Irama kicauan burung di pagi menyemarakkan bias keemasan di ufuk timur, cahaya terang mulai menembus tirai kamar membuatku tersadar jika aku terlambat menyadari jika hari sudah beranjak siang.
"Astagfirullah," ucapku sambil mengusap wajah.
Aku segera bangkit dan memeriksa kamar putriku, apakah dia sudah bangun atau belum, ternyata ia masih lelap di peraduannya. Kuhampiri dia kubenahi selimutnya dan kukecup pipi gempilnya yang kemerahan.
Dia adalah malaikat yang menguatkanku menjalani hari-hari berat ini.
Kususuri sudut rumah dan kutemukan semuanya lengang, entah di mana Mas ikbal dam istri barunya sepagi ini meninggalkan rumah, kutengok pintu kamar mereka terbuka dan aku terperanjat melihat kondisi kamar yang sangat berantakan.
Selimut tidak benahi, bantal-bantal berjatuhan dan pakaian kotor berserakan ke mana-mana, make up dan kosmetiknya juga berantakan di depan meja rias kamar tamu, rambut memenuhi sisir bahkan sampai jatuh ke lantai, da dia tidak sama sekali tergugah untuk menyapunya.
"Astagfirullah, Mas Ikbal ... Inikah istri yang kau pilih untuk menjadi sahabatku dalam rumah ini?"
Ketika kutolehkan pandangan tiba-tiba kutemukan sebuah benda berwarna merah muda di kolong tempat tidur. coba kuhampiri dan kutengok dengan sedikit menjongkokkan badan.
"Subhanallah ...." Dadaku rasanya sesak sekali melihat benda yang teronggok begitu saja, lingerie dengan merk Victoria berwarna merah muda yang berbahan renda dengan model menerawang pada bagian V. Bentuk talinya yang masuk ke daerah belakang membuatku malu sekaligus jijik melihatnya.
Aku pernah membaca pada sebuah situs fashion, secara psikologi pemilihan pakaian seseorang berdasarkan sifat, karakter dan selera mereka. Dan G-string itu mewakili dari sifat pemiliknya yang seksi, nakal, dan binal di tempat tidur.
Aku hanya mampu menahan napas sambil membayangkan adegan wanita itu naik ke atas suamiku ... Dan Mas Ikbal menikmatinya sungguh sakit sekali jiwa ini. Ingin kumengamuk dan berteriak teriak namun apa dayaku, jatuhnya nanti, aku adalah wanita yang tidak tahu malu dan tetangga akan makin menertawaiku.
Baru hendak kubalikkan badan ketika mereka berdua tertawa kecil sambil memasuki kamar, ketika tatapan mereka bersitatap dengan mataku, mereka terlihat kaget dan canggung sekali. Soraya terlihat memundurkan diri memgikis jarak dari suamiku.
"Jannnah ...." Mas ikbal menatapku lekat.
"Tadinya aku akan menyapu ruangan, tapi ketika kulihat ...." Aku menatap ke arah kolong ranjang dan sontak saja Mas Ikbal terkejut bukan main, begitu pun Soraya langsung salah tingkah dan segera memungut pakaian dalamnya.
"Maaf ... Mbak." Ia nampak malu sekali.
"Mas ...." Bibirku bergetar dan air mataku menggenang, "Aku pikir kamu bersamaku semalam, tak tahunya kamu bisa bersama dua wanita dalam satu malam," kataku sambil terbata-bata menahan sesak di d**a.
"An-anu ... aku ..." Suamiku kehilangan kata katanya.
"Soraya ... Ini masih belum menjadi rumah pribadimu, jaga sikapmu, kau tinggalkan kamar tidur dengan berantakan dan pakaian dalammu teronggok sembarangan dengan pintu terbuka, kau pikir ini rumah Ayahmu?" Kataku dengan ketus.
"Maaf ...."
"Tadi kami buru-buru ke rumah pak RT untuk melapor jika Soraya akan tinggal bersama kita mulai saat ini," kata Mas Ikbal menyela.
"Tinggal dengan kita? enak saja!" Balasku sengit.
"Sementara sa ...."
"Bawa dia pindah atau aku yang pindah!" teriakku.
"Mbak Jannah, aku gak sengaja," jawabnya sambil menangis.
"Aku tahu kau pengantin baru yang masih segar dan penuh kenikmatan, tapi seharusnya kamu menjaga adabmu, terlebih lagi ada aku di sini!"
Wanita itu memandang dengan tatapan penuh harap pada Mas Ikbal. Berharap Mas Ikbal membelanya.
"Jannah, ayo kita keluar," ajak Mas Ikbal sambil meraih lenganku.
"Lepaskan ... Jaga batasanmu Mas, jangan.
berusaha menyeret dan mencoba mempermalukan di rumah sendiri," bentakku.
"Kita tinggal bersama di sini!" Balasnya.
"Jangan mimpi, aku tidak sudi!" aku meradang dan menangis sejadi-jadinya, mungkin mendengar suaraku putriku terbangun sehingga ia menyaksikan keributan kami.
"Lihat Mas ....bukan hanya aku yang tersiksa,. Bahkan putriku juga," kataku sambil meraih putriku dan memeluknya.
"Soraya .... Kau anak guru agama dan ekspektasiku tentang dirimu ...," ucapku dengan menahan amarah, "Ternyata aku salah."
Kutinggalkan mereka dengan membanting pintu kamarnya dengan keras sehingga menimbulkan suara yang sangat memekakkan telinga.
Baru saja malam tadi aku dan suamiku mencoba mendamaikan diri, kini, di pagi buta ini prahara kembali menghantui rumah tangga kami.