Adinda melotot pada sahabatnya. Ia ingin mengumpat, tetapi gadis itu sudah melesat lebih dulu keluar dari rumah. Pasti Clara sedang mencari Jesse, dan mengatakan omong kosong tentang ia yang ingin diajari berkuda. “Kau bilang ingin berkuda. Kenapa masih di sana?” Adinda menoleh pada Gram yang baru saja keluar dari dapur. Adinda mengangkat bahu. “Aku rasa latihannya batal, Gram. Chase belum pulang.” “Jesse bisa mengajarimu kalau begitu. Dia seorang penunggang kuda yang hebat. Jauh lebih hebat daripada Chase.” Rasa bangga yang begitu kental tidak bisa Gram sembunyikan dari nada bicaranya. Ia tahu jika wanita itu sangat menyayangi putra bungsu dan satu-satunya itu. Adinda menggeleng. “Dia tidak akan mau mengajariku. Aku sama sekali belum pernah naik kuda sebelumnya. Aku akan membuatnya

