Prolog

1645 Words

"Hana..." Terdengar suara anak laki - laki memanggil gadis kecil yang tengah membuat mahkota bunga.

Karena merasa namanya di panggil, gadis kecil itu yang ternyata bernama Hana, menoleh kearah anak laki - laki yang tengah berlari ke arahnya sambil menenteng sepeda kecilnya.

Hana kecil tersenyum kearah anak laki - laki itu. Kemudian ia berdiri dari jongkoknya untuk menghampiri anak laki - laki yang sudah berada lima meter darinya.

"Kak Adnan, aku membuatkan ini untukmu." Dengan nada sedikit malu - malu, Hana memberikan mahkota bunga buatannya kepada anak laki - laki di depannya yang bernama Adnan.

"Indah sekali." Puji Adnan sambil menerima mahkota bunga dari Hana. Lalu ia memakainya di puncak kepalanya.

Melihat Adnan yang memakai mahkota bunga buatannya, Hana sedikit tertawa kecil. pasalnya ketika Adnan menaruh mahkota itu di puncak kepalanya, mahkota itu terlihat miring.

"Kenapa?" Tanya Adnan kepada Hana yang menertawakannya. Ia sedikit bingung mengapa Hana tertawa tanpa alasan yang jelas.

"Mahkotanya terpasang miring. Sini biar Hana pasangkan." Hana sedikit mengangkat tumitnya untuk meraih puncak kepala Adnan yang lebih tinggi darinya. Namun tetap saja, tubuhnya terlalu pendek untuk meraih kepala Adnan.

Adnan yang melihat Hana sedikit kesusahan memasangkan mahkota bunga buatannya, berinisiatif untuk mengangkat tubuh mungil gadis kecil itu. Tanpa persetujuan dari si pemilik tubuh, Adnan mengangkat tubuh Hana agar dapat dengan mudah meraih kepalanya.

"Eh, Eh. Kak Adnan..." Hana sedikit kaget karena merasakan tubuhnya tak lagi menapak tanah.

"Jangan bergerak. Cepat pasangkan. Kamu berat tau!" Gerutu Adnan yang sedang menggendong Hana.

"I-iya..." Hana berujar dengan gugup, lalu memasangkan mahkota bunga buatannya di puncak kepala Adnan.

"Sudah..." Gumam Hana, yang masih dapat di dengar oleh Adnan.

Adnan menurunkan tubuh Hana kembali ke tanah. Kemudian ia menyentuh mahkota bunga yang terpasang di puncak kepalanya.

"Apakah aku terlihat tampan?" Tanya Adnan kepada Hana dengan rasa percaya diri yang tinggi.

Hana yang polos, hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan anak laki - laki itu. Adnan yang melihat tingkah polos Hana, hanya tersenyum manis sambil mengacak rambut Hana yang terikat rapi ala ekor kuda.

"Kak Adnan tampan. Sangat - sangat tampan." Puji Hana sambil mengacungkan kedua jempolnya kearah Adnan.

Ucapan Hana tidak sepenuhnya bohong. Karena memang Adnan memiliki paras yang cukup tampan untuk anak seumuran dia. Ia seperti memiliki kharismanya sendiri di usianya yang masih kecil.

"Terima kasih. Hana juga cantik." Adnan mengusap rambut Hana dengan lembut. Lalu ia mengajak Hana untuk duduk di atas kursi panjang berwarna putih yang ada di taman bermain, dimana Adnan dan Hana kini berada.

"Kak Adnan sangat tampan, bagaikan pangeran. Hana harap Kak Adnan bisa menemukan tuan putri cantik yang akan menemani Kak Adnan kelak." Hana kecil mendoakan temannya itu, yang selama ini sudah menemaninya bermain selama orang tuanya memiliki pekerjaan di kota ini.

"Bagaimana kalau Hana saja yang jadi tuan putri kakak?" Tiba - tiba saja Adnan mengatakan hal yang sama sekali di luarĀ  perkiraan Hana. Apakah teman sepermainannya itu sedang melamarnya?

Pipi Hana memerah mendengar pertanyaan Adnan tersebut. Jantungnya berpacu cepat ketika mendengar ungkapan secara tiba - tiba yang dikatakan oleh Adnan.

"Kenapa Hana?" Hana menanyakan tentang pilihan Adnan yang tiba - tiba saja mengatakan ingin menjadikan Hana sebagai tuan putrinya. Padahal di kompleks perumahan tempat Adnan dan Hana tinggal, terdapat banyak anak gadis yang sangat cantik. Tetapi, mengapa harus Hana?

