Perkataan Chase membuat Adinda mundur satu langkah dengan gugup. Jadi benar jika pria ini, salah! anak muda ini, menyukainya?
Astaga! Chase pasti sedang mabuk. Atau kelelahan karena menyetir sejauh itu. Chase tidak mungkin bicara seperti itu pada dirinya yang bahkan baru beberapa menit yang lalu dikenalnya. Perasaan suka tidak mungkin datang secepat itu.
Oleh karenanya, Adinda memutuskan untuk tidak menanggapi perkataan Chase, dan menyusul teman-temannya yang sudah berjalan lebih dulu ke rumah. Ia akan membicarakan ini dengan Clara nanti, dan meminta sahabatnya itu untuk bicara dengan Chase, sehingga pria itu tidak akan mengganggunya lagi.
Beberapa koboi berpapasan dengan mereka, dan menyapa Clara dengan ramah. Britt dan Vic tersenyum centil dengan tatapan menggoda hingga membuat Adinda, yang sudah berhasil menyusul mereka, terkikik geli.
Meskipun panas dan jauh dari kota besar, apa di tempat ini bahkan ada mal?, tampaknya mereka tidak akan keberatan menghabiskan libur musim panas mereka di sini. Para koboi jelas jauh lebih menarik daripada sale di mal. Lagipula, ini jenis liburan yang belum pernah mereka alami sebelumnya.
“Pooopp!!”
Clara berteriak, dan berlari meninggalkan kopernya saat seorang pria tua yang kira-kira berusia akhir enam puluhan dengan seluruh rambut yang telah memutih, keluar dari rumah besar. Pria yang masih gagah itu berlari menyongsong cucunya, lalu mengangkat tubuh Clara seakan cucunya itu adalah seorang gadis kecil.
Pria tua itu tampak sangat merindukan Clara. Terbukti dari bibirnya yang berkali-kali menciumi wajah dan rambut Clara. Sebuah tusukan rasa iri menyengat di jantung Adinda.
Seandainya papa dan mama sesenang itu setiap kali melihatnya pulang, ia tentu akan menjadi gadis yang paling bahagia di dunia, dan tidak keberatan untuk pulang satu atau dua kali setahun meskipun itu akan menghabiskan banyak uang.
“Clara satu-satunya cucu perempuan Pop, dia selalu dipuja di peternakan ini sejak dulu sampai sekarang,” ucap Chase yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
Kenapa anak ini masih mengikuti mereka? Adinda mendesah, dan kembali melangkah meninggalkan Chase yang terus saja berjalan di sampingnya.
“Biar aku saja yang membawa kopermu, Adinda.”
Tangan Chase berusaha meraih koper Adinda, tetapi ia menariknya menjauh lebih dulu.
“Aku bisa sendiri. Ini tidak berat.”
Chase terkekeh. “Kau takut padaku?”
“Tidak!” jawab Adinda dengan cepat. Ia tidak takut. Ia hanya risih.
Terbiasa menjadi yang terabaikan, menjadikan Adinda sebagai gadis yang tidak suka menjadi pusat perhatian. Entah itu seseorang atau sekelompok orang. Ia hanya ingin menjadi perhatian orang tuanya, yang mana tidak pernah terjadi, dan bukannya pria asing, ataupun cowok seperti Chase.
Di kampus, ada beberapa pria yang terang-terangan mengejar dirinya. Akan tetapi, Adinda memilih untuk mengabaikan mereka dan berlindung di balik badan teman-temannya. Maka sekarang, ia juga akan melakukan hal yang sama untuk menghindari Chase.
Mereka berkenalan dengan Pop, kemudian masuk untuk bertemu wanita gemuk berambut pirang yang tidak lain adalah nenek Clara. Seperti tebakan Adinda, Gram adalah wanita yang hangat dan ramah. Ia segera menyuruh mereka semua ke ruang makan untuk menyantap makan siang yang sudah dibuatnya. Lagi-lagi, jenis keramahan yang Adinda tahu tidak akan ia dapatkan di rumah.
Chase menarik kursi di samping Adinda seakan tidak pernah ingin jauh darinya. Clara mendelik pada sepupunya itu dari seberang meja.
“Tidak ada kuda yang harus kau beri makan, Chase?” tanya Clara sambil menyendok tumisan daging dan kacang polong.
“Aku juga kelaparan. Apa tidak boleh aku makan bersama kalian?” jawab Chase santai sambil menuang sup ke mangkuk.
“Di mana ayahmu?” Clara kembali bertanya.
Chase mengangkat bahu. “Di kandang mungkin. Atau lapangan. Atau di mana saja sesuka dia.”
Adinda menoleh pada Chase. Ada getar ketidaksukaan saat Chase membicarakan ayahnya. Apa hubungan Chase dengan ayahnya tidak baik? Berapa saudara Chase? Apa Chase sama seperti dirinya yang diabaikan dalam keluarga?
“Adinda!”
Guncangan pelan di bahunya, membuat Adinda menunduk dengan wajah memanas. Sial, bagaimana ia bisa melamun memandangi Chase seperti itu?
Chase terkekeh dan berbisik di telinganya. “Apa aku membuatmu terpesona?”
Adinda kembali menunduk mengamati piringnya yang masih kosong, dan memutuskan untuk mulai makan agar bisa segera pergi dari sini. Ia harus bicara dengan Clara tentang ini. Chase tidak bisa terus mengganggunya.
...
“Aku tidak mau Chase terus berada di dekatku seperti itu,” ucap Adinda saat mereka berada di kamar Clara.
Kamar itu tidak terlalu besar. Hanya ada satu ranjang berukuran nomor dua, dengan satu lemari dari kayu mahoni, meja komputer, kaca bulat yang menempel di dinding, dan lantai kayu yang bagian tengahnya ditutup karpet bulat. Britt dan Vic berbagi ruang di sebelah kamar mereka.
Clara terkikik sambil menjatuhkan diri ke tempat tidur. “Lemparkan saja dia pada Vic. Tampaknya Vic menyukai anak itu.”
“Aku tahu, dan hal terakhir yang paling tidak aku inginkan adalah persahabatan kita rusak karena cowok. Apalagi cowok itu sepupumu.”
Clara bangkit, dan setengah terduduk di kasur. Ia menatap Adinda sejenak sebelum memutar bola matanya. “Yang benar saja, Adinda. Vic hanya tertarik pada Chase. Dia tidak akan sampai sejatuh cinta itu. Kita semua tahu bagaimana Vic.”
Victoria Kaye adalah gadis cantik dan seksi berambut pirang dengan mata birunya yang cemerlang. Lekuk tubuhnya sempurna dan menonjol di tempat yang semestinya, sehingga para pria yang tidak sengaja melihatnya, akan berhenti, kemudian mengamati lebih lekat setiap kali ada Vic di hadapannya.
Gadis itu adalah magnet bagi setiap pria, dan Vic benar-benar menyadari itu. Ia hanya perlu tersenyum, dan semua pria akan jatuh berlutut di bawah kakinya. Jadi, ketika Chase tidak seperti itu, hal tersebut terlihat agak aneh. Vic pasti akan merasa penasaran pada cowok itu, dan berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian Chase.
Dan Adinda tahu bagaimana seorang Vic jika sudah penasaran pada suatu hal. Jangan lupa, mereka semua adalah calon pengacara. Itu seperti menghadapi sebuah kasus rumit dengan sedikit petunjuk. Dan hal itu tentu sangat menarik bagi seorang pengacara untuk menggali fakta bahkan sampai ke lubang tikus sekali pun.
“Dan apa kau tahu bagaimana Chase?” tanya Adinda sambil menatap Clara dengan sedikit kesal.
Clara mengangkat bahunya. “Dia masih sembilan belas. Jiwa remajanya pasti sedang dipenuhi nafsu membara.”
“Dan aku tidak ingin menjadi pelampiasan nafsu anak remaja yang birahi!”
Clara terbahak mendengar perkataannya. “Astaga, Abimanyu! Chase tidak akan seperti itu. Aku akan bicara padanya nanti tentang asalmu, dan bagaimana hidupmu. Dia akan mengerti kemudian menjauh darimu.”
“Apa kau bisa menjaminnya?”
“Apa gunanya mendekati gadis yang tidak bisa kau seret ke kandang kuda dan kau tiduri? Dia sedang dalam usia yang prima seperti kuda remaja yang mengamuk.”
Perumpamaan itu membuat Adinda melotot, dan mereka berdua terbahak sesudahnya. Bersama Clara, hal paling serius pun bisa menjadi bahan tertawaan. Ia seperti menemukan saudara perempuan yang selama ini dicarinya setiap kali mengobrol bersama Clara. Mereka adalah dua orang yang, meskipun sangat berbeda, tetapi selalu cocok satu sama lain. Rasanya seolah Clara adalah belahan dirinya yang lain.
“Kau ingin tidur atau...” Clara sengaja menggantung perkataannya saat mereka selesai membereskan isi koper dan memindahkannya ke lemari.
“Apa yang ingin kau lakukan?”
“Berkeliling ke istal, jalan-jalan.” Clara mengangkat bahunya dengan santai. “Aku rindu tempat ini.”
“Aku ikut!” teriak Adinda dengan penuh semangat. Tidur adalah pilihan terakhir yang ingin ia lakukan di tempat yang tidak pernah dikunjunginya ini.
“Aku sudah tahu kau akan ikut.”
“Britt dan Vic?” tanya Adinda saat Clara melewati kamar yang ditempati dua gadis itu.
“Mereka bilang ingin tidur siang. Mereka kekenyangan.”
Masakan Gram memang luar biasa enak. Itu hampir sama dengan masakan lezat yang dibuat Paula, ibu Clara, tetapi dalam versi yang lebih enak lagi. Sekarang ia tahu dari mana bakat memasak Paula berasal meskipun Clara sama sekali tidak memiliki bakat itu.
Mereka keluar dari rumah menyusuri jalan berbatu menuju kadang kuda yang terletak beberapa meter jauhnya dari rumah utama. Istal itu sangat besar. Jauh lebih besar dari rumah yang tadi mereka tempati.
“Apa hanya kuda yang kalian pelihara?” Adinda bertanya dalam perjalanan mereka ke istal.
“Tidak. Ada beberapa ekor sapi, dan juga ayam di belakang istal. Untuk kebutuhan pertanian dan daging, kau tahu. Kami juga memiliki lahan gandum.”
“Aku tidak percaya masih ada kehidupan seperti ini di era modern sekarang.”
Clara tersenyum. “Ini warisan keluarga sejak tahun 1800-an. Pop selalu memuja para kakek buyutnya dan tanah ini. Ia selalu berkata ingin mati di tanah ini seperti para leluhurnya, dan bahkan setelah matipun, ia akan tetap di sini. Itu yang selalu dikatakannya pada Mom dan pamanku. Beruntung pamanku bisa mengurus tanah ini nanti.”
“Ayah Chase?”
“Ya. Mom tidak tertarik pada tanah perkebunan ini, dan jelas wanita memang tidak ditakdirkan mengurus peternakan sebesar ini. Beruntung pamanku masih ada sampai saat ini, hingga Pop tidak perlu khawatir tentang pewarisnya.”
“Masih ada?”
“Yah, kau akan tahu nanti.”
Jawaban Clara yang penuh teka teki membuat Adinda bertanya-tanya. Namun, ia memutuskan untuk diam dan menyimpan hal itu. Jika Clara berkata ia akan tahu nanti, ia pasti akan tahu.
Mata Adinda menyusuri hamparan hijau yang membentang luas, dan ia mendesah. Pergi sejenak dari hiruk pikuk memang pilihan yang benar. Tempat ini sangat indah dan hijau. Tidak ada bising klakson dan suara kendaraan bermotor diikuti teriakan sumpah serapah khas kota besar. Bisik angin pun bahkan bisa terdengar. Rasanya, orang yang tinggal di sini sangat beruntung karena mereka bisa mendengar nyanyian alam, ringkikan kuda, dan lenguhan sapi setiap hari.
Mereka baru saja akan sampai di istal, ketika Adinda menangkap sosok itu. Seorang pria. Tinggi, besar, dan gagah. Pria itu memanggul tali laso di bahunya yang tegap dan lebar. Rambut coklat gelapnya tertutup topi Stetson bewarna hitam. Lengan baju putihnya tergulung hingga ke siku menampakkan kulit coklat terbakar matahari yang seksi. Kancing paling atas kemejanya terbuka dan rambut d**a mengintip dari baliknya.
Dengan susah payah, Adinda menelan ludahnya sebelum ia bertanya pada Clara dengan suara parau. “Dia... siapa?”
Clara menoleh, mengikuti mata Adinda menatap, dan tersenyum lebar lalu melambai pada si seksi itu.
“Pamanku. Ayah Chase.”