Setelah percakapan dengan orang tuaku kuputuskan untuk pulang saja, aku sampai di rumah menjelang Maghrib dan mendapati Mas Tama sudah ada di sana. Sekarang di sinilah kami, duduk saling berhadapan di meja makan sambil menggenggam gelas kopi masing-masing. Cuaca yang agak dingin di luar sana, seolah menularkan kedinginan yang menusuk ke dalam sini hingga kami pun sama-sama kaku dan tidak bisa memulai pembicaraan. "Kau bertemu orang tuaku?" "Betul." "Lalu?" "Aku sudah putuskan, kita harus bercerai." "Tapi aku tidak mau bercerai." "Maka akan kutebus perceraian itu apapun caranya," jawabku. "Apa gunanya, apa tujuanmu?" "Agar kau dan anakmu bisa kembali bersama dan hidup nyaman." "Apa gunanya ... kau sudah mendapatkan penghinaan dan cibiran karena pernikahan kita. Meski kau menceraik

