Home sweet home memang merupakan ungkapan yang tepat untuk Dini sekarang. Walaupun hanya beberapa hari gadis itu berada di rumah sakit, ia sudah sangat merindukan rumahnya. Dini merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kakinya menginjak ruang tamu rumah keluarga Santoso. Hidung mancungnya menghirup dalam-dalam aroma ruangan itu, seolah sudah sangat lama tidak mencium aroma rumah besar ini. Gillian yang melihatnya hanya menggelengkan kepala pelan. Senyum lembut menghiasi bibirnya yang masih agak pucat. Kadang Gillian merasa Dini bertingkah seperti Vian, putri kandungnya yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Seperti saat ini, tingkah Dini persis seperti Vian kalau mereka pulang dari berlibur. Setiap kembali menjejakkan kaki setelah beberapa minggu atau bulan mereka meninggalka

