Pagi itu, Adinda terbangun dengan sebuah tekad yang kuat di dalam dirinya. Ia ingin lebih mengenal pribadi Chase dan Jesse lebih dalam lagi. Juga, Adinda ingin tahu apa yang membuat kedua orang itu tidak bisa dekat. Di keluarganya, Adinda adalah anak yang paling tidak diperhatikan dan ia tidak ingin ada anak lain yang mengalami itu.
Mungkin, Pop dan Gram menyayangi Chase. Juga semua orang di peternakan ini. Akan tetapi, Adinda tahu jika Chase akan lebih bahagia jika hubungannya dengan Jesse membaik. Begitu juga dengan Jesse. Pria itu harus berdamai dengan masa lalunya dan lebih dekat dengan Chase. Mereka hanya saling memiliki satu sama lain.
Tidak adil rasanya jika sebuah kesalahan di masa muda Jesse membuat pria itu tidak menerima anaknya. Begitu pun Chase, ia tidak seharusnya malu dengan keadaan ayahnya. Toh, hal itu tidak membuat Jesse menjadi pria yang tidak bisa diandalkan. Justru, yang Adinda lihat, semua orang bisa menerima keadaan Jesse, dan pria itu juga bekerja dengan baik di sini.
“Clara.”
Adinda mengguncang tubuh Clara ketika gadis itu hanya menggumam tanpa membuka matanya. Hari memang masih terlalu pagi, tetapi Adinda sudah mendengar suara aktivitas di sekitarnya. Suara sapi yang melenguh, kuda-kuda yang meringkik, ayam yang berlarian dengan suara ribut, juga suara-suara tawa pria yang melengkapinya.
Senyum terkembang di bibir Adinda. Mengapa ia merasa begitu damai berada di tempat ini? Semua orang tampak saling dekat satu sama lain dan saling memiliki. Jauh berbeda dengan masyarakat perkotaan di Austin ataupun negara bagian lain yang individualis.
Tempat ini hampir terasa seperti di sebuah desa di Indonesia yang hanya pernah ia kunjungi satu kali. Adinda lupa nama tempatnya, tetapi semua orang di sana hidup berdampingan, damai, dan juga akrab satu sama lain.
“Clara! Bangunlah!” Ia kembali mengguncang tubuh Clara, kali ini dengan begitu kuat hingga gadis itu membuka matanya.
“Kenapa kau bangunkan aku sepagi ini?” Tanya Clara sambil menguap dan menggeliat. Matanya melirik jam. “Ya Tuhan, ini masih pukul enam, Adinda! Kita tidak pernah bangun sepagi ini.”
“Tetapi ini bukan di Austin.”
Clara terdiam seakan mencerna setiap kata yang Adinda ucapkan. Ia menatap langit-langit kamarnya dan bangun dalam sekejap.
“Sialan! Aku lupa kita di sini!” Clara menyibak selimut dan turun dari tempat tidur dengan tergesa-gesa.
“Kenapa kau terburu-buru? Aku tadi ingin bicara denganmu.”
Clara menoleh dan berhenti melangkah menuju kamar mandinya. “Tentang apa?”
“Ajari aku bahasa isyarat.”
Gadis itu membelalak mendengar apa yang Adinda katakan. “Kau…kau serius?” Clara keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di tempat tidur. “Kau benar-benar jatuh cinta pada pamanku!”
Kalimat terakhir diucapkan Clara dengan sangat yakin dan bukan sebuah pertanyaan yang harus Adinda jawab atau ingkari. Lagipula, sudah terlambat untuk mengelak karena Adinda memang tidak ingin mengelak lagi.
Mungkin, itu terlalu cepat jika disebut jatuh cinta. Ia hanya…simpati mungkin? Ya, itu jauh lebih cocok untuknya daripada jatuh cinta.
“Aku hanya ingin Chase dan Jesse berdamai. Tidak seharusnya ayah dan anak saling tidak peduli seperti itu.” Adinda mencoba menjawabnya dengan diplomatis.
Mata Clara menyipit. “Dan kau pikir orang-orang di sini tidak melakukannya? Semua cara sudah dilakukan untuk membuat mereka lebih dekat dan tidak ada yang berhasil.”
“Itu karena bukan aku yang mendamaikan mereka,” ucap Adinda dengan jumawa.
“Dan cara apa yang akan kau pakai untuk mendamaikan mereka? Chase jatuh cinta padamu, dan kau malah menyukai ayahnya. Bukannya berdamai, mereka tidak saling membunuh saja sudah beruntung.” Clara bersedekap dan menatapnya dengan sinis.
“Mereka akan saling membunuh jika Jesse jatuh cinta padaku. Tetapi kenyataannya Jesse tidak seperti itu, jadi pertumpahan darah itu tidak akan terjadi. Aku benar-benar hanya ingin mendamaikan mereka. Kau tahu bagaimana aku selalu menjadi yang terabaikan ‘kan? Aku tidak ingin Chase seperti itu.”
Clara membuka lengannya dan Adinda bersandar di tubuh gadis itu. Clara selalu memeluknya setiap kali ia menceritakan tentang keluarganya dan Adinda selalu merasa nyaman. Kadang, ia berpikir kenapa bukan Clara yang menjadi kakak perempuannya.
