Justine melangkah masuk ke dalam ruangan yang bernuansa putih itu dengan langkah tegap. Sambil matanya menatap lekat pada layar kaca yang sedang memutarkan video venue hutan pinus yang menjadi pilihan Emily. "Stop!" Pinta Justine. Emma dengan cepat mengikuti perintah lalu mempause videonya. "Aku mau kalian membuat altar tempat pengucapan janji suci tepat di atas pulau kecil di tengah tasik. Lalu.." "Lalu apa tuan muda Levine?" Tanya Emma tidak sabaran. "Kalian ciptakan sebuah, laluan menuju ke altar menggunakan kaca bening. Apakah bisa?" Tanya Justine. Aura dominan jelas menguar dari tubuhnya membuat Emma bisa menebak jika Justine adalah sosok yang tegas dalam setiap hal yang di lakukannya. "Ini adalah tantangan baru buat tim kami. Baik! Saya akan menerimanya dan saya sendiri lah yan

