Kupacu mobil membelah jalanan dengan hati yang kalut membawa sejuta luka. Rintik-rintik hujan mengiringi cuaca di sore hari, membawa kesenduan tersendiri di antara jiwa jiwa yang merana.
Pukul 15:23 aku telah sampai di rumah Bapak setelah satu jam berkendara dari kota, kuturunkan putriku dari mobil yang tampak masih kelelahan dan sedih karena kejadian siang tadi.
"Ayo, Nak. Kita udah sampai di rumah kakek," ajakku sambil menggendongnya.
"Jannah ...." Bi Murni tetangga depan rumah Bapak memanggilku.
"Bapakmu di bawah ke rumah sakit, tadi dia pingsan di kamar mandi, mungkin sakit jantungnya kambuh."
"Apa?"
"Iya, Nduk."
"Ya Allah, kalo begitu saya susul bapak dulu,Bik."
Melihatku panik putriku kembali menangis dan ikut panik. Kuraih dia dan kugendong segera. Mengapa Allah memberiku ujian yag bertubi-tubi hari ini, aku tak mengerti.
"Sini, Cah ayu, sama Mbah saja ya," ajak Bi Murni pada Raisa.
"Gak mau," tolak puteriku.
"Raisa ... Ikut sama Mbah murni dulu, ya. Bunda mau lihat kakek di rumah sakit."
"Ikut Bunda," rengeknya.
"Sebentar ya, Sayang," bujukku, "Nanti sekembalinya dari klinik bunda bawakan coklat snickers kesukaan Raisa, ya," tawarku membujuknya.
"Iya, Cah ayu, sebentar kok, Nduk," bujuk bik murni juga, "Nanti kita petik jambu dan mancing lele di kolam belakang," rayunya.
Akhirnya setelah dibujuk lembut putriku mau mengikuti Bi Murni ke rumahnya. Segera aku berangkat ke rumah sakit, dengan perasaan yang sangat berdebar debar.
"Ya Allah, begitu banyak yang terjadi hari ini, ya Allah, kuatkan hamba ya Allah," ucapku berkali kali.
Lima belas menit aku telah sampai di rumah sakit dan langsung menuju meja informasi dan bertanya di mana ruangan Bapak. Kususuri lorong dengan air mata berderai membayangkan keadaan sosok pria yang sangat kucintai sejak kecil itu.
Kubuka pintu ruangan khusus pasien jantung dan kudapati Bapak terbaring lemah dengan beberapa selang yang terpasang di tangan, hidung dan dadanya di ranjang nomor empat, sedang Ibu berdiri di sampingnya sambil sesekali mengusap kening Bapak dengan raut prihatin dan penuh cinta.
"Bapak ...." Aku berlari kecil kearahnya lalu memeluknya menumpahkan rasa cemas, khawatir dan sakit yang kubawa dari rumah suamiku. Namun Bapak tidak merespon karena belum sadarkan diri.
"Jannah ... Kamu tahu dari mana kalo Bapak di sini, Nak?" tanya ibu.
"Aku tadi pulang, lalu Bik Murni memberi tahu, kutitip Raisa padanya dan menyusul kemari," jawabku.
"Lho, Ikbal mana?" lanjut ibu.
Kuhampiri Ibu lalu kupeluk dia erat-erat dan terisak di bahunya.
"Mas ikbal Bu ... Mas i-ikbal ...."
"Kamu kenapa, Nak. Kok nangis, Ikbal kenapa?"
"Dia sudah mengusir Jannah, Bu."
Diangkatnya wajahku dan diperhatikannya dengan seksama.
"Kamu serius, Nak? Beneran?" bisiknya lirih.
"I-iya, Bu." Kataku lanjut memeluknya lagi.
"Astagfirullah, ya Allah," kata Ibu.
"Terus kenapa wajahmu, Nak? Kamu dipukuli?" Ibu memperhatikan wajahku.
Aku tak menjawab ucapannya namun Ibu sudah mengerti melihat lebam yang hampir melingkari kelopak mata dan sudut bibirku.
"Astagfirullah, Gusti ...." Berkali-kali Ibu mengelus dadanya sambil bergantian manatap aku dan Bapak yang tak kunjung sadar dari pingsannya.
"Bapak kenapa, Bu?"
"Gak tahu, tadi pingsan Nduk. Ibu bangunin gak sadar sadar."
"Ya Allah, Bu. Semoga Allah panjangkan umur Bapak," kataku.
"Shalat ya Nak, doakan Bapakmu," pinta ibu.
Aku teringat jika dari siang tadi aku lupa menunaikan kewajibanku pada sang pencipta sehingga aku mohon diri sebentar kepada Ibu untuk pergi ke musallah dan menunaikan shalat ashar.
**
Kubasuh wajah berkali-kali sambil merafalkan doa semoga Ilahi Rabbi berkenan menerima lantunan doa serta kepasrahanku pada-NYA.
Kusimpuhkan sujud, kulangitkan doa semoga Allah mengangkat sesak yang menghimpit d**a dan membebani bahuku.
Lama aku bersujud dalam keheningan samudra doa sambil melepaskan isak tangis untuk melegakan rasa.
"Mbak ... Mbak baik-baik saja," tiba tiba kudengar sapaan dibelakangku.
Kutolehkan wajah setelah selesai berdoa dan seorang pria tersenyum ramah, wajahnya terlihat cerah dengan bibir tipis dan hidung proporsional. Dari rupanya aku tahu bahwa ia pria terhormat dan berasal dari kalangan baik baik.
"Maaf?"
"Anda baik-baik saja? Maaf saya bertanya karena melihat anda sedari tadi menangis." Katanya sopan.
"I-iya saya baik baik saja," jawabku.
"Apa pun masalahnya Allah tidak akan menguji hamba di luar batas kemampuan hamba itu sendiri," Ucapnya lembut
"Ta-tapi rasanya gak sanggup, Pak." Kutangkupkan wajah dan air mataku kebali luruh dalam diamku di hadapannya.
"Dari wajah anda, Anda terlihat tegang khawatir dan depresi, Bu."
"Panggil saya Jannah, Pak," kataku.
"Kalo begitu saya Rafiq, Mbak Jannah."
"Orang tua saya sedang sakit dan belum kunjung sadar dan keadaan masalah pribadi saya yang mungkin membuat saya kacau."
"Uhm ... Tapi Maaf Mbak Jannah kenapa? Jika boleh saya tahu, Mbak bisa cerita pada saya," tawarnya dengan senyum yang kutangkap terlihat begitu tulus dari hatinya.
Lalu kuceritakan padanya apa yang telah terjadi, rentetan kejadian yang telah menghancurkan hati dan rumah tangga, juga tentang kesehatan Bapak yang semakin hari membuatku kian khawatir.
Ia menatap sekilas lalu mengangguk pelan.
"Sabar ya, Mbak. Allah pasti akan berikan Mbak Jannah jalan keluar. Oh ya, saya bekerja di sini, jika ada apa apa Mbak bisa ngomong sama saya," katanya.
"Oh begitu, ya Mas?"
"Iya, Saya akan selalu siap membantu, Mbak Jannah." Ia bangkit lalu mengulurkan tangan.
Kubalas ukurannya, " Terima kasih, Mas Rafiq."
**
Kembali ke ruangan tempat bapak di rawat, di sana ada beberapa perawat dan satu orang dokter sedang sibuk memompa dan memberi ayah kejut jantung.
Sedang Ibu menangis cemas di sisi pembaringan Bapak, dengan cepat kuhampiri Ibu dan bertanya padanya.
"Ibu ... Bapak kenapa lagi," tanyaku panik.
"Kondisinya menurun, napasnya berat dan terlihat sesak, detak jantungnya juga melemah." Ibu tergugu pelan.
"Ya Allah, selamatkan, Bapak." Doaku sambil terus memeluk dan menguatkan Ibu.
"Panggil Dokter Rafiq kemari," pinta dokter yang menangani bapak.
"Baik, Dok."
Tak lama berselang sosok yang tadi kutemui di mushallah berkemeja abu-abu itu, kini telah mengenakan jas dokternya dan setengah berlari menuju pembaringan bapak.
Memberikan bantuan, memerintahkam beberapa hal pada asisten untuk memberi tindakan medis hingga setelah sepuluh menit berjuang akhirnya kondisi Bapak bisa stabil kembali.