Bukannya ia tidak bersyukur menjadi adik Ananda, ia hanya…yah, ingin saudara yang lebih bisa mengerti dirinya. Ia menyayangi Ananda, sangat, tetapi mereka berdua memiliki minat yang jauh berbeda dan kadang hal itu menjadikan mereka tidak bisa terlalu akrab.
“Ini tidak akan mudah, Adinda. Pamanku bukan orang yang mudah didekati. Dan Chase...dia begitu keras kepala. Aku tidak ingin hatimu terluka nantinya karena mereka berdua.”
Adinda melepas pelukan Clara dan tersenyum menatap gadis itu. “Mungkin kita akan menyebut ini sebagai risiko yang harus aku ambil? Kita tidak akan tahu itu akan berhasil atau tidak jika tidak mencobanya ‘kan?”
“Bukan perdamaian mereka yang aku pikirkan. Kami semua sudah terlalu terbiasa dengan itu. Aku hanya peduli padamu. Kau belum pernah jatuh cinta, dan pamanku…” Clara mengangkat bahunya. “Dia bukan pria normal. Perjuanganmu akan dua kali lebih sulit.”
“Dia istimewa.” Adinda mengoreksi.
Ia tidak ingin Jesse disebut tidak normal. Pria itu istimewa. “Dan kau selalu tahu ‘kan jika sesuatu yang langka dan sulit itu selalu berharga lebih mahal dari barang sale? Kau ingat bagaimana kita menabung mati-matian demi Christian Louboutin merah kita?”
Seandainya ia gagal membuat Jesse jatuh cinta padanya, Adinda ingin setidaknya keinginannya yang lain akan berhasil yaitu membuat Chase dan Jesse berdamai. Sungguh, ia akan baik-baik saja dengan hatinya nanti. Apa yang jauh lebih penting baginya adalah berdamainya Jesse dan Chase. Tidak adil jika ada anak-anak lain yang harus terabaikan selain dirinya.
“Jadi kapan kau akan mengajari aku bahasa isyarat?”
“Setelah sarapan? Aku ingin ke istal sekarang. Kau mau ikut?”
Kening Adinda berkerut. “Apa yang kau lakukan di sana pagi-pagi seperti ini?”
“Membersihkan kotoran kuda,” jawab Clara sambil menyeringai.
Mata Adinda membelalak kemudian memandang kukunya yang berkilau cantik. Tidak. Ia tidak bisa melakukan itu.
“Jika kau benar-benar jatuh cinta pada pamanku, kau harus membiasakan diri dengan segala macam yang kotor di sini.”
“Apa harus?”
Clara terbahak. Pasti karena raut wajah Adinda yang tampak ngeri. “Ayolah. Kita tidak akan membersihkan kotoran kuda.” Gadis itu bangkit dan memasuki kamar mandi untuk mencuci muka.
Adinda beranjak dari ranjang dan mengikutinya. “Kau janji tidak ada kotoran kuda?”
“Akan kuusahakan.” Clara menyeringai dan mendorong bahu Adinda agar mencuci wajahnya.
“Britt dan Vic?” tanya Adinda ketika Clara melewati kamar mereka.
“Apa kau bisa membangunkan mereka sepagi ini setelah semalaman mereka berpesta di halaman?”
“Kau pasti bercanda!”
Clara mengangkat bahu dan turun dari lantai atas tanpa menjawab pertanyaan Adinda. Iamenduga itu melibatkan alkohol dan mungkin…hubungan seks semalam. Siapa kira-kira pria itu? Apakah Chase? Britt jelas begitu tertarik pada Chase, dan ia sangat cantik. Bukan tidak mungkin jika Chase akhirnya tergoda dengannya.
Pria yang ia pikirkan muncul di depan pintu ketika mereka baru saja keluar dan menyeringai lebar.
“Selamat pagi, Adinda.”
Rambut Chase yang panjang itu diikat asal-asalan di puncak kepalanya, dan pria itu hanya mengenakan kaus tanpa lengan yang dipadu dengan celana jins warna senada. Di tangannya, ia memegang lasso yang tampak berat. Pria ini…yah…Chase tampak luar biasa jantan pagi ini.
Untuk pertama kalinya, Adinda tersenyum padanya. Entah mengapa, setelah tahu cerita tentang mereka, Adinda merasakan simpati kepada Chase.
“Aku pasti sudah mati dan masuk ke surga. Kau tidak pernah tersenyum padaku seperti ini sebelumnya.”
Clara mendekat, meraih lengan Adinda kemudian menariknya pergi. “Jangan ganggu dia, Chase.”
Chase terkekeh dan mengikuti mereka. “Kau pasti mimpi indah semalam. Karena jika tidak, aku tidak akan mendapatkan senyum itu. Atau…apakah kau memimpikan aku?”
Biasanya, itu pasti sudah mengganggu Adinda dan ia akan menarik tangan Clara agar cepat-cepat menjauh. Akan tetapi, sekarang ia malah tertawa mendengarnya. Tertawa! Ia pasti sudah gila.
“Sialan!” Chase berteriak dengan keras hingga Clara dan Adinda menghentikan langkah mereka lalu menatap Chase dengan bingung.
“Ada apa?” Clara bertanya.
Chase menggelengkan kepala sejenak, lalu mata birunya fokus menatap Adinda. “Kau…aku benar-benar jatuh cinta padamu. Bagaimana pun caranya, aku akan memilikimu.”