"Kak Adnan sayang sama Hana. Kak Adnan berharap, kelak bisa menikahi Hana dan menjadikan tuan putri kakak seutuhnya." Ucap Adnan dengan penuh keyakinan. Ia begitu serius ketika mengatakan hal itu kepada Hana. Ungkapannya itu seolah menjadi janji di masa depan.

Hana tersenyum malu - malu mendengar Adnan menyukainya. Sebenarnya Hana juga menyukai Adnan sejak lama, hanya saja hal itu baru di realisasikan sekarang. Begitu senangnya hati Hana ketika tahu bahwa Adnan juga memiliki rasa yang sama.

Setengah tahun pertemanan mereka, ternyata mendatangkan benih - benih cinta dan sayang. Tapi cinta yang mungkin mereka miliki sekarang, belum tentu bisa bertahan hingga esok di masa depan. Janji masa kecil, bisa terlupakan begitu saja ketika beranjak dewasa.

"Bagaimana? Apakah Hana mau menjadi tuan putri kakak?" Adnan memastikan lagi, apakah Hana menerimanya atau tidak.

Hana mengangguk dengan malu - malu. Kemudian Adnan secara agresif menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Ia senang, karena Hana mau menerima dirinya.

Hana memejamkan matanya di pelukan Adnan, menikmati kehangatan yang di tawarkan di d**a kecil anak laki - laki itu. Kemudian sekelebat kejadian tentang pembicaraan kedua orang tuanya semalam, yang tak sengaja di dengarnya menyadarkan Hana dari kebahagiaannya mendapatkan Adnan.

Dengan enggan Hana melepas pelukan Adnan dan menatap anak laki - laki di depannya itu. Akhirnya Adnan memilih untuk menggenggam kedua tangan Hana.

"Ada apa Hana?" Adnan merasa bingung karena secara tiba - tiba tuan putrinya itu melepaskan pelukan mereka.

Hana menunduk, ia tak berani menatap wajah Adnan. Rasanya Hana sedikit keberatan untuk mengatakan apa yang akan terjadi esok hari.

"Kak Adnan. Besok Hana akan pindah." Akhirnya terucap lah sudah.

Semalam Hana mendengar pembicaraan kedua orang tuanya, jika mereka akan pindah kembali untuk mengikuti perjalanan dinas yang dilakukan ayahnya. Padahal keluarga Hana baru setengah tahun tinggal di kota ini, tapi harus pindah lagi karena tuntutan pekerjaan.

Mata Adnan membulat sempurna mendengar ucapan Hana. Ia tak menyangka bahwa dirinya harus dipisahkan dengan tuan putrinya. Padahal mereka berdua belum sempat menjalani hari - hari bersama layaknya tuan putri dan pangeran, tapi Hana tiba - tiba saja mengatakan akan pindah. Dan itu besok!

"Kenapa?" Terlihat sekali dari suara Adnan bahwa dia tidak rela jika Hana harus pergi dari sisinya. Baru saja mereka mengucap janji menjadi seorang tuan putri dan pangeran. Namun Hana langsung pergi begitu saja.

"Ayah mendapatkan tugas baru di kota lain. Maka dari itu, kami sekeluarga harus pindah." Hana menjelaskan alasan kepindahannya kepada Adnan. Hana juga tidak rela jika harus berpisah dengan pangerannya itu. Apalagi Adnan selalu menemaninya ketika berada di kota ini.

"Tidak bisa kah dirimu dan ibumu untuk tetap tinggal? Kakak tidak ingin berpisah denganmu." Adnan mencoba untuk menahan Hana agar tidak pergi dari sisinya.

"Itu tidak mungkin kak. Aku dan ibu tetap harus ikut ayah." Hana mencoba memberi pengertian kepada Adnan tentang situasi yang sedang dialami keluarganya dan dia harus pindah dari kota ini.

Adnan menatap memelas kearah Hana. Sungguh berat hati Adnan melepaskan Hana pergi dari sisinya. Ia mengetatkan pegangannya pada kedua tangan Hana, mencoba memberi penguatan untuk dirinya sendiri.

"Berjanjilah padaku Hana. Kelak jika kamu beranjak dewasa, janganlah melupakan kakak. Kakak janji, akan mencari mu dan menikahi mu saat itu juga. Tunggulah Kakak." Adnan menatap lamat - lamat wajah cantik Hana. Ucapannya seolah mengandung keyakinan yang cukup kuat untuk memiliki Hana di masa depan. Ia berdoa di dalam hatinya, ketika ia dewasa nanti dapat menikahi Hana.

Hana menganggukkan kepalanya dengan semangat, ia membalas genggaman erat Adnan dengan tak kalah eratnya. Seolah melalui genggaman itu, mereka bisa saling menguatkan satu sama lain.

"Iya, Hana janji." Mata Hana berkaca - kaca ketika mengatakan kalimat itu. Meskipun itu hanyalah janji seorang anak kecil, tetapi entah mengapa Hana merasa suatu hari nanti janji itu benar - benar akan terkabul.

"Terima kasih, Tuan Putri Hana." Bisik Adnan sambil kembali memeluk tubuh Hana. Ia berharap dapat bertemu dengan putrinya itu di masa depan.

___

Keesokan harinya, Adnan baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Ia kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan dengan gontai ke lantai bawah.

Setibanya di lantai bawah, Adnan melihat keluarga Hana berkumpul bersama keluarganya. Sepertinya mereka sedang membicarakan pindahan keluarga Hana hari ini. Adnan dapat melihat Hana yang menatap kearah dirinya dengan senyum yang mengambang.

Segera saja Adnan berlari menghampiri Hana dan duduk di samping gadis kecil itu. Hana begitu senang melihat kehadiran Adnan yang baru saja bangun dari tidurnya. Masih nampak air liur kering di sudut bibir Adnan, membuat Hana terkekeh kecil.

"Adnan, kamu ini bagaimana. Bangun tidur bukannya cuci muka dulu, malah langsung turun. Tengok iler kamu tuh diketawain Hana. Gak malu apa." Tegur Ny. Pranaja kepada anaknya.

"Eh?!" Adnan terkejut mendengar teguran sang ibu, lalu ia memegang air liur kering yang ada di sudut bibirnya. Dan benar saja, jarinya merasakan seperti ada sisik di sudut bibirnya, yang terbuat dari air liurnya sendiri.

Kemudian Adnin tertawa canggung sambil mengelus tengkuknya. Ia sangat malu dengan penampilannya yang baru bangun di depan sang kekasih, Hana.

"Kamu tunggu dulu disini. Aku akan mandi dengan cepat." Ujar Adnan kepada Hana sambil menyentuh kedua tangannya. Ia tak ingin hanya meninggalkannya sebentar, Hana akan menghilang begitu saja.

Hana mengangguk mantap sebagai respon dari ucapan Adnan itu. Lagipula ia tak akan begitu saja pergi tanpa berpamitan dengan cintanya.

Setelah mendapat persetujuan dari Hana. Adnan berlari menuju kamarnya dan segera membersihkan dirinya dengan cepat di dalam kamar mandi. Ia tak ingin Hana menunggunya terlalu lama.

Kedua orang tua Hana dan Adnan hanya bisa tertawa kecil melihat interaksi Hana dan Adnan yang seperti enggan untuk di pisahkan.

"Kamu serius akan pindah?" Setelah selesai menertawakan tindakan Adnan, Tn. Pranaja memastikan kepada keluarga Hana tentang kepindahan mereka.

"Tentu saja. Ini semua karena tuntutan pekerjaan. Andai saja bukan karena pekerjaan, aku takkan pindah dari sini." Tn. Arkarna yang merupakan ayah dari Hana menjelaskan alasannya untuk pindah. sebenarnya ia cukup berat untuk pindah dari kota ini, karena beliau sudah menemukan sahabat seperti Tn. Pranaja. Yang selalu menerimanya dengan sepenuh hati, tanpa memandang kasta seseorang. Padahal Keluarga Pranaja terbilang keluarga yang sangat kaya, sedangkan keluarga Arkarna hanyalah keluarga sederhana yang memiliki keberuntungan bisa berteman dengan keluarga Pranaja.

"Sangat disayangkan sekali." Tn. Pranaja juga merasa berat karena harus ditinggal oleh sahabatnya itu. Ia sudah merasa sangat cocok dengan Tn. Arkarna, tapi malah memilih pindah dari kota ini.

"Kalau kamu rindu, bisa hubungi nomor ku." Dengan nada persahabatan, Tn. Arkarna berujar demikian. Ia ingin ikatan persahabatan diantara dirinya dengan Tn. Pranaja tetap berlangsung lama dan tidak akan terputus.

"Tentu saja. Aku akan sering - sering menghubungimu." Respon Tn. Pranaja terhadap ucapan Tn. Arkarna tersebut.

Selanjutnya pembicaraan mereka mengenai tentang tempat tinggal keluarga Arkarna di kota yang akan menjadi tempat pindahan keluarga Arkarna. Mereka juga membicarakan tentang tempat kerja Tn. Arkarna nanti disana. Hingga pembicaraan yang menyangkut kehidupan pribadi kedua keluarga itu.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd