan ikut nimbrung juga. Kadang mereka makan bertiga. Amira anak yang mudah bergaul dan menyenangkan. "Kira-kira kapan Amira bisa sadar menurut dokter?" tanya Rayan yang merindukan masa berkumpul kembali dengan Amira juga Tata. Pak Abidin menggeleng. "Tidak bisa diprediksi. Masa kritis sudah lewat. Luka juga sudah ditangani. Tapi Amira masih belum ingin bangun. Kita berharap saja, semoga ada keajaiban." Ibu Amira yang duduk sambil memegang tangan anaknya terisak lagi. Rayan yang melihat hal tersebut mendekat dan menenangkan, sementara Tata masih mengobrol dengan Pak Abidin. Mereka berempat mengobrol sampai Magrib menjelang dan kedua tamu itu pun pamit undur diri. Sebelum keluar, Tata dipanggil Pak Abidin. "Ta?" "Ya, Pak Lek." "Saka gimana? Dia kesulitan tidak di rumah kontrakan?" Tata belum mendengar kabar lagi dari Saka. Pastinya laki-laki itu baik-baik saja. "Dia aman kok, Pak Lek. Kenapa?" Pak Abidin hanya mengulas senyum. "Ndak. Kasihan saja Saka itu jauh-jauh dari Jakarta tapi aku nggak bisa menjamu dengan baik." Tata jadi kepo pada akhirnya. "Dia keponakan Pak Lek ya?" Pak Abidin menggeleng. "Bukan. Dia mantannya Amira di Jakarta dulu. Sepertinya sebelum ini Amira sudah menghubungi Saka. Untung saja dia datang di saat yang tepat." Tata agak kaget. Rupanya mantan Amira. Mantan yang bucin apa belum move on? Tata berdecih dalam hati. Melihat kenekatan Saka dari Jakarta ke Nganjuk dan menjadi saksi tunggal penculikan Amira, membuat Tata salut juga. Bisa ya, laki-laki itu datang bak pahlawan kesiangan menolong Amira. Tapi, ya sudahlah. Soal hubungan Amira dan Saka di masa lalu juga tak berpengaruh padanya. Lagian Amira juga tak cerita soal Saka padanya. Jadi, Tata anggap keberadaan Saka hanya masa lalu. Tak perlu diingat Amira. Saka saja yang bucin, pikir Tata. "Tata nggak pernah cerita soal dia." Pak Abidin mengerti. "Mungkin karena merasa ia harus melupan Saka. Hubungan mereka dulu baik. Bahkan orang tua juga baik. Ibu Saka menyayangu Amira seperti anaknya sendiri. Sama seperri Saka yang sudah aku anggap anak sendiri. Bahkan keduanya berencana menikah tapi nggak jadi." "Kenapa begitu?" "Karena Amira sendiri yang memutuskan hubungan mereka. Dia tidak mau hubungan jarak jauh karena kami pindah ke sini. Dan dia juga tidak bisa berjauhan tinggal dengan kami jika menikah dan ikut dengan Saka. Begitulah, semua salahku. Kenapa harus dipindah kerja. Malah mengorbankan Amira dan Saka." Tata jadi paham. Mereka pisah karena keadaan, bukan karena pertengkaran. Pantas saja hubungan keduanya masih baik-baik saja. Tak ada kecanggungan, tetap menyayangi dan peduli. *** Pagi-pagi Saka bangun dan mengisi timba dengan air. Ia segera mandi. Tanpa sabun dan perlengkapan lain tentunya. Karena ia tak membawa barang-barang sekomplit itu seperti kaum perempuan. Segar badannya, ia buka pintu rumah. Udara lembab karena lama tak dihuni, agar berganti udara segar masuk ke dalam. Setelah terkatung-katung dua hari di rumah sakit, kini ia baru bisa merasakan tidur nyenyak dan udara segar pedesaan. Bukan udara rumah sakit. Ia putuskan berjalan-jalan di sekitar. Melewati jalanan panjang yang dipenuhi kesibukan masing-masing. Anak-anak kecil berlarian belum mandi, ada yang baru mandi dan mukanya dibedaki tebal serta tal rata, ibu-ibu yang menyuapi anaknya sambil ikut lari, bergosip, sambil menggendong, dan sebagian wanita tampak sedang menyapu halaman, menjemur baju, atau bersiap di depan rumah dengan tas anyaman. Mereka adalah buruh tani yang nantinya akan diangkut je truk pemilik sawah. Mengerjajan sawah bersama buruh lainnya. Petang baru pulang. Jadi mereka kadang membawa bekal sendiri. Entah minuman, cemilan atau baju. Meski di sana nanti juga mereka akan dikirim makana dari pemilik sawah. Jalanan tampak lalu-lalang baik sepeda atau motor. Truk, mobil bak terbuka, tossa, dan sedikit sekali mobil pribadi lewat. Anak-anak tampak riang berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda. Dikayuh dengan membentuk barisan memanjang dua orang. Saka merasa kagum. Di tahun sekarang, masih saja ada anak sekolah yang mengendarai sepeda. Di kota, anak SMP saja sudah naik motor atau diantar. SMA saja tanpa SIM sudah berani naik mobil ke mana-mana. Saka berhenti kala melihat warung makan dari bambu. Terlihat tua, tapi tidak reot. Ia masuk. Seorang penjual nenek-nenek setengah bungkuk menyapanya. "Monggo." Yang berarti silahkan. Saka duduk. Di sana ada satu orang bapak dengan baju kaus lusuh dan topi petani dari anyaman diletakkan di samping. Tampak memyeduh kopi yang tinggal sedikit. Piring di depannya sudah habis dimakan. Menu yang hanya satu macam saja di warung macam ini. Yakni, nasi pecel. "Makan satu, Mbah." Nenek penjual segera melayani. Mengambil dua centok nasi penuh, setangkup sayuran yang ia ambil dengan tangan langsung. Sayuran itu terdiri dari kacang panjang, bayam dan kecambah rebus. Setelahnya dituangkan sambal pecel di atasnya. Menambahkan tahu dan tempe goreng serta rempeyek sebelum mengangsurkannya ke Saka. Melihat nasi tersebut, mata Saka berbinar. Kemarin ia makan terakhir saat sore menunggu Tata datang. Ia sempat beli nasi bungkus di dekat rumah sakit. Duduk menunggu Tata di dekat pos satpah ia habiskan dua gelas es teh karena haus dan panas. Sampai malam ia tak makan dan langsung tidur. Mau bertanya pada Tata, tak enak juga. Ia lihat Tata juga capek baru pulang kerja. Daripada mengurusi perut, ia lebih tertarik mengurusi tubuhnya yang ingin segera dibaringkan. *** Pulang ke rumah, Tata mendapati Saka duduk di teras rumahnya. Ia membuka helm dan mengernyit heran. Kenapa juga manusia bucin mantan Amira duduk santai di teras rumahnya? "Ada apa?" tanya Tata begitu melepas helm dan duduk di kursi seberang. Terhalang meja di tengah. Saka mengulas sedikit senyum. "Ta, aku boleh minta tolong nggak?" Cara memanggil nama Tata, terdengar akrab sekali. Tata jadi agak aneh. Ia belum mengenal dekat laki-laki di dekatnya ini. "Hem. Soal apa?" "Bisa anterin aku cari motor second? Aku nggak tahu daerah sini. Dan aku sedang butuh kendaraan untuk ke mana-mana." Tata agak terkejut. Kenapa juga Saka butuh kendaraan. Memang dia nggak butuh balik ke rumahnya di Jakarta sana? "Kamu butuh kendaraan buat apa? Lagian mau ke mana, lha wong kamu aja nggak ngerti jalan sini." Tata sangsi dengan keinginan Saka tersebut. "Makanya aku butuh kamu buat temani aku. Kasih tahu jalan di daerah sini, ke rumah sakit Amira atau ke tempat kerja kamu." Tata agak terkejut. Benar-benar bucin level akut Saka ini, menurur Tata. "Eh bentar. Kita kok kayak akrab banget ya. Kamu jadi kayak enak aja gitu minta tolong aku, padahal juga kenal baru kemarin." Tata sewot. Ia agak keberatan dengan benalu macam Saka ini. Dia yang bucin, tapi dia ngrepoton dirinya juga. Saka jadi meringis tak enak. "Maaf, Ta. Aku bener-bener nggak punya kenalan di sini. Amira sedang koma, dan orang tua Amira juga nggak enak aku ngrepotin mereka lagi. Boleh ya?" rajuk Saka yang membuat Tata kesal tapi tak berdaya. Ia akan lakukan ini demi Amira. Mengingat budi baik Saka yang sudah menolong Amira dan membawa ke rumah sakit dengan cepat. Menghela napas kasar sambil tangan bersedekap. "Iya, iya. Aku masuk dulu. Mandi, bau. Kamu juga pulang sana. Nanti aku ke rumah kamu." Saka girang. Ia pun segera pamit. Tata masuk ke rumah dan mendapati ibunya yang keluar dari kamar mandi. "Loh, udah pulang? Eh tadi ada yang cari kamu. Katanya temen Amira dan ngontrak di rumah Pak Abidin." Tata mengangguk malas. "Iya. Udah aku temui dan dia juga udah pulang kok, Buk." "Nggak kamu bikinkan minum?" Tata menggeleng. "Buat apa? Kayak tamu aja." Tata nyelonong masuk kamar, tak menghiraukan panggilan ibunya yang merasa Tata tak sopan pada tamu. *** Laki-laki itu menatap foto perempuan di ponselnya. Diam-diam, ia menyukai gadis itu, namun perasaannya tak dianggap serius. Tak patah arang, ia tetap berharap. Di saat ia putus asa, Agustina datang mengobati rasa sepinya. Diterima kerja di kota ini, membuat laki-laki itu masih asing dengab daerah baru. Kontrakan yang ia dapatkan saja hasil tawaran dari teman kerjanya sekarang, meski letaknya lain kecamatan dengan tempatnya kerja. Tak mengapa, toh tak sampai berjam-jam. Malam ini ia merenung di teras rumahnya. Rokok ia nyalakan. Sudah seminggu sejak kejadian itu berlalu. Perempuan yang menjadi korbannya masih dirawat. Kapan lalu ia menjenguk dan memastikan keadaan perempuan itu masih terbaring lemah. Belum membuka mata, ataupun bisa ingat kejadian dengannya. Jika sadar, ia juga yakin Amira bakal mengenali dirinya. Saat itu ia memakai baju serba hitam, suaranya ia ubah tak seperti biasa, dan barang bukti sudah ia lenyapkan semua. Tinggal ia memastikan barang bukti fotonya dengan Agustina terhapus. Kemarin ia tak melihat ponsel Amira di kamar rumah sakit. Tapi sepertinya ponsel itu tak sampai dibawa ke rumah sakit, mengingat Amira terakhir bersamanya di kebun. Dan saat ia melewati rumah Amira kapan hari, rumah itu belum terjamah orang. Halamannya masih tampak rusuh. Atau mungkin ponsel itu masih ada di kamar Amira. Benar. Laki-laki itu yakin. Apa ia coba keberuntungan sekali lagi saja ya. Pergi ke rumah Amira yang sedang tak ada orang. Soal sandi, ia bisa minta tolong temannya yang bisa membobol sandi ponsel. Baiklah, rencana sudah di tangan. Tinggal eksekusinya saja. Mumpung Agustina tidak sedang minta belaiannya. Perempuan mantan penyanyi karaoke dan jago menggoyangnya itu sedang kedatangan suaminya. Jelas Agustina sibuk menggoyang suaminya, ketimbang menghubungi dirinya. Ia bisa bernapas sejenak. Tapi, ia juga merindukan perempuan itu kalau malam sepi seperti ini. Biasanya ia akan memadu kasih. Lumayan membuang stres setelah seharian ia kerja. Belum laginia sering dibelanjakan Agustina. Usianya yang lebih muda tiga tahun dari Agustina, membuat perempuan itu seolah menjadikannya berondong manis yang bisa ia kuasai. Ah, tak masalah. Toh, sama-sama nikmat juga. ______
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD