Jangan membentuk cinta pada orang yang salah. Karena aku tidak ingin kamu terluka namun tak mengeluarkan darah.
Sudah hampir dua jam Sarah duduk di dalam sebuah restaurant siap saji yang berada di sebuah mall besar. Dua gelas besar yang kosong di mejanya menjadi teman setia Sarah hampir setiap harinya. Bahkan pelayan-pelayan di restaurant tersebut sudah begitu mengenal Sarah karena terlalu seringnya perempuan itu datang ke sini.
Memang cukup aneh atas semua yang Sarah lakukan. Sudah 4 tahun lamanya dia seperti perempuan depresi yang sibuk menunggu seseorang. Seseorang yang bahkan tidak pernah terlihat setelah 4 tahun menghilang begitu saja.
Namun anehnya Sarah tetap melakukan semua itu, meski kini ada Lian yang sudah sah menjadi suaminya.
Bukan tanpa maksud dia melakukan semua itu, Sarah ingin semua hal yang mengganjal di hatinya dapat diselesaikan dengan baik-baik. Bukan hanya menghilang tanpa pesan terakhir sedikitpun.
"Mbak Sarah mau pesan minuman lagi?" tanya salah satu pelayan.
Sarah menggeleng. "Nggak, Mbak. Makasih. Udah terlalu lama saya duduk di sini." jawab Sarah melemah.
Hari ini, tepat tanggal 19 Maret 2018, laki-laki itu masih belum terlihat kembali di kedua mata Sarah.
Lalu ke mana perginya dia?
"Sarah..., " panggil perempuan yang dulu pernah satu kampus dengannya.
"Eva?" ucap Sarah tidak yakin.
"Iya. Seneng deh lo masih ingat sama gue." peluk Eva merasa bahagia. "Lo ke mana aja selama 4 tahun ini? Udah nggak mau kumpul lagi sama anak kampus."
"Gue sibuk, Va." jawab Sarah singkat. Niatnya Sarah ingin menyelesaikan pembicaraan dengan Eva secepat mungkin. Namun sepertinya Sarah tidak mampu mengelak ajakan Eva untuk duduk di salah satu kursi dalam mall tersebut.
"Ih, cerita-cerita dulu dong. Udah lama nggak ketemu lo mau buru-buru aja." tahan Eva pada lengan Sarah.
"Gue buru-buru, Va. Takut suami gue nunggu di rumah."
"Suami? Wah..., keren. Lo benaran jadi nikah sama Alham? Gila. Hebat banget kalian. Pacaran dari awal kuliah, sampai nikah. Keren. Salut banget gue. Gue pikir lo bakalan pisah dari Alham. Eh ternyata jadi juga tuh cowok ngelamar lo. Tapi emang bagus sih lo nikah sama dia, doi kan anaknya ustad ya setidaknya kalau sama dia agama lo jauh lebih baik."
Sambil mendengarkan kalimat dari temannya itu, Sarah cuma bisa tersenyum dalam ringisan. Sepertinya Eva salah mengartikan kalimatnya tadi.
Sarah memang sudah menikah dengan seorang laki-laki. Namun laki-laki tersebut bukanlah Alham Laksamana yang sejak dulu sudah menjalin hubungan dengannya.
Bahkan kini Sarah saja tidak tahu di mana keberadaan Alham. Yang jelas Alham telah meninggalkannya 4 tahun yang lalu tanpa penjelasan sedikitpun. Apalagi yang Sarah ingat ketika itu mereka berdua tengah makan bersama di restaurant tempat Sarah menunggu tadi. Namun sampai selama ini, Alham tidak pernah kembali setelah pamit untuk ke toilet kepada Sarah.
Bukannya Sarah tidak pernah mencarinya. Sekian lama Sarah mencoba menghubungi nomor laki-laki itu, tetapi nomor tersebut tidak pernah aktif kembali.
Tidak hanya sebatas menghubungi, Sarah pernah mendatangi rumah orang tua Alham yang Sarah ketahui keberadaannya. Tapi keberhasilan yang Sarah dapatkan sama sekali tidak ada. Rumah itu sudah kosong tanpa penghuni. Sarah mencoba bertanya kepada tetangga sekitar namun tidak satu pun orang yang tahu.
Akan tetapi dari kabar yang berhembus, keluarga Alham secara mendadak pindah rumah ke Amerika. Entah apa alasannya, Sarah pun tidak terlalu mengerti. Yang jelas semuanya lenyap begitu saja seperti ditelan Bumi. Tanpa penjelasan satu katapun kepadanya.
"Eh, malah melamun lo. Tapi si Alham baik kan kabarnya?"
"Begini, Va. Gue..., " Baru saja Sarah ingin menjelaskan semua kesalah pahaman ini, ponsel Sarah berbunyi. Ada nama Lian tertera di layar ponselnya. "Sorry, gue angkat telepon dulu."
Sejenak Sarah menjauh dari Eva.
"Apaan?" tanya Sarah galak.
"Assalamu'alaikum, istriku yang galak." ucap Lian sambil menahan tawa.
"Wa'alaikumsalam,"
"Tuh kan enak dengarnya kalau kamu jawab salam." tawanya geli. "Kamu lagi di mana, Sar?"
"Lagi di mall. Sebentar lagi aku pulang. Kenapa sih? Pakai telepon segala. Tenang aja aku nggak kabur."
"Duh, PMS lama banget hilangnya. Kapan sih kamu nggak emosi sama aku?" gumam Lian seorang diri.
"Abis kayak anak kecil aja. Pakai tanya-tanya lagi di mana."
"Bukan begitu, Sar. Maaf kalau aku ganggu waktu kamu. Tapi..., " ucap Lian agak ragu. "Bisa jemput aku nggak. Lagi di kampus nih. Mau pulang naik bis sayang ongkos. Kan lumayan buat jajanin kamu makanan tahu yang suka jualan keliling rumah."
"Jemput?" ulang Sarah tidak yakin.
"Iya Sarah sayang. Jemput aku. Maklum lah kita tuh harus hemat. Kamu tahu sendiri aku belum dapat pekerjaan. Jadi harus mengurangi pengeluaran sebisa mungkin. Ya, jemput aku. Nanti aku yang nyetir deh. Kamu duduk aja kayak tuan Putri. Tapi duduknya jangan jauh-jauh. Karena aku takut aja gitu disangka supir taksi online."
Sarah melihat ke arah Eva sejenak. Akhirnya dia punya alasan untuk pergi dari perempuan itu.
"Ya udah, tunggu di sana."
"Duh, udah cocok banget deh anter jemput anak."
"Kamu bukan anak-anak lagi. Tapi bangkotan!!" sembur Sarah sebelum memutuskan panggilannya.
"Maaf, Va lama. Gue harus buru-buru nih. Suami gue minta jemput."
"Jemput? Emang Alham lagi di mana?"
"Ah, dia lagi ada urusan. Tadi nggak bawa kendaraan tuh orang. Jadi ngerepotin gue sekarang. Nanti deh ya kita ngobrol-ngobrol lagi."
"Eh..., iya. Tapi gue boleh minta nomor WA lo?"
Setelah akhirnya dapat kabur dari Eva, Sarah bisa bernapas lega. Perempuan itu bergegas datang ke kampus Lian yang kondisinya cukup jauh dari tempatnya saat ini.
"Sialan. Gue dikerjain sama tuh bocah." gerutu Sarah.
Dari kejauhan Sarah sudah bisa melihat di mana Lian berada. Tubuh kurus dan tinggi yang tidak seberapa itu cukup mencolok bagi siapa saja yang melihat. Bagaimana tidak, warna kulit Lian memang cukup langka untuk laki-laki Indonesia. Karena itu sekali melihat saja Sarah sudah mengetahui bila laki-laki itu adalah Lian.
"Hai..., " tegur Lian sesaat setelah mobil Sarah merapat kepadanya. Kaca mobil itu sudah diturunkan dan menampilkan wajah manis Sarah menurut versi Lian.
Padahal ekspresi Sarah tengah kesal setengah mati karena permintaan Lian untuk menjemputnya.
"Biar aku aja yang nyetir."
"Nggak usah. Ayo pulang."
"Wow..., diajak pulang buru-buru emang kamu mau ngapain sih?"
"Pikiranmu itu loh. Negatif aja!!!" kesal Sarah.
"Hahaha..., siapa yang negatif sih, Sar. Kamu tuh yang mikir negatif terus sama aku. Memangnya ada yang salah sama kalimat tanya aku? Bisa jadi kan kamu mau menambah pahala dalam melayani suamimu ini."
"Kan dibilang lagi PMS. Nggak paham banget sih. Heran. Kenapa semua cowok otaknya cuma keselangkangan aja. Padahal kan yang sukai perempuan nggak hanya itu." keluh Sarah semakin kesal.
Lian menundukkan kepalanya. Menatap wajah Sarah dari dekat melalui jendela yang terbuka. "Kalau kamu sikapnya begini terus, aku takut hubungan kita akan jalan di tempat, Sar. Kita berdua lelah dalam menjalaninya, namun tujuan yang kita inginkan nggak ada yang tercapai. Karena itu aku mohon sama kamu, jangan menolak apa yang seharusnya dijalani dengan baik. Akibatnya kamu nggak akan marah-marah seperti ini, dan hubungan kita akan menjadi lebih baik. Lagi pula kenapa sih kamu nolak aku? Jika semua itu karena urusan dunia, aku mohon maaf karena belum sepenuhnya siap memberikan yang sempurna untukmu. Tetapi jika ini mengenai urusan akhirat. Aku berjanji, nggak akan membiarkan bidadariku merasakan panasnya api neraka."
Sarah mengigit bibirnya kuat, menahan laju air matanya yang ingin segera menetes. Ada rasa haru yang menyeruak di dalam hatinya. Diperlakukan begitu istimewa oleh seseorang rasanya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Sarah pun hanya perempuan biasa, yang mudah sekali tersentuh perasaannya. Padahal Lian tidak sedang menggombal. Wajahnya terlihat begitu serius. Dan Lian pula tidak memberikannya janji-janji indah. Tapi rasanya begitu memikat hati Sarah.
“Ayo masuk!”
“Tapi janji ya nggak marah-marah lagi.”
“Tergantung kamunya. Bisa jaga sikap apa nggak.”
Lian langsung tersenyum lebar. “Jangankan jaga sikap, jaga kemaluan aja di depan pasangan halal kayak kamu, aku bisa.” Ucapnya penuh sindiran.
Tapi bagusnya Sarah tidak ambil pusing dengan kata-kata Lian barusan. Karena jika semakin ia ladeni, maka Lian akan semakin menjadi.
----
continue