Ponsel Adinda bergetar saat ia selesai berpakaian. Ia akan pergi ke rumah orang tuanya untuk mengambil koper dan sekaligus berpamitan pada mereka. Tadi malam, ia sudah memutuskan untuk pergi dari negara ini. Tidak ada satu hal pun yang bisa menahannya di sini lagi. Terlebih, setelah ia tahu bahwa Mama membencinya, dan Papa tidak akan membelanya lebih daripada Mama. Nama Ananda tampak di layar ponselnya. Adinda mempertimbangkan untuk tidak mengangkatnya, tetapi tahu jika ia tidak boleh bersikap seperti itu. Ananda tidak tahu apa-apa tentang dirinya, dan ia tidak berhak menjauhi saudaranya hanya karena mereka berbeda ibu. Apalagi, selama ini Ananda juga sudah menjadi kakak yang cukup baik untuknya. “Hai, Kak,” sapanya dengan suara yang terdengar ceria. Atau setidaknya, itulah yang ia harap

