Anita tersentak kecil. Matanya membesar. “Flora?” Suaranya keluar begitu saja, spontan, tanpa filter. Wanita itu. Nyonya Flora, berhenti melangkah. Ia menatap Anita dengan ekspresi datar, keningnya sedikit berkerut. Seolah kalimat Anita barusan tidak terdengar olehnya. Tatapan Flora menusuk, dingin, tapi terkontrol. “Barusan,” ucap Flora pelan, “kamu mengatakan apa?” Anita langsung panik. “Ti—tidak apa-apa, Nyonya. Saya hanya… menggumam. Maaf.” Flora menatapnya lama. Sangat lama. Tatapan yang membuat Anita merasa seakan Flora sedang membaca sesuatu dalam dirinya atau mengukur keberanian yang barusan ia tunjukkan. Lalu, perlahan, Flora mengalihkan pandangannya dan berjalan melewati ruangan tanpa berkata apapun lagi. Gaunnya berayun lembut. Aroma parfumnya tertinggal di udara. Sosok

