Tepat di bawah video wawancara Noah, ada video postgame interview Igris juga. Entah apa yang mendorong Noah untuk mengklik video itu dan menontonnya di sisa waktu sebelum pelajaran berikutnya dimulai.
Igris menjawab pertanyaan yang disodorkan kepadanya dengan penuh senyum dan kegembiraan yang menggebu-gebu, bahkan nyaris berteriak di depan mikrofon untuk menyaingi hebohnya suasana hall setelah pertandingan selesai.
“Aku senang sekali. Terima kasih kepada pelatih kami, Coach Adam. Para senior di tim Cendana, juga rekan-rekan … baik yang berada di lapangan maupun yang di tribun. Kalian semua hebat. Basket itu nggak dimainkan sendirian, basket dimainkan bersama-sama. Tanpa ada rekan se-tim dan juga dukungan dari kalian, aku mungkin nggak akan bisa merasakan kemenangan di tahun pertamaku di SMA ini.”
Begitulah jawaban yang diberikan Igris untuk satu pertanyaan sederhana dari pewawancara: “Bagaimana perasaanmu setelah kembali memenangkan Liga Rookie?”
Setelahnya, pewawancara tampak puas. Wanita itu bahkan menjabat tangan Igris dengan erat dan penuh rasa bangga, wajahnya pun sangat semringah ketiga ia mengakhiri postgame interview dengan Igris.
Ya … ia hanya melontarkan satu pertanyaan, tetapi Igris sudah menjawab semuanya dengan lengkap sehingga tak ada lagi yang perlu ditanyakan.
Begitulah seharusnya postgame interview dilakukan.
Noah juga sebenarnya ingin mengatakan hal yang sama. Tapi ia sendiri tak tahu kenapa ia tak bisa mengutarakannya dengan baik seperti yang dilakukan Igris.
Ditambah lagi, entah kenapa media sangat suka membuat berita yang menggambarkan sisi negatif Noah. Mereka seperti binatang buas yang selalu mengintai, dan saat Noah melakukan kesalahan sedikit saja, mereka akan langsung meluncurkan berbagai macam jenis tagar dan judul berita yang menyoroti kejelekan Noah. Bahkan tak jarang nama Igris akan dibawa-bawa sebagai perbandingan.
Anehnya lagi, perdebatan tentang perbedaan sikap Noah dan Igris selalu diminati dan ramai dibicarakan. Mungkin itu sebabnya, pembahasan soal Noah dan Igris sering dimunculkan untuk kepentingan komersial. Dan biasanya, berita yang beredar akan dilebih-lebihkan agar terkesan dramatis.
.
Rihan kembali ke kelas saat pelajaran sedang berlangsung, jadi Noah tak bisa bertanya apapun kepadanya. Hanya setelah pelajaran berakhir, Noah akhirnya bisa mengajaknya bicara.
“Gimana?” tanya Noah yang langsung menghampiri meja Rihan bahkan saat guru pelajaran terakhir hari itu masih beres-beres di mejanya dan belum meninggalkan kelas.
Rihan tak langsung menjawab, ia menatap Noah sambil tersenyum hangat, matanya berkaca-kaca tapi ia buru-buru mengendalikan emosinya. “Aku nggak tahu apa yang udah aku lakuin sampai aku bisa dapat teman kayak kamu,” ujarnya kemudian.
“Maksudnya?” Noah yang sudah tak sabar ingin mendengar hasil keputusan dari pihak sekolah, tak mengerti kenapa Rihan mengatakan sesuatu yang ia rasa tak ada hubungannya dengan pertanyaannya.
“Makasih banget, Noah. Kalau nggak ada kamu, entah jadi apa kehidupan sekolahku di Cendana.”
“Iya, sama-sama … Tapi bilang dulu gimana hasil pertemuan tadi. Apa Andi dikeluarkan dari sekolah? Dari klub? Atau cuma di-skors?”
“Kamu nggak usah khawatir, Andi nggak bakal berani gangguin aku lagi.”
“Jaminannya apa?”
“Tadi dia tanda tangani surat pernyataan, kalau dia sampai ngulangin perbuatannya lagi dia bakal langsung dikeluarkan dari Cendana …”
“Itu aja nggak cukup!”
“Dengar dulu,” sela Rihan cepat, “Kepala Sekolah sendiri yang bilang, kalau sampai dia dikeluarkan dari sekolah karena masalah yang sama lagi, maka anggap aja karirnya di dunia olahraga udah tamat dan dia harus membayar kompensasi untuk semua kerugian yang dialami korbannya.”
Mendengar penjelasan Rihan, sebenarnya Noah masih merasa itu semua belum cukup. Tapi, ia pikir percuma saja mengungkapkan ketidakpuasannya kepada Rihan. Temannya itu mungkin baru pertama kali merasa lega dan aman berada di sekolah ini – setelah mendapatkan solusi dari pihak sekolah – jadi sebaiknya Noah membiarkan Rihan berpikiran positif demi ketenangan mentalnya.
“Ok,” kata Noah akhirnya, “pokoknya kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri. Ngomong ke aku atau ke siapa aja yang kamu percaya.”
Lagi-lagi Rihan menatap Noah dengan senyum dan mata yang sangat hangat. “Noah, aku benar-benar berterima kasih. Aku nggak tahu gimana cara balas kebaikan kamu. Pokoknya kalau ada sesuatu yang bisa aku bantu, kamu jangan ragu ngomong ke aku, ya?”
Noah mengangguk sambil mengembalikan senyuman kepada Rihan.
“Noah, bareng yuk.” Igris yang baru saja selesai membereskan tasnya, langsung menghampiri Noah dan mengajaknya menuju ke klub basket bersama-sama.
“Rihan sekalian aja bareng. Kan kita searah,” ajaknya juga kepada Rihan.
“Sebenarnya hari ini aku nggak ke klub,” jawab Rihan sambil menunjuk tangannya yang di-gips, “disuruh istirahat dulu selama seminggu. Setelahnya aku boleh ikut kegiatan klub tapi tetap aja belum bisa latihan fisik.”
“Oh … jadi kamu langsung balik ke asrama nih?” tanya Igris lagi.
“Iya,” balas Rihan sambil menyandang tasnya, “kalian latihan yang rajin, ya. Sebagai juara regional, daripada sibuk ngurusin aku, mending kamu fokus buat menghadapi Kejurnas.”
“Ok, hati-hati, ya.” Igris bicara kepada punggung Rihan yang sudah nyaris melewati pintu kelas, dan Rihan hanya mengacungkan jempolnya sebagai balasan.
“Sampai ketemu besok,” pamitnya sambil lalu.
Setelah Rihan meninggalkan kelas, Noah pun kembali ke mejanya untuk membereskan buku dan alat tulisnya yang tadi ia biarkan begitu saja karena tergesa-gesa ingin bicara dengan Rihan.
“Kalian akrab banget, ya. Udah kenal lama?” Igris memutuskan untuk bertanya saat ia hanya berdiri di pinggir; mengamati Noah yang sedang menutup resleting duffel bag sebelum kemudian menyandangnya – belakangan ini Noah lebih sering menggunakan duffel bag ke sekolah karena tak mau meninggalkan barang-barangnya di loker lagi.
“Nggak, baru kenal pas di Cendana,” sahut Noah sambil berlalu. Ia membiarkan Igris merendengi langkahnya keluar kelas dan bersama-sama menuju ke Sport Section.
“Oh … wah, tapi kamu kelihatan peduli banget sama dia. Aku jadi curiga, apa kalian saudara yang udah lama terpisah?” canda Igris sambil tertawa garing.
Melihat Noah yang tak ikut tertawa dengannya, Igris sadar bahwa Noah tak menganggap candaannya itu lucu. Akhirnya Igris pun memutuskan untuk diam saja di sebelah Noah selama perjalanan mereka menuju ke aula basket.
Sebenarnya Noah bukan merasa kesal dengan candaannya Igris, ia hanya tak begitu mendengarkan ocehan roomie-nya itu. Sejak tadi, Noah masih kepikiran dengan perkatan Rihan.
Rihan terlihat sangat berterima kasih, bahkan sampai bertanya-tanya kenapa Noah bisa sebaik itu padanya. Padahal bisa dibilang pertemanan mereka baru seumur jagung.
Ya … kalau dipikir-pikir lagi, Noah memang peduli dan prihatin dengan masalah Rihan. Tapi apa yang membuatnya bergerak untuk membantu sampai sejauh ini, sebenarnya adalah untuk dirinya sendiri. Ia hanya ingin meringankan rasa bersalahnya kepada Fajar. Ia ingin memperbaiki apa yang tak bisa ia perbaiki sebelumnya.
Dengan membantu Rihan, Noah merasa ia juga sedang membantu dirinya mengatasi trauma yang ia alami setelah kematian Fajar. Setidaknya kali ini ada yang bisa ia lakukan untuk membantu.
Setidaknya … kali ini ia tak akan menyesali ketidakberdayaannya. Ia tak perlu mendengar kabar buruk yang tiba-tiba, lalu hanya bisa memenuhi kepalanya dengan pertanyaan “kenapa?” atau terus-menerus berpikir “andaikan saja begini, andaikan saja begitu.”
Kali ini, pundak Noah terasa lebih ringan dan ruangan di balik rongga dadanya terasa lebih lapang. Rasa sesak yang selama ini dirasakan Noah pun perlahan mulai menghilang.
“Ng … hari ini cerah, ya. Kayaknya nggak bakal hujan deh.” Igris membuka suara untuk memecah suasana canggung ketika mereka sudah keluar dari gedung dan sedang menyusuri jalan setapak yang menuju ke Sport Section.
Tapi Noah masih tak menunjukkan tanda-tanda untuk masuk ke dalam obrolan pancingan yang dibuat Igris.
Hingga kemudian Igris berhasil mengumpulkan keberanian untuk langsung masuk ke inti persoalan yang ingin dibahasnya. “Kamu lihat polling yang dibuat orang-orang kurang kerjaan di medsos, gak? Haha … kadang-kadang orang suka bikin drama ya. Yang nggak ada diada-adain gitu. Biasanya yang nge-vote itu sih ya dia-dia juga orangnya. Jadi mending gak usah ditanggapin deh yang begituan.”
Mata Noah bergerak melirik Igris melalui ekor matanya. Akhirnya ia paham kenapa Igris memaksakan diri bersikap ramah kepada Noah sejak tadi. “Aku yang harusnya bilang gitu,” balas Noah, “ngapain mikirin hal gak penting kayak gitu. Kalau aku sih nggak peduli.”
Igris tertawa lebar sambil menghela napas lega. “Bagus deh kalau gitu. Soalnya aku takut kamu jadi kepikiran, aku ngerasa gak enak. Jadi kita teman, kan?”
“Aku bilang aku nggak mikirin omongan orang. Bukan bilang kita teman.”
“Hei, kamu kayaknya beneran nggak suka banget ya sama aku?” Igris tak mau bersusah payah menyembunyikan ekspresi kekecewaan di wajahnya akibat jawaban Noah barusan.
“Ha?”
“Kenapa sih kamu nggak suka aku?” ulang Igris lagi.
“Jadi kamu ngerasa semua orang harus suka sama kamu?”
“Ya … bukan gitu juga maksudku,” Igris berpikir sejenak sebelum melanjutkan, “soalnya aku kira sifatmu normalnya memang dingin ke orang-orang. Tapi rupanya kamu bisa baik juga ke yang lain, kayak ke Rihan tadi. Jadi, mau nggak mau aku ngambil kesimpulan kalau kamu emang benci sama aku. Sebenarnya aku salah apa?”
“Memangnya siapa yang bilang aku benci sama kamu?”
“Sikapmu itu loh ke aku.” Igris memelas, setengah kesal. “Padahal kita kan sekamar di asrama, kita satu tim di klub basket, kita juga sekelas. Bukannya harusnya kita bisa lebih akrab dari ini?”
Noah menghentikan langkahnya sambil lalu menatap Igris yang ikut berhenti di sebelahnya. “Aku juga nggak tahu kenapa setiap ngeliat kamu aku selalu merasa kesal,” ungkapnya.
“Kok gitu sih? Apa karena perkataan orang yang suka membanding-bandingkan kita?”
“Mungkin itu juga salah satu alasannya.”
“Ya kalau gitu harusnya kamu nyalahin orang yang komentar itu dong. Jangan salahin aku.”
“Siapa bilang aku nyalahin kamu?”
“Ya ini? Buktinya kamu suka kesal kalau ngelihat aku. Berarti kan kamu jadi benci sama aku gara-gara komentar orang-orang.”
“Memangnya kapan aku pernah bilang benci kamu?”
Igris terdiam dengan alis yang berkerut frustasi. Ia tak tahu bagaimana caranya agar Noah memahami apa yang ia coba sampaikan.
“Jadi kamu nggak benci aku kan?” Minimal, Igris merasa ia harus meluruskan hal ini dulu.
“Nggak,” jawab Noah cuek sambil lalu melanjutkan langkahnya.
“Jadi kita …”
“Tapi aku tetap ngerasa bakal sulit main akrab-akraban sama kamu,” timpal Noah kemudian.
“Kamu tahu? Kalau misalnya kita berdua lagi main baseball, lalu entah gimana bola yang kamu pukul mecahin kaca jendela. Gak bakal ada yang percaya kalau itu kamu. Semua orang bakal lebih percaya kalau aku yang mukul bolanya dan mecahin kaca.”
Igris agak terperangah mendengar penjelasan Noah itu. “Ma-maksudnya?” Meskipun sebenarnya ia paham analogi yang diberikan Noah barusan, tapi ia hanya ingin memastikan.
“Maksudnya, selama ada kamu, maka aku yang bakal selalu jadi si anak bandel dan kamu si anak baik.”
“Omong kosong,” sanggah Igris cepat.
“Mau nggak mau, memang gitu kenyataannya. Image kita udah melekat kayak gitu.”
“Ya nggak bisa gitu dong. Barusan tadi kamu bilang nggak peduli sama omongan orang. Kok sekarang …”
Kalimat Igris terhenti di tengah, karena di depan sana – tak jauh dari aula serbaguna – ada beberapa senior kelas 12 yang sepertinya sejak tadi memang sudah menunggu kedatangan Noah.
Dan di antara para senior itu, ada Andi.
Melihat Noah muncul di rute yang memang sudah ia perkirakan, Andi pun langsung berjalan cepat meninggalkan kelompoknya itu, untuk menghampiri Noah dengan wajah yang terlihat sangat marah.