Selepas kepergian Mas Rafiq, mobil mertuaku muncul, dia membawa rombongan pengantin, Rosa dan kedua orang tuanya, juga dua orang pemuda, mungkin adik atau kakak si pelakor muda itu. Mereka turun dari mobil dan tanpa basa basi langsung merangsek masuk ke dalam rumah. "Jannah, kau mana, Jannah?" tanya Ibu mertua dengan berteriak. "Ada apa Mama?" Aku menuruni tangga dengan santainya. "Kamu minta maaf sekarang juga sama Rosa dan besanku!" bentaknya sambil menunjukku. "Untuk apa?" Aku mengangkat alis sebelah. "Kau sudah mengacaukan pernikahan anakku, dasar tidak tahu diuntung!" cecarnya sambil tetap mengacungkan jari. Rasanya harga diriku hancur saat itu juga di depan orang tua perebut suamiku, aku tetap tersenyum getir meski di dalam hati terluka dan berdarah darah. Teganya Ibu mertua

