Flashback 4 tahun yang lalu
Nara mencoba mengerjakan soal UN-nya dengan cepat, tapi kalah cepat dengan Razan. Setelah selesai dengan ujian, pemuda itu langsung melenggang ke luar kelas sambil membawa tasnya. Dilanda rasa panik, Nara pun sudah tak memperdulikan nilainya lagi. Dia mengumpulkan kertas ujiannya kepada guru pengawas, mengambil tas dan menyusul Razan.
Enggak! Kalau Razan beneran berangkat ke luar negeri, Nara gak bisa ketemu dia lagi. Nara akan nyesel karena gak ngungkapin cintanya lebih dulu. Gengsi yang ketinggian akhirnya jadi malapetaka.
Nara mengejar Razan, dan ternyata cowok itu sedang berdiri di depan gerbang sekolah. Nara menghela napas sambil menyeka keringat. Dia melihat Razan sedang bersandar tampan di sebuah tiang. Nara terpesona, sembari berjalan menghampirinya.
Apa dia lagi nungguin gue, ya? Apa mungkin, Razan juga merasakan hal yang sama?
Nara udah optimis. Tapi tinggal beberapa langkah dia menggapai Razan, seorang cewek yang sangat dia kenal tiba-tiba melingkarkan lengannya di tubuh Razan. Cowok itu membalikkan badan lalu mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Hal yang bahkan belum pernah dia lakukan kepada Nara, orang yang sangat mencintainya.
"Ada apa ini?" tanya Nara.
Alena membalikkan badan. Dia lalu mundur ketika mendapati Nara memergokinya bersama Razan. Di wajah cantiknya terpasang kepanikan. "Ra, ini gak seperti yang kamu—"
"Beb, kamu gak usah ngehindar lagi," potong Razan membela Alena. Nara merasa sesak mendengar panggilan itu, ditambah saat Razan memegang tangan Alena dengan erat. "Berhubung lo udah tau, keknya ini waktunya lo untuk nyerah."
"Nyerah?" Otak Nara masih berputar mencari sudut yang tepat untuk berpikir. Dia gak tau apa yang dimaksud Razan. "Kalau sejak awal kayak gini, kenapa kamu nerima semua barang pemberian aku? Kenapa kamu kasih aku harapan?"
"Gue gak pernah ngasih lo harapan," tukas Razan. "Gue cuma kasihan aja karena lo udah berharap ketinggian. Gue ngasih lo rasa puas, dan keknya itu sepadan dengan harga barang-barang yang lo kasih."
"Brengs*k!" Tanpa sadar Nara meruntuk. Kedua tangannya mengepal. Dia mengulum bibir, menahan tangis yang hampir merembes di pelupuk matanya. Di saat seperti ini, kenapa pertahanannya melemah?
"Apa? Gue gak salah denger?" Razan makin mengolok-olok gadis itu. Alena menarik-narik seragam Razan, menyuruhnya berhenti.
"Lu yang murahan!" balasnya.
"Razan! Udah!" henti Alena. "Kita pergi aja, yu!" pintanya.
Nara langsung murka. Dia melangkahkan kakinya.
"Dasar sial*n!" Tendangan El tiba-tiba datang dan mengarah ke selangkang*n Razan. "Gue sumpahin lu impoten! Cowok ganteng kelakuan bangs*t! Lo pikir cewek itu apa?! Ada yang rela berkorban buat lo, dan ini yang lo lakuin? Bajing*n!"
Nara merasa lemas ketika melihat El mengeroyok Razan. Gadis itu menangis seketika. Dia merasa hatinya digaruk Wolverine, sakit berdarah-darah. Dia jatuh dan mengeluarkan tangisannya di situ juga, sementara El membalaskan semua kekesalan Nara. Dia tidak mau berhenti memukul, kalau Razan belum kehilangan muka tampannya.
.
Flashback off
Nara merasa pusing setelah meneguk gelas ke limanya. Entah sudah berapa uang yang dia habiskan, rasanya tidak terasa. Masalah di pikirannya tak kunjung terlupakan. Wajah Razan malah makin terbayang. Dia mungkin butuh dua gelas lagi.
"Kenapa lo ngebet pengen pacaran? Kayaknya jomblo aja udah bahagia," ucap Lingga.
"Bahagia kata lo?" Nara terkekeh dengan mata yang sedikit terpejam. "Gue liat sahabat gue bermesraan tiap hari. Ke mana-mana bawa pacar, di mana-mana gue yang jadi nyamuknya. Gue kesepian ... di mana letak bahagianya kalau kayak gini? Apa sekarang pun, gue tersenyum?" Tatapan Nara semakin sendu. Tangannya tiba-tiba menunjuk ke samping, tepat di mana sepasang kekasih sedang berciuman. Lalu berbelok sedikit ke kanan, di mana sepasang kekasih sedang bercanda dengan senyum lebar. "Gue ... juga pengen kayak mereka," ucapnya lirih.
Lingga termenung. Nara kini menangis di atas meja, lalu mengangkat kepalanya lagi dengan wajah tegar. Mengelap ingus dengan lengan kemejanya.
"Maaf. Hanya saja ... kisah cinta gue berjalan mengerikan." Nara mencoba berdiri. Jelas dia tak bisa. Lingga menangkapnya di pelukan, berniat mengantar Nara ke sebuah taksi.
"Gue antar lo pulang ke rumah, ya?" tawar Lingga. Mana bisa dia biarkan cewek cantik rebahan di lantai kafenya karena mabuk. Lingga udah terlanjur berurusan sama dia. Bisa bisa, kejantanannya dipertanyakan..
"Enggak, enggak!" tolak Nara langsung. "Gue gak bisa pulang dalam keadaan seperti ini. Nanti bisa-bisa, besok gue bangun cuma tersisa tulang."
"Terus?" Lingga rasa itu bukanlah masalahnya.
"Kenapa kita gak ke hotel aja? Lo ... gue ... Whehehehe." Nara nyengir aneh seperti membayangkan sesuatu.
"Ide buruk." Lingga mengaitkan lengan Nara ke lehernya. Seolah bisa membaca tujuan laki-laki itu, Nara mendorongnya menjauh. Dia tak mau pulang ke rumah dengan ayah galak yang siap mencabiknya jika ketahuan mabuk.
"Lingga!" Nara protes dan duduk kembali.
"Hm?"
"Nama lo Lingga 'kan?" tanya Nara. Lingga hanya terdiam, menyaksikan kembali ulah gak jelas cewek itu. "Lo mau ga jadi pacar kontrak gue?"
"Hah?"
Nara menunjuk-nunjuk. Tubuhnya sempoyongan. Musik beat yang keras membuat Lingga tak bisa mendengar ucapannya dengan jelas.
"Lo orang ke sekian yang bilang 'HAH' ke gue," ucap Nara. "Tapi asal lo tau. Kontrak ga selamanya buruk. Pegawai kontrak juga bisa jadi pegawai tetap kalau kinerjanya bagus," jelasnya.
"Maksud lo?" Lingga celingak-celinguk tak paham.
"Gue bilang, kita pacaran kontrak!" teriak Nara.
"Kenapa harus kontrak?"
Belum sampai Nara menjawab, tubuhnya ambruk di atas dad* Lingga. Mendengarkan debaran kencang jantung laki-laki itu yang entah disebabkan musik atau sentuhan Nara.
"Kadang ... hubungan harus berlandaskan aturan, biar kedua pihak gak saling tersakiti," gumam Nara. Lingga mendekatkan telinganya supaya bisa mendengar suara lirih itu. Mata Nara terpejam. Dia pun mulai gak sadarkan diri.
Lingga menghela napas. Kini dia mau bawa cewek cantik itu ke mana? Otak liarnya sebagai pria sih sudah membayangkan untuk membungkus Nara bak guling yang bisa dia peluk tiap malam. Tapi lagi lagi, kejantanannya dipertanyakan. Lingga bukan manusia b******k seperti mantannya Nara. Amit amit jadi manusia yang disamakan dengan buaya.
"Alamat lu di mana?" tanya Lingga. Dia tak dapat balasan. Namun tangan Nara menggenggam erat dompetnya saking tak mau diantar pulang oleh Lingga. "Trus lu mau gimana, Neng?"
Ponsel Nara bergetar sebagai jawaban. Lingga mengangkatnya karena Nara tak membuka mata sedikitpun. Agak ragu karena takut dibilang tidak sopan. Tapi mau bagaimana lagi. Ponsel itu satu satunya petunjuk Lingga untuk membawa Nara pergi dari kafe.
"Halo bre? Lo mau cerita apa barusan?" tanya manusia di seberang jaringan.
Lingga terkaget dengan suara laki laki itu. Nama dilayar ponsel juga menggambarkan kalau mereka akrab. Jangan jangan, cewek yang baru dia kenal ini punya mas crush. Tega sekali malah ngajak barista kencan kontrak. "Ha-halo, saya Lingga. Ini di Kafe Madona. Cewek bapak tepar di sini. Mau saya kirim pakai paket ekspress atau regular?"
Dikung terdiam. "Tunggu. Bisa diulang?"
Lingga berdeham. "Ini gue, Lingga. Anu, ada cewek patah hati di cafe saya, tepar abis minum. Namanya Nara, tapi sebatas itu doang yang gua tau."
"Trus?"
"Ya, lo temennya, kan?" tanya Lingga. "Kalau bisa, jemput dia ke sini. Gue kirimin alamatnya."
"Ogah. Lu aja," tolak Dikung.
"Hadeuh!" Lingga memijat keningnya yang pening. Di sisi lain, pemilik bar sudah melambaikan tangan meminta Lingga melayani pelanggan mereka lagi. Lingga gak terlalu cemas akan diomeli. Ini bukan kali pertama dia dapat surat peringatan karena ikut campur masalah orang di kafe. Lingga punya jiwa superhero. Dia gak bisa diam kalau lihat cewek hendak dimanfaatkan oleh p****************g.
"Bokap Nara punya hotel. Di tasnya ada kartu VIP. Ntar lu antar ke kamarnya aja, trus ambil dah sebagian duit buat ongkos dan biaya gendong," jelas Dikung.
Namun tetap saja, Lingga tak bisa biarkan hal itu. "Keknya mending lo ke sini," ucap pria itu.
"Gua di kalimantan. Lu mau gue terbang ke sana? Sorry, sebenarnya gue mermaid," balas Dikung.
"Berenang ke sini!" Lingga ngotot.
"Bisa bisanya lu tanggepin omongan gue dengan serius." Dikung tertawa. "Udah, ya. Lu tolong urus dia aja. Satu pesan gue. Jangan diunboxing! Gue kejar lo ke ujung dunia kalau sampai lo apa-apain Nara!"
Telepon di matikan. Lingga gak bisa ngapa ngapain lagi karena layar ponsel Nara kembali terkunci. Mau tak mau, Lingga membopong Nara ke hotel yang Dikung bilang. Dia penasaran apa hubungan mereka. Nampaknya Dikung tahu banyak hal. Lingga gak terlalu khawatir. Sebab dia gak berencana pergi ke ujung dunia.
Lingga menemukan kartu VIP milik Nara dan segera mengirim wanita itu ke Crown Hotel yang cukup jauh. Dia juga mengambil beberapa uang untuk ongkos taksi. Semoga saja Nara tak perhitungan. Lagipula itu memang untuk ongkos.
Karyawan Hotel nampak sudah familiar dengan wajah Nara. Lingga menutupi wajah wanita itu supaya tidak dikira yang aneh aneh. Dia naik ke lift dengan hati-hati. Melongok ke sana ke mari, menghindari perhatian orang lain.
"Argh! Berat!" pekik Lingga sesampainya di kamar. Tangannya pegal linu. Benar benar merasa tersiksa. Tapi saat hendak pergi, jemari Nara menahannya.
"Lo udah sadar?" tanya Lingga. Syukurlah. Dia memang hendak menjelaskan pengeluaran uang Nara sebelum pergi daripada jadi buronan kedepannya.
Nara nyengir aneh di atas kasur. "Yang bilang gue gak sadar siapa?" kekehnya. Menolak dipanggil pemabuk tepar.
"Tadi duit lu keambil lima ratus buat bayar minum sama ongkos taksi. Lo gak masalah, kan? Udah gue diskon tuh minuman lo," jelas Lingga.
"Sejuta tiap keluar kencan!" pekik Nara. "Please, jadi pacar bayaran gue, ya?" pintanya.