Kembali

2565 Words
DUA bulan kemudian. Setelah pemikiran dan perundingan yang sangat panjang. Akhirnya Vio memutuskan untuk kembali pulang. Vio tidak tau entah masih ada tempat untuknya kembali pulang atau tidak. Jika tidak ada, setidaknya dia kembali untuk pekerjaannya yang sudah ditinggalkannya selama 8 bulan. Selama 8 bulan terakhir ini dia benar-benar kehilangan pemasukan bulanan nya karna memilih cuti dan menjadi pengangguran. "Welcome back Vio." Ucapnya pada diri sendiri. "Ada baiknya kalau ada yang nunggu dan ngucapin itu ke gua. Si Disya lagian apa-apaan coba pake tiba-tiba gak bisa jemput! Tau gitu gua balik ke tempat bunda dulu, dari pada kesini!" Omel Vio pada dirinya sendiri. Vio mendorong kedua koper berukuran sedangnya. Dan memberhentikan taksi yang lewat. Vio meminta diantarkan keapartment yang tidak jauh dari kampusnya. Sepertinya setelah 8 bulan mengasingkan diri, membuat Vio benar-benar sudah mengandalkan dirinya sendiri ketimbang orang lain. Dan setelah memutuskan untuk mengasingkan diri selama berbulan-bulan. Mobil jazz merah kesayangannya juga harus diasingkan ke rumah orang tuanya diluar kota. Membuat Vio harus tinggal di tempat yang tidak jauh dari tempatnya berkerja. Karna tidak ada mobil untuk nya pergi dari rumah nya sebelumnya. Dan juga dia tidak memiliki orang yang siap mengantar jemput dia untuk berkerja. Tliing.. Tliing.. Hp Vio berdering, ada 2 pesan yang masuk. Vio sudah bisa menebak siapa yang mengirim pesan padanya, tidak lain dan tidak bukan adalah Disya. °°° "Lo dimana Vi? Kalau udah di apart kabarin." "Vio, hp gua mendadak panas! Apa karna ngirim pesan ke hp baru ya?" °°° Kedua pesan itu berasal dari Disya, teman cantik yang kuterima Vio untuk tau segala tentang kehidupanku. Vio memutuskan mengganti hp lamanya dengan hp keluaran terbaru saat memutuskan kembali pulang. Entah apa yang merasuki Vio saat membeli hp keluaran terbaru itu. Tapi, Vio mulai menikmati nya. Seolah-olah dia adalah orang baru tanpa mengingat kehidupan sebelumnya. °°° "On the way, 15 menitan lagi sampai, Lo di rumah sakit aja dulu. Nanti setelah beberes, gua kesana. Habisin infus Lo, kalau segitu kangennya sama gua. Lo Telen tuh infus!" °°° Disya tidak bisa menjemput Vio dikarenakan dia tiba-tiba harus mendapat infus untuk sakit radang tenggorokan nya. Belakangan ini Disya memang sering sakit-sakitan. Disya berfikiran jika itu terjadi karna tidak dia tidak menjalankan semboyang nya. "No shopping, no life." Semenjak Vio pergi untuk mengasingkan diri, Disya tidak memiliki teman untuk bertukar pendapat tentang barang apa yang harus dibelinya. Hal itu membuat Disya enggan untuk pergi shopping. Kini 2 jam sudah berlalu sejak Vio kembali menginjakkan kakinya di apartemen mewah dengan miliki nya ini. Tapi Vio masih enggan untuk memulai beres-beres nya. Rasa lelah mulai menghantui raganya, jadi Vio memutuskan untuk berendam di bathtub nya sambil melihat kearah luar apartemen nya. "Hello, how are you An?". Tanya Vio bermonolog sambil menikmati pemandangan kota yang ada di hadapannya. "Bahkan setelah 8 bulan aku pergi menjauh dari kamu dan mengasingkan diri, semua isi hati dan pikiran aku masih kamu. Maaf karna keegoisan aku An." Ucap Vio lagi. Vio menarik nafas perlahan, kemudian membuangnya dengan berat. "Dan bahkan setelah pergi menjauh, semuanya masih terasa berat bagi aku." "An, apa kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu sekarang? Aku akan senang kalau kamu bahagia." "Aku senang kamu kembali seperti dulu, kamu yang kembali bahagia dengan wanita yang kamu pilih. Walaupun aku disini sendirian tanpa merasakan kebahagiaan." "Takdir memang selalu sekejam itu sama ku. Pada akhirnya kamu akan selalu bahagia dengan mereka yang kamu pilih. Dan aku akan meratapi kesedihan ku dari jauh, tanpa kamu tau." Ucap Vio dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya. Setelah Vio merasakan kulit putihnya mulai mengkerut karna terlalu lama berendam. Akhirnya Vio memutuskan untuk keluar dari bathtub dan segera membersihkan diri lalu bersiap-siap menjenguk Disya dirumah sakit. •••••   -Dirumah sakit.- Setelah memastikan dimana kamar inap Disya berada, Vio langsung meluncur ketempat itu. Vio berjalan sambil memainkan ponselnya dan tidak memperhatikan jalannya. Membuat Vio tanpa sengaja menabrak seseorang yang berlawanan arah dengannya. "Astaga, maaf gua gak sengaja." Ucap Vio merasa bersalah. Seorang pria tinggi dengan seragam putih panjang tersenyum pada Vio sambil mengatakan bahwa dia tidak apa-apa dan Vio tidak perlu merasa bersalah karena dia juga salah tidak memperhatikan jalannya. Baru saja Vio hendak kembali melanjutkan jalannya, namun langkah nya harus tertahan karna pemandangan yang dilihat didepannya. Cukup jauh beberapa meter didepannya, tapi Vio bisa melihat pemandangan itu dengan jelas. Pemandangan Andra yang sedang bermain dengan anak yang sedang berada didalam pangkuan Kiara. Vio tersenyum singkat, kemudian berkata. "Ternyata kamu memang benar-benar sudah bahagia disini. Selamat An, aku turut senang atas kamu." Batin Vio "Dan sepertinya dugaan ku benar. Aku udah gak punya tempat untuk pulang lagi disini." Gumam Vio pelan. ••••• SUDAH 2 bulan setelah kepulangan Vio, Vio sudah kembali mengajar di kampusnya seperti biasa. Kali ini Vio jauh lebih sibuk dari sebelum nya. Vio benar-benar sengaja menyibukkan diri untuk membuatnya tidak teringat pada Andra dan Kiara yang sudah bahagia dengan buah hati meraka. Vio benar-benar berusaha untuk menjaga moodnya agar tetap baik selama mengajar baik itu kelas maupun di laboratorium. Walaupun setelahnya Vio akan kembali uring-uringan di apartemen nya. "Vi, ayo lah. Lo udah dua bulan balik kesini. Dan gua udah 2 bulan lebih keluar dari rumah sakit. Dan Lo masih belum puas menyendiri?" Desak Disya sambil mengayunkan tangan Vio. "Ayo kita shopping Vio, gua benar-benar butuh shopping buat masa pemulihan gua." Rengek Disya tak masuk akal. "Pergi sendiri aja Dis." Ucap Vio entah untuk yang berapa kalinya. "Gua gak mau sendiri, gua gak suka belanja sendiri. Gak seru Vio, enak juga kalau ada Lo. Ada teman yang bisa gua hasut." Vio menatap tajam teman seperkantorannya itu. Bukannya takut, Disya malah membalas tatapan tajam Vio dengan cengengesan. "Ayok lah Vi." Rengek Disya lagi tak gentar. "Yaudah, yaudah buruan, gua baru ingat kalau ada yang harus gua beli." Ujar Vio sambil menerka nerka. "Apa? Lo mau beli apa?" Tanya Disya excited. "Kado." "Wah, buat siapa buat siapa. Gua suka nih yang kayak gini-gini." Ucap Disya semangat. Vio diam kemudian tersenyum kecut. "Rahasia." Ujarnya singkat. "Gak seru Lo Vi, sumpah asli deh." "Gua gak perduli." Jawab Vio santai. ••••• Dimall, Vio dan Disya langsung menuju tempat yang diinginkan Vio. Tempat dimana dia dapat mencari kado yang diinginkannya. "Mothercare?" Bingung Disya saat keduanya masuk kedalam store mothercare, yang menjual perlengkapan ibu hamil, bayi dan anak-anak.  "Lo mau beli apa disini Vi? Keponakan Lo ada yang lahir? Atau anak teman Lo? Tapi kan teman Lo gua doang." Tanya Disya meminta penjelasan. Vio berjalan berlalu mengabaikan pertanyaan Disya, matanya tertuju pada dua stroller bayi. "Dis, bagusan yang ini atau yang ini?" Tanya Vio sambil menunjuk dua stroler bayi yang berbeda bentuk tapi dengan warna yang sama, yaitu hitam. Disya menoleh pada barang yang ditunjuk oleh Vio dan tampak sedikit berfikir sesaat. "Kalau menurut gua yang kanan aja. Modelnya lebih kekinian kalau yang sebelah kiri terlalu clasik." Ujar Disya memberi penilaian pada Vio. "Vio jawab pertanyaan gua! Lo beli buat siapa?!" Pekik Disya tiba-tiba. "Anaknya Andra." Jawab Vio tenang. Disya terdiam karna merasa bersalah sudah menuntut Vio untuk menjawab pertanyaannya. "Maaf Vi, gua gak tau." Vio tersenyum tipis. "Karna gak tau makanya nanya. Santai aja dis, cepat atau lambat gua harus mulai terbiasa dengan ini." Disya memandang teman belanjanya itu dalam. "Ngapain ngirim hadiah, Vi? Bukannya lebih baik kalau dia gak tau Lo udah kembali kesini?" Tanya Disya dengan nada serius. "Hmm, Andra udah bahagia sama keluarga kecil nya, gak ada tempat gua untuk kembali kesitu. Jadi gua pikir gak masalah untuk ngirim hadiah. Hitung-hitung permintaan maaf karna gak bisa datang pernikahan mereka waktu itu." Jawab Vio tenang, tanpa beban. Disya menganggukkan kepalanya pelan. "Semoga benar-benar gak masalah ya, jujur vi gua bukan mempermasalahkan dia, gua bahkan gak perduli sama kebahagiaan dia. Yang gua permasalahkan disini itu hati Lo!" "Gua Vio, dis, gua bisalah akting baik-baik aja. Tanpa harus nunjukin kesakitan gua didepan dia lagi. " Ucap Vio santai. "Semoga itu bukan cuman akting aja nantinya. Semoga Lo benar-benar baik-baik aja ada atau tidak dia dihidup Lo Vi." Disya memeluk Vio erat. Vio membalas pelukan Disya. "Thankyou udah mengerti dan berusaha mengerti gua dis." "Urwel sistah. Itu gunanya gua dihidup lo." Ujar Disya dengan berbangga hati. ••••• Setelah menyelesaikan urusan di mothercare, Vio dan Disya berkeliling untuk shopping. Disya ingin segera menuntaskan hasrat berbelanja nya yang sudah tertahan lama. "Vi, ke Zara. Gua udah lama banget ngidam pengen ke Zara." Ucap Disya dengan nada memelas. "Lo tinggal di kota dis, gimana bisa Lo ngidam ke Zara? Tapi bentar-bentar, Lo ngidam? Lo gak lagi hamil kan! Kapan Lo nikahnya Disya! Kenapa gak undang gua! Jangan bilang lo diluar juga kayak pacarnya Andra!" Cerca Vio. Disya sambil menatap sinis Vio yang baru saja marah dengan menggebu-gebu. "Pikiran Lo kejauhan Vio!" "Jadi apa?!" "Vi, semenjak Lo pergi mengasingkan diri, gua gak punya teman shoping. Jadi gua cuman bisa belanja barang online yang gua kirim ke Lo. Gua pengen banget ke store nya tapi gua malas sendiri. Karna Lo pergi nya 8 bulan. Berasa mau melahirkan gua, nunggu Lo balik buat nuntasin ngidam gua ke Zara!" Jelas disya panjang lebar. "Alibi Lo sempurna!" Sesal Vio. "Buruan masuk, gua penasaran dengan masa waktu ngidam selama 8 bulan itu, sebanyak apa belanjaan Lo nantinya." Tantang Vio pada Disya. "Soal banyak belanjaan, Disya jagonya. Apalagi ini dizara. Kecil itu Vio kecil." Ucap Disya enteng. Vio hanya tertawa mendengar ucapan Disya. Disisi lain, saat Vio dan Disya sedang bercanda dan tertawa ria. Ada sepasang mata yang tidak sengaja melihat kearah mereka. "Vio?" Nada kaget. "Itu beneran Vio?" Ucap nya sambil mengucek matanya. "Atau otak gua yang lagi berhalusinasi?" Orang tersebut kembali menoleh pada arah dimana Vio dan Disya berada namun Vio sudah tidak disitu lagi. ••••• EL, Abang Andra, berteriak panik memanggil namanya sejak dia baru saja menginjakkan kaki nya didalam rumah mamanya. "Ma, mama!" Teriaknya lagi. "Kenapa bang?" Tanya Tante Aliya begitu berhadapan dengan putra sulungnya. "Andra mana ma?" Tanya El dengan nada berbisik. "Di apartemen nya lah. Ngapain dirumah mama." Kesal Tante Aliya. "Mama udah dapat kabar dari Vio belum?" Tanyanya El masih dengan nada berbisik. Tante Aliya membulatkan matanya sempurna. "Kenapa kamu nanya itu? Kamu udah dapat kabar dari Vio?" Tanya Tante Aliya. "Belum ma, makanya El nanya mama." "Lagian, kenapa kamu nanya Vio? Kan biasanya mama yang selalu nanya Vio!" El melihat sekelilingnya kemudian berbisik pada mamanya. "El, tadi lihat Vio di mall ma." Tante Aliya menatap dalam putranya. Dia tahu betul bahwa ini bukan lelucon. Karna tidak ada yang berani menjadikan Vio sebagai lelucon dirumah ini. "Kenapa pada bisik-bisik?!" Tegur Andra begitu melihat mama dan Abang nya berbisik. Mata Tante Aliya membulat dengan besarnya saat melihat Andra diujung pintu. "Ini Abang kamu, mau beli mobil baru katanya. Iya mobil baru." "Mobil apa? Gak pamit kakak ya Lo?" Tuduh Andra langsung. "Sstt, jangan ribut. Nanti ada yang dengar." Ucap El mengikuti taktik akting mamanya. "Ma, mama udah dapat kabar dari Vio?" Tanya Andra mengalihkan pembicaraan. "Hmm? Belum, iya belum. Gimana mama bisa tau, kalau kalian aja gak ada yang tau." "Mama lagi salah tingkah barusan?" Tanya Andra curiga. "Enggak!" Teriak Tante Aliya. Andra smirk sebelum melanjutkan kalimatnya. "Iya mama salah tingkah. Kenapa ma? Padahal Andra cuman nanya Vio bukan nanya mama selingkuh atau enggak." "Mama gak salah tingkah kok." Elak Tante Aliya. Andra mantap tajam mamanya. Untuk memastikan benar atau tidaknya mama nya salah tingkah. Setelah memastikan itu, Andra kembali menunjukkan smirknya. "Mama nyembunyiin apa dari aku ma?" Tanya Andra was-was. "Gak bisa diajak kompromi ini mama memang." Batin El dalam hati, kemudian ingin beranjak dari duduknya. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau mengelak bagaimanapun tidak akan berhasil. Andra tidak akan bisa dibohongi. Memang sangat susah untuk membohongi tukang bohong. "Gua gak tau ini bener atau enggak, tadi gua liat Vio dimall. Tapi gu-" Andra langsung keluar tanpa mendengarkan lanjutan ucapan El. Dan juga tanpa pamit kepada mama dan abangnya. "Gua belum selesai ngomong Andra!!" Teriak El pada Andra yang sudah tidak berada di ruangan itu lagi. "Biarin aja. Kalau dia nyari tau kabar Vio, nanti mama juga jadi tau gimana kabar Vio sekarang. Mama kangen sekali dengan Vio." Ungkap Tante Aliya sedih. El hanya bisa terdiam. "Maaf ma, mau nya tadi El langsung nyamperin Vio. Bukan malah gak percaya dengan apa yang El lihat." "Enggak, kamu gak salah. Mungkin ini udah jadi takdirnya, bukan kamu yang mempertemukan mama dengan Vio lagi." ••••• Disisi Andra, Andra menghubungi nomor Vio tapi masih tetap tidak aktif juga. Andra mencoba mendatangi rumah dimana tempat Vio tinggal. Tapi bukan Vio yang didapatnya melainkan orang lain. Karna rumah itu sudah Vio sewakan pada orang lain. "Vi, kamu benar-benar kembali atau enggak? Kenapa masih sesulit ini untuk ketemu sama kamu Vi." Sedih Andra didalam mobilnya. Besoknya Andra pergi kekampus tempat Vio ngajar. Namun, Andra tidak tau Vio akan ke kampus hari ini atau tidak, Andra tidak tau fakultas apa yang diajar oleh Vio dan juga Andra tidak tau, dimana letak tempat yang selalu didatangi wanita itu. Andra hanya diam diparkiran yang tidak jauh dari gerbang masuk, untuk melihat ada tidak mobil Vio yang masuk hari ini. Andra menghela nafas berat. "Aku nyesal Vi, aku nyesal gak pernah mau tau apapun soal kamu dulunya. Kamu selalu jadi pendengar setia aku, tapi aku gak pernah mendengar tentang kamu." Sesal Andra sedih. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Setelah perkenalan, lalu pengenalan dan terakhir penyesalan. Begitu lah urutan dalam kehidupan, tidak ada satu orang pun yang bisa mengubah urutan tersebut. Hari sudah menjelang sore, Andra masih tidak melihat mobil Vio masuk kepekarangan kampusnya. Andra sangat enggan menanya hal itu ke bagian dosen. Karna dia takut jika Vio tau bahwa dia mencarinya. Andra hanya ingin melihat Vio bukan untuk menemui Vio saat ini. Andra tau setelah 9 bulan pergi menjauh, tidak mungkin Vio senang didatangi oleh pria b******k sepertinya, pria yang menjadi alasan dari kepergiaannya. Besoknya setelah jam makan siang Andra belum juga melihat mobil Vio masuk kedalam kampus. Andra memutuskan untuk turun dan pergi kekantin untuk membeli beberapa makanan untuk mengganjal perut nya. Saat dikantin, ada rasa ingin bertanya pada seluruh orang yang ada dikantin apakah ada diantara mereka yang mengenal Vio atau tidak. Karna Andra ingin bertanya apakah Vio sudah kembali atau belum. Tapi egonya tidak setinggi itu. Andra memesan makanan nya dan duduk di kursi paling pojok kantin ini. Ada beberapa mahasiswa disana, Andra memilih untuk tidak memperdulikan keberadaannya itu. Selagi makan, Andra mendengar perbincangan beberapa mahasiswa yang tidak jauh dari duduknya tersebut. Bukan sengaja mendengar, hanya saja mahasiswa itu bicara dengan nada keras. "Ngelaprak lagi?" Tanya salah satu mahasiswa itu pada temannya, temannya hanya mengangguk tanpa membunyikan suaranya. Mata dan tangannya masih fokus pada tugasnya. "Laprak siapa? Bu Disya, Bu Laras?" Mahasiswa itu mengehentikan tangannya kemudian melakukan peregangan. "Bu Vio." Prang! Suara sendok jatuh beradu dengan piring terdengar dari meja tempat Andra makan. Andra terkejut saat mendengar nama Vio disebut. "Semenjak balik dari cuti, Bu Vio makin killer. Kalau ngasih tugas gak kira-kira banyaknya, terus laprak gak habis-habis, belum nanti responsi, mana responsi nya 2 kali lagi." "Setidaknya walaupun killer, Bu Vio cantik enak dilihatnya. Coba aja Bu Laras, udah killer gak enak dilihat lagi." Ucap mahasiswa yang lain. "Kamu beneran udah kembali Vi? Kamu benar-benar kembali kesini Vi?" Batin Andra senang. Semesta layaknya membantu menjawab pertanyaan Andra. Beberapa saat setelah itu, Vio muncul dikantin itu sambil tertawa dengan teman-temannya. Andra yang melihat hal tersebut langsung tersenyum. "Ternyata kamu memang benar-benar kembali Vi, terimakasih udah kembali, walaupun bukan untuk aku. Aku bersyukur kamu kembali dan aku senang kamu bisa tersenyum lagi sekarang." Batin Andra. "Mungkin benar kata Marko 8 bulan lalu. Ada baiknya kalau kita saling berjauhan. Aku bisa lihat kamu senyum lagi dan aku gak perlu lihat kamu nangis." Sambung Andra bermonolog dalam hati.   “Apakah aku masih punya tempat untuk pulang? Atau aku benar-benar sudah terusir dari hidup mu?” •••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD