Manis

1364 Words

"Aku tahu perasaanmu, Mas. Namun ini bisa boros namanya, dan sikap boros itu berteman dengan syaitan. Jika Mas sungguh ingin membelikan maka cukup satu saja." Aku meraih salah satu dari tumpukan pakaian itu. "Kamu yakin hanya mau beli satu?" "Iya, Mas. Cukup sehelai saja dengan kerudungnya," balasku. "Tapi ini akan jadi seserahan," ucapnya ragu. "Seserahan hanya simbol Mas, kapan kapan aku bisa beli beberapa helai lagi," jawabku. "Baik jika begitu, Jannah." Kami membayar dan bergegas pergi dari mall karena hari semakin siang. "Oh ya, kita makan dulu?" "Apa gak sebaiknya kita makan di rumah Bu saja?" usulku. "Ada resto terbaru terkenal di depan Mall ini, kita coba yuk," ajaknya. "Ya udah Mas, oke." Kami berjalan bergandengan menuju restoran yang ada di seberang jalan. Setelah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD