Berdebar

1174 Words

Kami sampai di tempat kerja dan Mas Rafiq langsung memarkirkan mobilnya di bawah pohon flamboyan tempat biasa ia parkirkan mobilnya. "Mas, aku turun dulu," ucapku sambil membuka pintu mobil, mengambil tas buru-buru ke luar untuk mengejar absen. "Eh, ada yang kelupaan,"ucapnya. Aku membalikkan badan dan bertanya cepat padanya, "Apa Mas?" "Lupa memberiku senyum?" "Ya, ampun Mas." Aku hanya menggeleng pelan dan membalikkan badan lagi. "Ini serius ada yang kelupaan," katanya dengan mimik meyakinkan. "Apa?" Aku sedikit gusar karena harus buru-buru mengisi absen yang otomatis itu. "Lupa menerima cintaku," katanya dengan senyum manis. "Ish ...." Kembali aku memutar bola mata, malas dengan rayuannya di jam genting seperti ini. "Hayolah, setidaknya beritahu kalo aku boleh berharap," teria

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD