kejutan lagi lagi.

1236 Words

"Mbak Jannah, ya," sapa pemuda itu ketika aku sedang duduk di sebuah kedai kopi menikmati udara sore yang dingin selesa hujan. "Iya, saya," kataku menyambut dengan senyum pemuda yang pernah datang ke toko milikku. "Mbak ngopinya sendiri aja? "Iya." "Boleh saya duduk?" pintanya sambil mengisyaratkan bangku kosong yang ada di hadapanku. "Silakan." "Mbak Jannah, sendiri saja? Kebetulan saya ingin membicarakan perkembangan investasi Mbak Jannah, beruntungnya saya bertemu Mbak Jannah di sini." "Oh, tentu saja, silakan," lanjutku lagi. "Terima kasih Mbak, Senyum dibibir pemuda itu terkembang, kacamata bergagang hitam itu, menyempurnakan bentuk wajahnya yang ditumbuhi bulu bulu halus, sesaat, aku berpikir bahwa penampilan pemuda ini sangat mirip mendiang Mas Ikbal "Kok diam aja, Mbak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD