Rizal berjalan disamping Jeani seperti remaja yang baru naksir cewek idamanannya tanpa berani melakukan apapun. Serba kikuk membuat Jeani meliriknya geli. “Kamu kenapa, Mas?” “Hah?” “Kamu sedang mikirin apa?” ulang Jeani. “Kamu. Kira-kira, kalau aku gandeng tanganmu, ditepis, gak, ya,” gumam Rizal. “Aku lihat jalanan disini tidak licin jadi kau tidak perlu khawatir aku jatuh,” cengir Jeani. “Apa hubungan jalanan licin sama gandeng tangan? Dasar aneh,” keluh Rizal dalam hati. “Parkir dimana?” tanya Rizal setelah mereka keluar gedung. “Di sebelah sana. Kamu sendiri?” tunjuk Jeani ke arah selatan. “Aku juga parkir disana, jadi kita bisa jalan menuju arah yang sama.” “O.” Hanya 1 huruf yang jawaban yang diberikan oleh Jeani tetapi sudah cukup membuat Rizal tersenyum. Walaupun jalan

