6. Si Seksi Yang Kasar

1269 Words
Kata-kata Chase itu kembali membuat Adinda bergidik, dan ia bangkit dengan cepat dari samping pria itu. Ia mencari-cari Clara yang masih asyik bermain poker bersama para pria lainnya. Ketika gadis itu mendongak, Adinda memberi kode akan pergi ke kamar lebih dulu. Ia tidak bisa berada di sini lebih lama lagi. Sikap Chase semakin membuatnya risih. Adinda benar-benar harus bilang pada Clara agar memperingatkan sepupunya itu untuk menjauhinya. Sampai di kamar, Adinda duduk di depan jendela dan melihat ke arah permainan poker sedang berlangsung. Matanya langsung tertuju pada Jesse yang sekarang bangkit dari duduknya dan mengatakan sesuatu dalam bahasa isyarat, lalu menyingkir dari tengah permainan. Pria itu berjalan menjauh dari halaman, menuju bagian belakang rumah. Apa Jesse tinggal di salah satu dari dua rumah lainnya? Apa istri pria itu menunggu di sana? Seharusnya, Adinda tidak terlalu usil seperti itu. Seharusnya, ia tetap di kamar dan menunggu Clara. Namun, sebelum ia menyadari apa yang dilakukannya, Adinda sudah meraih lagi syalnya, melingkarkan di leher, lalu keluar dari kamar. Ia hanya akan melihat sebentar ke mana pria itu pergi, dan setelah itu kembali ke kamarnya. Di dapur, ada pintu yang mengarah ke halaman belakang di mana rumah lain itu berada. Ia bisa melewati pintu itu agar orang-orang yang tengah bermain kartu tidak melihatnya keluar lagi. Adinda membuka pintu kamar dengan pelan, lalu berjingkat-jingkat menuruni tangga agar Gram dan dua wanita lainnya tidak mendengarnya keluar. Begitu menutup pintu dapur, Adinda menarik napas lega karena tidak ada yang melihatnya pergi. Ia melihat Jesse masih terlihat pandangan matanya, tetapi pria itu melewati rumah pertama. Jadi di rumah kedua? Pikir Adinda sambil mulai mengikutinya. Namun, rumah kedua juga dilewati oleh Jesse. Ke mana pria itu akan pergi? Pertanyaan Adinda terjawab ketika langkah kaki pria itu semakin mendekati istal. Untuk apa pria itu sendirian di istal malam-malam begini? Apa mengecek kuda-kuda juga bagian dari tugasnya sebagai seorang pemilik peternakan ini? Penasaran akan apa yang Jesse lakukan, Adinda membuka pintu istal yang terbuka sedikit dan mengintip ke dalam. Seperti yang ia lihat siang tadi, istal itu begitu besar dengan puluhan kuda yang ada di sana. Bangunan itu lebih mirip lapangan bola daripada kandang. Bahkan mungkin dari seluruh bangunan di peternakan ini, istal adalah yang terbesar. Clara bilang, kuda-kuda mereka adalah yang terbaik di Kentucky. Beberapa sering disewa untuk pacuan atau berburu. Beberapa lagi, memang sengaja di kembangbiakkan untuk dijual. Clara memberitahunya harga satu kuda yang paling kecil, dan Adinda tidak menyangka bahwa satu kuda bisa berharga sangat mahal. Semakin baik ras kuda itu, maka harga yang ditawarkan akan semakin tinggi. Kaki Adinda melangkah masuk melewati pintu, dan melihat Jesse menuju ke kandang yang terjauh dari pintu. Pria itu mendatangi kandang seekor kuda berwarna hitam yang sangat besar. Surai kuda itu tampak panjang dan halus ketika Jesse membelainya dengan lembut. Pria itu tersenyum sementara si kuda menundukkan kepalanya ke arah kepala Jesse. Kuda itu pasti milik Jesse karena pria itu tampak bahagia ketika hewan itu menyundul kepalanya dengan pelan. Seandainya bisa bersuara, pria itu pasti akan terkekeh dengan senang. Seindah apa suara Jesse dulu? Pria setampan itu pasti memiliki suara yang indah. Seandainya ia sempat mendengar suara pria itu. Seandainya ia bertemu Jesse sejak dulu. Seandainya… Lamunan Adinda terputus saat mendengar suara langkah kaki, dan terlambat menyadari jika Jesse tahu ia mengikuti pria itu. Jesse sudah mendekat padanya sebelum Adinda sempat kabur. Jadi, ia hanya berdiri di tempatnya dan menunggu pria itu memarahinya. Atau…apa istilah yang tepat? Pria itu pasti marah, tetapi ‘kan Jesse tidak mungkin mengomel padanya. Apa yang akan Jesse lakukan padanya? Menyeretnya keluar dari istal? Jantung Adinda berdegup semakin keras saat Jesse hanya tinggal beberapa langkah lagi darinya. Wajah pria itu masih muram, tetapi jelas, matanya yang biru itu terlihat marah. Tangannya terangkat naik, hingga Adinda otomatis melindungi wajahnya dari tamparan pria itu. Benarkah Jesse akan menamparnya hanya karena ia mengintip? Apakah Jesse sungguh sekasar itu? Namun ternyata, bukannya menampar, pria itu meraih sesuatu yang terselip di tiang yang ada di belakang Adinda. Sebuah buku kecil dan pena. Pria itu mulai menulis, dan menunjukkan padanya beberapa saat kemudian. ‘Apa yang kau lakukan di sini?’ Adinda menarik napas lega dan menurunkan tangannya. Lega karena Jesse tidak berniat untuk menamparnya. “Aku hanya melihat-lihat, dan tiba-tiba sudah berada di sini,” dustanya dengan suara parau. ‘Tempatmu bukan di sini. Kembalilah ke kamarmu!’ Seharusnya ia menuruti apa yang Jesse perintahkan dan kembali ke kamarnya. Akan tetapi, Adinda menyadari jika ia tidak mampu menggerakkan kakinya. Matanya juga melakukan hal memalukan dengan terus menatap bekas luka di leher Jesse. Seharusnya ia berpaling, dan menoleh ke mana saja asalkan yang satu itu. Dasar tidak sopan!, batin Adinda dengan kesal pada matanya yang tidak mau berpaling. ‘Jika kau sudah puas mengamati leherku, lebih baik kau segera pergi!’ Entah bagaimana, Adinda lebih menangkap rasa malu, bukannya marah, dari apa yang Jesse tulis. Seharusnya dia yang merasa malu karena sudah bersikap tidak sopan, dan bukannya pria itu. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud tidak sopan.” Akhirnya Adinda bisa menunduk dan hampir saja berbalik untuk keluar dari istal sebelum pria itu menyentuh lengannya. Lagi, seperti yang terjadi tadi siang, Adinda merasakan sengatan listrik di sepanjang lengan hingga ke wajahnya yang memanas. Sentuhan Jesse begitu kuat tetapi juga lembut karena tekanan itu tidak menyakitinya. Ia menoleh, dan menatap langsung ke arah mata pria itu. “Ada apa?” Tanya Adinda dengan pelan. Jesse kembali menulis sesuatu. ‘Jangan menggoda anakku. Dia masih di bawah umur.’ Wajah Adinda yang sudah memerah, kini semakin memanas. Menggoda Chase?? Jadi Jesse pikir, ia sengaja menggoda Chase?? Apa itu alasan kenapa pria itu tidak pernah terlihat menyukainya? Karena Jesse pikir ia menggoda Chase?? Sialan! “Aku tidak pernah menggodanya! Sebaliknya, dia selalu mendekatiku! Seharusnya kau memperingatkan anakmu! Bukan aku!” teriaknya marah sambil berderap keluar dari istal. Sialan! Apa itu yang dilihat orang lain juga tentang dirinya? Bahwa ia sengaja menggoda Chase? Adinda membuka pintu dapur dengan kesal dan membanting pintunya, tidak merasa repot untuk melakukannya dengan pelan seperti ketika dirinya pergi tadi. Ketika menutup pintu kamar, Adinda mendapati Clara sudah berada di sana. Gadis itu tengah membersihkan wajahnya. “Dari mana kau?” Clara menoleh dari kaca dan menatap Adinda yang melempar syalnya ke lantai dengan marah. “Adinda?” ucap gadis itu lagi ketika ia tidak mengatakan apa-apa. Adinda menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan perlahan. “Berjalan-jalan.” “Ke mana?” “Istal.” “Dan?” Ia menatap Clara yang masih menunggunya menjawab. “Aku bertemu pamanmu di sana.” Clara mengangguk mengerti. “Kau bukannya berjalan-jalan. Kau memang sengaja mengikutinya.” Adinda hendak membantah, tetapi Clara mengacungkan jarinya. “Jendela kamar ini mengarah tepat ke halaman. Kau pasti melihatnya pergi ‘kan?” Rasa malu kembali merayapi lehernya. Namun ini hanya Clara, gadis ini tahu semua tentang dirinya. Mereka sudah berbagi segalanya termasuk rahasia yang paling memalukan, dan sekarang, mereka berdua sama sekali tidak pernah memiliki rahasia. “Aku hanya penasaran di mana dia tinggal. Kupikir, dia akan menuju salah satu dari rumah itu, tetapi dia malah menuju istal.” “Tentu saja. Pamanku tinggal di sini, di lantai bawah. Chase juga. Ia punya kamar di loteng.” Kepala Clara menunjuk ke atas mereka. “Apa Chase bisa mendengar yang kita bicarakan?” bisik Adinda sambil menatap langit-langit kamar yang tidak begitu jauh dari kepalanya. Clara tertawa dan menyelesaikan kegiatannya. “Tidak seandainya kau tidak berteriak-teriak nanti.” Kaki Adinda mendekat ke arah Clara dan mengguncang bahu gadis itu. “Yang mengingatkanku kau punya hutang cerita padaku soal Jesse.” Clara mendongak padanya, dan menyerahkan sebotol toner dan kapas. “Bersihkan wajahmu dulu. Aku tidak mau besok kau ribut karena jerawat.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD