52. Pulang

1683 Words

“Aku tidak yakin ini pilihan yang tepat,” gumam Adinda untuk ke sekian kalinya dalam beberapa menit itu. Koper terbuka di atas ranjangnya, setengah terisi oleh pakaian-pakaian, sementara pakaian yang lain terhampar di sekelilingnya seperti gunungan sampah yang siap dibakar. Dan seakan belum cukup sempit, Jesse berbaring telungkup di sisi lain tempat tidurnya. Oke, pria itu jelas bukan onggokan sampah. Jesse tampak seperti dewa ketampanan di tengah semua kekacauan yang Adinda ciptakan, dan ia jauh lebih ingin bergabung dengan Jesse dalam kekacauan itu daripada melipat pakaian. Pada akhirnya, setelah mengulur-ulur waktu, Adinda harus memesan tiket untuk pulang ke Jakarta dan bicara dengan orang tuanya. Chase meneleponnya hampir setiap hari, dan terus mendesaknya untuk pergi. Sebelumnya,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD