Drama Bingung

712 Words
Siang hari ... Siang ini suamiku memutuskan tidak masuk kantor, ia menjaga Raisa dan juga membantu Soraya membereskan sisa kekacauan rumah, sedangan aku jatuh tak berdaya di pembaringan kamarku. Beberapa kali kudengar suamiku meminta pengertian pada Soraya agar dia menurut dan disiplin pada peraturan rumah ini, Mas ikbal juga memintanya untuk selalu menjaga kebersihan agar aku tak lagi marah. "Hmm ... apakah tentang kebersihan saja wanita itu harus di briefing? Subhanallah." Berkali kali aku hanya mampu mengelus d**a kesal. "Bunda ...." Suamiku mengintipkan kepalanya dari balik pintu dan tersenyum manis sekali. "Apa?" Jawabku lirih. "Aku bikinin kamu bubur kesukaanmu, ya," tawarnya. "Gak usah Mas," tolakku. Ia menghampiri dan membelai wajahku dengan perlahan. "Lihatlah pipimu semakin tirus dan matamu berkantung, aku belikan vitamin dan skincare baru ya," tawarnya dengan tulus. Aku tertawa getir melihat sikapnya. Dulu aku begitu tersanjung dengan perhatian semacam itu, namun sekarang semuanya terasa hambar dan menyakitkan. Segala kebaikannya saat ini bagiku hanyalah agar aku mau menerima Soraya dan membuka hati. "Gak usah Mas," jawabku. "Rumah udah dibersihkan kok, Bunda, udah beres semua," katanya sambil mengacungkan jari jempol dan tersenyum berusaha menghiburku. "Dengar Mas," kataku dengan air mata yang lagi lagi meluncur dengan sendirinya, "Selama dia di sini, aku gak bakal bahagia sedikit pun, aku gak bisa tenang Mas," gumamku pelan. "Tapi, Sayang ...." Mas Ikbal meraih tanganku dan menggenggamnya erat, " Dia adalah istriku yang posisinya dalam agama sama saja denganmu, Mas harus bagaimana?" "Minimal pindahkan dia dari rumah ini, atau ... sejujurnya aku gak akan kuat bertahan mas, jadi ceraikan saja aku, biarlah, aku saja yang mengalah dan Mas bisa bahagia pindah dari rumah ini dan membangun hidup baru," terangku. "Tapi kan, ini rumah Mas juga," jawabnya manja dan merayuku. "Ini rumah yang kita bangun dengan mimpi dan harapan agar kita berbahagia hingga hari tua, andai Mas mengatakan bahwa rumah ini akan dibagi untuk tiga orang dan dua ranjang, aku tidak akan setuju dari awal Mas," desisku dengan suara yag nyaris tenggelam karena terlalu lelah bersedih. "Dengar Sayang, kalo kamu terus menerus seperti ini kamu bisa sakit dan drop, kumohon." Ia menatapku serius. "Kalo kamu memang peduli pada kesehatanku .... Tentu kamu tak akan membawanya kemari kamu tidak akan mengkhianatiku." "Hey, Sayang aku tidak pernah mengkhianatimu, aku begitu mencintaimu, kau tahu posisiku amat sulit dan aku terhimpit janji yang kubuat sendiri, sehingga ketika Abinya menagih aku hanya mampu melaksanakan apa yang telah kujanjikan dulu, aku tak bermaksud mengkhianatimu karena sungguh ... aku mencintaimu," bujuknya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Tidak mungkin bisa berkumpul dalam hatiku dua cinta bersamaan, Mas." "Karena sesungguhnya aku lebih mencintaimu," bisiknya. "Jangan bohong!" Aku berusaha mendorong wajahnya. "Demi Allah, Jannah," katanya. Di waktu yang bersamaan Soraya datang membawakan bubur dan melihat adegan dan posisi kami, ia sedikit salah tingkah namun ketika mendengar ucapan Mas Ikbal yang tidak menyadari keberadaan Soraya di belakangnya, sukses membuat kaget dan mendung di kelopak mata istri mudanya itu. "Mas ... Jadi begitu ya," ucapnya lirih dengan air mata yang jatuh di sudut bibirnya. Mas Ikbal seketika membalikkan badan dan alangkah terkejutnya dia mendapati istri mudanya mendengar semua rayuannya padaku. "Aku gak tahu kalo Mas menikahiku hanya demi sebuah janji yang Mas anggap beban," ucap Soraya. Ia meletakkan nampan di nakas lalu menjauh dari kamarku sedangkan Mas Ikbal langsung menyusulnya dan meraih tangamnya. "Soraya, bukan begitu, maksudku adalah .... Soraya, Soraya." Ia memanggil sambik setengah berlari mengejar Soraya. "Tunggu, Mas gak bermaksud membuatmu terluka, mas lagi bicara sama Mbak Jannah," ucapnya membujuk. Aku berusaha bangkit dan mengintip mereka yang kini saling berkonflik. "Jadi Mas tadi hanya menghibur?" tanya istrinya. Aku tahu mas Ikbal akan sulit menjawab pertanyaan ini, karena jika ia jawab iya, makan aku akan marah,sedangkan jika ia jawab tidak maka Soraya akan marah dan semakin terluka. "Eng, anu ... eng aku tadi, lagi bicara tentang ...." Mas Ikbal menjeda ucapannya karena bingung. "Tentang siapa yang sungguh Mas cintai kan?" Sambung soraya. "Aku gak pernah maksain Mas, buat nikahin aku," katanya sedih. "Aku gak terpaksa," balas Mas Ikbal. "Tapi aku dengar." Mas ikbal terdiam, istrinya masuk kamar lalu mengunci pintu sedangkan Mas Ikbal berusaha mengetuk dan minta maaf. "Sora, Soraya ... Mas gak maksud bikin kamu sedih, Soraya ...." Ia sangat kebingungan dan khawatir dari gesturnya. Sedangkan aku, yang menyaksikan drama mereka haruskah aku kini tertawa dengan hiburan ini???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD