“Bara, kamu harus tahu siapa yang tadi datang ke rumah kita!” Seru Anita. Bara menautkan alisnya, “memangnya siapa yang datang?” “Bos-nya Flora,” jawab Anita dramatis. Bara mematung. “Bos… nya Flora?” “Iya!” Anita mengangguk cepat. “Seorang perempuan… cantik, rapi, pakaiannya mahal. Sampai ibu nggak bisa berhenti ngeliatin tasnya—kayaknya harga tasnya saja bisa buat bayar kontrakan setahun!” Bara mengerutkan kening. “Terus? Dia mau ngapain kesini?” Bara sama sekali tak memikirkan bagaimana kehidupan Flora sekarang. “Dia bilang mau ambil dokumen-dokumen Flora.” Bara terbelalak. Nafasnya tercekat. “Dokumen?” gumamnya. Ia menelan ludah. “Aku… kan udah bakar semuanya, Bu.” Anita mendecak. “Iya, makanya ibu bilang ke dia, dokumennya sudah nggak ada!” Bara perlahan duduk di kursi. “B

