Kuarter kedua hanya menyisakan waktu kurang dari 1 menit lagi, angka di papan skor menunjukkan 32 – 6 untuk keunggulan Cendana. Dharmawangsa hampir putus asa, mereka tak bisa menyerang dan pertahanannya pun mudah ditembus.
Memang sejak awal Dharmawangsa bukanlah tim yang cukup diperhitungkan, namun tetap saja tak ada yang mengira mereka akan dibuat tak berdaya dihadapan Cendana, nyaris tanpa perlawanan.
Passing lemah yang dikirimkan pemain Dharmawangsa kepada rekannya baru saja berhasil dipotong oleh Noah. Ia pun langsung membawa bola ke area lawan, sementara empat pemain Cendana lainnya berlari menyusul di belakang.
Tidak ada orang di area pertahanan Dharmawangsa karena turn over yang dilakukan Noah tadi membuat serangan Dharmawangsa mentah dan malah dibalas dengan serangan cepat oleh Cendana.
Dalam sekejap Noah sudah tiba di garis free throw area lawan, pemain No. 9 Dharmawangsa berhasil mengejar, tapi tetap saja ia masih tertinggal satu langkah.
Noah melempar bola ke arah ring, tapi bukan untuk memasukkannya melainkan untuk memantulkan bola ke papan. Ia lalu melompat untuk menyambut pantulan bola tersebut dan - dengan satu tangan saja - menghujamkan bola kembali masuk ke keranjang.
Itu adalah sebuah self alley oop.
Pemain nomor 9 yang sempat mengejarnya tadi tak mampu berbuat apa-apa saat Noah melakukan aksi itu tepat di depan matanya.
Tambahan dua angka yang dilakukan Noah barusan disambut dengan bel tanda berakhirnya kuarter kedua. Pemain nomor 9 Dharmawangsa masih tampak seperti kehilangan jiwanya di bawah ring yang baru saja gagal ia pertahankan.
Noah yang harusnya berjalan keluar lapangan memutuskan untuk berhenti di sebelahnya hanya untuk mengatakan, “Aku kira sepatu mahalmu itu bisa membantu permainanmu jadi lebih baik, tapi ternyata nggak juga.”
Pemain nomor 9 Dharmawangsa itu langsung melotot menatap Noah dengan urat-urat yang menyembul di pelipisnya. Tapi Noah hanya mendengus seolah meremehkan.
“Kalau mau muncul di venue pertandingan sambil gaya-gayaan, minimal bisa main basket lah,” tambah Noah lagi sambil berlalu pergi meninggalkan si nomor 9 yang di awal pertandingan tadi sempat mempermalukan Igris.
.
“Aku perhatikan kamu kayaknya dari tadi sengaja bikin panas pemain mereka yang nomor 9,” komentar Dewa saat tim Cendana sedang istirahat sebelum kuarter ketiga.
“Nggak. Kebetulan aja dia yang jaga aku, kan?” sahut Noah cuek.
“Oh … aku kira kamu sengaja mau balas dendam. Soalnya tadi dia kan sempat bikin malu Igris karena sepatu Igris buluk,” celetuk Yuda dan langsung disambut dengan tepukan pelan di belakang kepalanya dari Juan.
“Eh …? Masa sih sepatuku buluk? Aku kira ini masih bagus dan enak dipakai,” kata Igris sambil mengamati sepatunya sendiri.
Tapi keheningan yang terjadi setelah perkataannya itu membuat Igris sadar bahwa memang sepertinya hampir semua rekan-rekannya di Cendana menganggap bahwa sepatunya tidak layak.
“Kalau masih enak dipakai ya sah-sah aja sih,” ujar Noah tanpa menatap lawan bicaranya. Ia lalu beranjak dan melangkah menuju ke pintu keluar lapangan. “Izin ke toilet,” pamitnya singkat.
Sisa anggota tim Cendana yang ditinggalkan Noah hanya saling bertukar pandang setelah kepergian Noah, seolah ingin menarik kesimpulan yang sama; "Sepertinya Noah adalah seorang tsundere[1]." Dengan kata lain, sebenarnya Noah ingin membela Igris, tapi ia malu-malu dan cenderung ingin mempertahankan karakternya yang cuek dan dingin.
.
Noah baru saja selesai mencuci tangannya di westafel, saat ia berbalik dan menemukan Igris sudah berdiri di belakangnya bersama Heru dan Steven.
Ia lalu menghela napas sambil melipat tangan di depan dadanya, menunggu apa lagi yang mau dilakukan tiga orang itu saat ia sedang sendirian di toilet kali ini.
Namun mereka terlihat berbeda dari biasanya, Heru dan Steven sibuk mengedarkan pandangan mereka ke segala sudut ruangan, menghindari tatapan Noah.
“Kami mau minta maaf atas kejadian di halaman asrama kemarin.” Igris berinisiatif membuka suara lebih dulu.
“Oh …,” respon Noah terdengar tak begitu tertarik, “itu aja?”
Igris menyikut Steven di sebelahnya, cowok berwajah blasteran itu pun gelapan sambil lalu berdiri sigap dan menunduk di hadapan Noah. “A-aku juga minta maaf karena udah nyebarin gosip tentang kamu,” katanya kemudian.
“Gosip?” Noah mencoba mengingat-ingat. “Maksudmu waktu kamu bilang kita pernah satu tim di SMP? Terus kamu cerita macam-macam tentang aku, seolah kita saling kenal, padahal waktu SMP dulu kita bahkan nyaris nggak pernah ngobrol, itu kan?”
Noah mempertegas di mana letak kesalahan Steven, entah itu sengaja atau tidak, tapi dia seperti ingin memberi pukulan tepat di intinya.
“I-iya …” Steven pun menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Nggak apa-apa, aku juga sih yang salah,” kata Noah lagi, “aku seharusnya bisa bersikap lebih ramah lagi dan nggak bikin orang-orang salah paham.”
“Iya, sikapmu itu yang bikin orang kesal!” sambar Heru tiba-tiba. “Apa salahnya sih senyum dikit gitu kalau ketemu mata sama orang?”
“Ha?” Noah bingung setengah jengkel karena Heru yang menyela tiba-tiba dengan penuh emosi. Tapi Igris langsung merentangkan kedua tangannya di depan Noah dan Heru.
“Si Heru ini mungkin memang punya inferiority complex seperti yang kamu bilang, Noah. Tapi sebenarnya yang bikin dia jadi kesal banget sama kamu karena – katanya – di hari pertama sekolah dia pernah ketemu kamu tapi kamunya malah cuek.” Igris mencoba menengahi.
“Memangnya kita pernah saling kenal?” tanya Noah sambil mencoba mengingat-ingat.
“Nggak saling kenal juga, kalau pas gak sengaja tatapan sama orang, apa salahnya senyum kek atau nyapa gitu kek. Contoh tuh Igris bisa gampang berteman sama siapa aja.” Heru menggunakan kesempatan ini untuk mengeluarkan uneg-unegnya.
“Kalau kamu memang cocok berteman sama Igris ya udah berteman aja sama dia, ngapain malah nyuruh aku harus jadi kayak Igris? Aneh,” balas Noah lagi.
“Maksudku, kamu itu …”
“Eh … udah, udah. Kamu tuh ke sini hari ini mau minta maaf, kan?” sela Igris sambil berbisik dengan gigi rapat di ujung kalimatnya kepada Heru.
Igris lalu beralih kepada Noah untuk kembali menerangkan. “Noah, sebenarnya waktu itu, Heru mau nyapa kamu dan udah sempat senyumin kamu juga, tapi kamu malah buang muka. Makanya Heru jadi diledekin sama teman-temannya. Ditambah lagi, pas tes kemampuan kamu main habis-habisan dan Heru ngerasa makin tenggelam. Makanya dia … ”
“Makanya dia ngerasa minder dan berpikir buat musuhin aku, misalnya dengan nyemprotin tinta bercampur air selokan ke lokerku, gitu?” potong Noah lugas tanpa ampun.
“Udah kubilang kan aku nggak bakal bisa damai sama ini orang!” Heru akhirnya kembali meledak dan ngomel kepada Igris yang berdiri di depannya.
“Aku juga udah bilang, kan? Kalau kamu insecure dan minderan, itu bukan tanggung jawabku,” sahut Noah lagi.
Tangan Heru sudah terkepal dan siap mendarat keras di wajah Noah, kalau saja pintu toilet itu tidak terbuka tiba-tiba.
Dua siswa berseragam tracksuit putih-biru muncul dari balik pintu dan berdiri mematung menyaksikan empat anggota tim basket Cendana tampak sedang dalam suasana yang cukup tegang.
Noah mengambil langkah mundur dan begitu juga dengan Igris, memberi jalan kepada dua orang itu untuk masuk.
Dengan canggung dua siswa dari tim basket SMA lain itu pun sedikit membungkuk ketika mereka melintas di antara Noah, Igris dan teman-temannya, sebelum kemudian masuk ke dua bilik yang ada di ujung.
Situasi menjadi hening setelahnya, tak ada lagi yang berbicara. Hingga detik berikutnya terdengar pengumuman dari pengeras suara venue, bahwa pertandingan kuarter ketiga antara SMA Cendana vs SMA Dharmawangsa akan dimulai.
Tapi Noah tidak terlihat terburu-buru, karena memang sebelumnya Coach Adam sudah menjelaskan bahwa di kuarter ketiga Noah dan Igris akan diistirahatkan sementara.
“Orang kayak dia ini, mana mungkin menyimpan masalah sampai depresi segala. Kamu nggak usah mengada-ada.” Heru kembali membuka suara, menujukan kalimatnya kepada Igris. “Percuma aja kita baik-baik sama dia juga, dia nggak bakal pernah menghargai orang.”
“Bentar … Tunggu dulu,” sela Noah kemudian, “maksudnya nyimpan masalah sampai depresi itu siapa? Aku?”
“Iya, siapa lagi?!” hardik Heru. “Igris pagi-pagi udah heboh nyuruh aku dan Steven baikan sama kamu karena katanya kamu suicidal dan mau bundir.”
Mulut Noah merenggang dan alisnya nyaris saling bertaut menyiratkan betapa absurdnya kabar yang baru saja ia dengar itu.
“Ha? Kamu dapat ide dari mana bisa berpikiran kayak gitu?” tanyanya heran kepada Igris.
“Soalnya malam itu, waktu kamu bilang soal lompat dari atap gedung … aku kira kamu …”
Noah menghela napas sambil menepuk jidatnya sendiri, bahkan sebelum Igris menyelesaikan kalimatnya.
Pantas saja … jadi sikap aneh Zikri dan Bayu hari ini pun semakin terjelaskan. Igris mungkin juga mengabari mereka dan meminta mereka menjaga Noah, terutama dari komentar-komentar jahat netizen dan juga para penggemar basket di venue pertandingan.
Dua orang yang tadi masuk ke bilik toilet pun keluar dari sana sambil lalu mencuri-curi pandang ke arah Noah, di punggung mereka tercetak tulisan SMA Bima Sakti Basketball Club. Mereka mencuci tangan dengan tergesa-gesa dan bermaksud kembali lewat di celah antara Noah dan kelompok Igris untuk menuju ke pintu keluar, tapi Heru merentangkan tangan kirinya bak portal yang menutup untuk mencegah dua orang itu lewat.
Dua anggota tim basket Bima Sakti itu pun menatap Heru dengan tatapan yang seolah ingin bertanya: “Apakah kami sudah mendengarkan sesuatu yang harusnya tidak kami dengar?”
“Jangan cuma nguping separuh buat nanti diceritain kemana-mana,” tegas Heru kemudian, “pembicaraan kami belum selesai dan kemungkinan sedang ada salah paham di sini. Jadi kalian jangan malah ikut-ikutan salah paham, ngerti?”
“Ka-kami nggak dengar apa-apa kok.” Kedua orang itu pun berusaha lolos dari situasi itu.
Tapi Heru tampaknya tak mau langsung percaya. Ia menatap wajah keduanya lekat-lekat sebelum kemudian kembali memperingatkan mereka, “Aku tandai muka kalian berdua. Kalau setelah ini ada kabar yang aneh-aneh tentang kami, kalian berdua akan menjadi tersangka utamanya.”
“Kami benar-benar nggak dengar apa-apa!” Anggota tim Bima Sakti itu akhirnya menyingkirkan tangan Heru dan buru-buru meninggalkan toilet.
Suasana kembali hening sesaat, hingga kemudian Noah – yang sejak tadi berdiri melipat tangan di depan dadanya sambil menatap sinis kepada tiga orang di hadapannya itu – kini mulai mengalihkan tatapan ke sisi lain ruangan sambil lalu menghela napas.
"Igris cuma salah paham. Aku sama sekali nggak suicidal,” terang Noah akhirnya. Namun ia tak bisa memberi penjelasan lebih, bahwa sebenarnya ia malah mengkhawatirkan Igris yang sepertinya punya masalah keluarga – Noah tak ingin Igris tahu kalau malam itu ia mendengar pembicaraan Igris dan ibunya.
Suasana berubah canggung setelahnya, Igris juga jadi tak tahu mau bilang apa. Tapi, di luar dugaan, Noah malah terlihat gelisah melirik ke berbagai sudut untuk menyamarkan salah tingkah. Karena apa yang akan ia katakan selanjutnya benar-benar tidak seperti dirinya sendiri.
“Sorry," katanya setengah bergumam, namun cukup untuk membuat Igris, Heru dan Steven terperangah. Menduga-duga apakah satu kata barusan benar-benar keluar dari mulut Noah.
“Sifatku memang kadang suka bikin orang jadi salah paham, tapi aku sama sekali nggak pernah bermaksud nyuekin orang yang mau menyapaku,” sambung Noah lagi. “Jadi, sorry kalau aku nyinggung perasaanmu.”
Belum sempat Igris dan dua orang temannya itu mencerna apa yang baru saja terjadi, Noah menyudahi pembicaraan dan langsung melangkah cepat menuju pintu keluar, meninggalkan Igris, Heru dan Steven.
Situasinya hampir sama dengan saat Noah pamit ke toilet di lapangan pertandingan tadi, Noah langsung melarikan diri setelah mengatakan sebaris kalimat yang di luar karakternya.
“Dia barusan bilang ‘sorry’?” tanya Heru memastikan.
Igris dan Steven mengangguk mengiyakan, meski wajah mereka juga masih terlihat sama bingung.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] Tsundere adalah istilah bahasa Jepang mengenai karakter yang dari luar tampak cuek, pemarah dan tidak peduli, tapi sebenarnya berhati lembut. Atau juga untuk menggambarkan sikap seseorang yang awalnya dingin dan bahkan kasar terhadap orang lain sebelum perlahan-lahan menunjukkan sisi hangatnya."