DIMOBIL, Vio hanya diam sambil melihat kearah luar mobil. Berulang kali Disya berteriak kesal karena tidak dihiraukan oleh Vio.
"Vio, Lo jujur deh. Lo kesambet setan apa tiba-tiba diam gini haa?" Tanya Disya entah sudah yang keberapa kalinya.
"Gak ada Disya, gua gak kesambet apa-apa. Yang ada Lo tu yang kesambet dari tadi teriak-teriak."
"Ya habis Lo diajak ngomong bukannya jawab. Ini mau kemana? Layaknya Lo ngethreat gua dibali, gua akan ngethreat Lo juga dijakarta." Bangga Disya.
"Lo mau ngethreat gua dengan kemacetan dis?" Tanya Vio sambil menunjuk barisan kemacetan yang ada disekeliling mereka.
"Vio, maksud gua itu-"
"Kids station. Gua mau beli mainan buat Bagas, nanti Lo tolong bantuin kirim kerumah nya ya." Pinta Vio.
"Kenapa selalu Bagas? Gua pulang dari Bali, bawain ini buat Bagas. Gua kemana, beliin itu buat Bagas. Lo gak lagi frustasi kan Vi? Lo bukan lagi nunggu Bagas gedek kan? Enggak kan Vi?" Tanya Disya beruntun.
"Imajinasi Lo bahaya dis, gua gak kefikiran kesitu bahkan." Ejek Vio pada Disya sambil menggelengkan kepalanya.
"Gua tadi ketemu Bagas, dia minta ikut tapi gua tinggal gitu aja. Jadi gua mau beli mainan buat Bagas." Ujar Vio menjelaskan
"Tapi apa-apa selalu Bagas, Vio."
"Mungkin, karna dia lebih manja ke gua kali ya. Gua dekat sama Aldo, tapi beda dengan Bagas. Bagas lebih tulus, kalau Aldo ikut-ikutan karna gak mau kalah sama Bagas." Ucap Vio tersenyum sambil mengingat-ingat kelakuan Bagas padanya.
"Bagas selalu nelpon gua setiap pagi kalau mau sekolah, dia pamit dulu. Padahal kan nyokapnya bukan gua." Kenang Vio.
"Terus lo gak pengen disini, dekat sama Bagas lagi?" Tanya Disya.
"Pengen, tapi tempat gua bukan disini. Jadi gua gak mau meninggikan ego gua, buat nerima rasa sakit nanti nya." Ujar Vio santai sambil mengingat Andra yang menggendong Faris.
Disya menghela nafas panjang. "Terserah ibu vio saja, saya nurut aja bu." Kesal Disya, Vio hanya terkekeh mendengar Disya.
•••••
Sepulang dari mall, Disya mengantar Vio kembali ke hotelnya. Disya ikut turun karna ada banyak sekali bawaan milik Vio. Lagipula, Disya juga ikut menginap disini. Disya ingin tidur malam ini dengan Vio, karna besok Vio akan kembali keharibaannya.
Saat Vio dan Disya sedang berjalan melewati lobby, ada suara anak kecil yang memanggil Vio. "Anty Vio." Panggil Bagas.
"Bagas?"
Bagas langsung berlari kearah Vio sambil menangis. "Anty, kenapa anty jahat sama Bagas? Kenapa anty ninggalin Bagas tadi sore? Kenapa anty pulangnya lama, Bagas capek nunggu anty disini."
Vio berjongkok didepan Bagas, sambil menghapus air mata Bagas.
"Bagas kenapa nangis, hmm? Ingat, anak laki-laki gak boleh nangis." Bujuk Vio.
"Kata siapa? Om Andra laki-laki, tapi om Andra sering nangis kalau lagi duduk diatas sendirian." Ujar Bagas sambil menunjuk Andra.
Vio menoleh pada Andra yang berdiri tidak jauh dari mereka. Entah mengapa Vio merasa kalau Andra sedang mencoba menjauhinya. Vio memaklumi itu, bisa saja itu karna Andra sudah menikah dan ingin menjaga perasaan istri nya.
"Bagas mau tidur sama anty, Bagas mau anty dongengin. Bagas gak mau pulang pokoknya, Bagas gak mau anty suruh pulang!" Paksa Bagas tak gentar.
"Kalau bagas mau tidur sama anty, kenapa Bagas bawa om Andra sayang?" Tanya Vio sambil menatap lembut Bagas.
"Kenapa? Anty gak suka ya kalau om Andra ikut? Atau anty lagi marahan ya sama om Andra?"
"Bukan sayang, om Andra kan gak bisa ikut masuk kekamar anty." Jawab Vio lembut.
"Kenapa gak bisa anty? Waktu itu Tante Kiara boleh masuk kedalam kamar om Andra." Jujur Bagas.
"Hmm, anak kecil sepolos itu ternyata. Selesai sampai disitu Vi, jangan ditanya lebih. Nanti lebih sakit." Ucap Disya enteng.
"Yaudah ayok kekamar anty." Ajak Vio.
"Om Andra sini, bantuin anty Vio ngangkat barangnya. Bagas mau pegang tangan anty Vio!" Perintah Bagas.
Dengan berat hati, Andra menghampiri keduanya kemudian mengambil alih barang bawaan Vio dan membiarkan bocah kecil yang menjajahnya itu menggenggam tangan mulus Vio.
Dikamar Vio, setelah meletakkan barang bawaan Vio. Andra menahan tangan Vio, sontak membuat Vio langsung menoleh padanya.
"Kata kak putri, cukup sampai Bagas tidur. Nanti setelah tidur aku bawa pulang." Ujar Andra pelan.
Vio mengangguk pelan.
"Aku tunggu diluar."
Baru saja Vio akan berkata "disini aja" tapi otaknya kembali mengingat Faris dan Kiara. Membuat Vio akhirnya mengangguk pelan.
Setelah Bagas tertidur, Vio keluar memanggil Andra. Andra sedang berdiri diujung koridor sambil menatap layar hpnya. Vio mengira bahwa Andra sedang bermain game.
"An-." Panggilan Vio terpotong, karna melihat Andra menangis.
Dengan cepat Andra menghapus air matanya, menoleh pada Vio dan bertanya kenapa.
Bukannya menjawab, Vio malah bertanya. "Kamu kenapa nangis?"
Andra menggelengkan kepalanya. Membuat Vio diam. Ini adalah pertama kalinya Andra nolak untuk cerita sama Vio. Biasanya Andra akan bercerita panjang lebar pada Vio tentang masalahnya.
"Bagas?" Tanya Andra.
"Udah tidur." Jawab Vio singkat.
"Hmm."
"Mau diangkat sekarang?" Tanya Vio.
"Iya, kasihan kalau kemalaman." Jawab Andra
"Yaudah, ayok aku anterin ke bawah." Ajak Vio sambil berjalan kearah kamarnya.
Andra menahan tangan Vio dan menarik Vio masuk kedalam pulukannya. Kemudian Andra memeluknya erat, sangat erat.
"An-" Panggil Vio dengan nada pelan.
"Gini dulu, sebentar aja." Potong Andra cepat.
Vio hanya terdiam beberapa menit. "Ini udah lewat sebentar." Ucap Vio membuka omongan lagi.
"Belum Vi, kekuatan aku belum kembali sepenuhnya. Aku masih perlu nge-charge daya aku." Ucap Andra lemah. Ada rasa lelah yang sangat besar dari nada bicaranya.
"Tap-"
"Lima menit aja, cuman Lima menit aja lagi. Aku gak tau kapan bisa ngeliat kamu dan meluk kamu lagi. Jadi aku perlu nge-charge diri aku lama." Jelasnya panjang lebar.
Vio kembali terdiam. Tangannya masih menggantung dikedua sisi badannya. Berbeda dengan Andra yang melingkarkan tangannya dipunggung Vio dengan sangat erat.
"An." Panggil vio setelah 5 menit berlalu.
Andra menghela nafas berat. "Aku pengen hentikan waktu sekarang juga. Supaya aku bisa meluk kamu, tanpa takut kamu suruh lepas kayak saat ini." Ujar Andra lemah.
"An."
"Aku capek Vi. Aku capek berpura-pura bersikap baik-baik aja tanpa kamu. Aku capek bersikap aku udah bisa lupa sama kamu. Aku capek berlagak seakan-akan aku baik-baik aja tanpa kamu." Ungkap Andra lemah.
Vio hanya diam, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ini adalah pertama kalinya, pertama kalinya untuk Vio mendengar nada bicara Andra yang serapuh ini. Andra tidak bicara apapun disaat perpisahan mereka dua tahun yang lalu. Andra tidak bicara dengan nada seperti ini saat memberitahu Vio bahwa Kiara hamil.
"An jangan gini." Pinta Vio lemah.
"Aku gak bisa Vi, sejauh manapun aku coba pergi. Aku tetap akan kembali ketitik awal aku, yaitu kamu." Ujar Andra singkat.
Tes... Air mata Vio yang sudah tertumpuk saat Andra mulai membicarakan soal perasaannya akhirnya turun. Vio tidak tau air mata apa yang sedang jatuh, entah air mata kesedihan atau air mata bahagia. Yang jelas air mata ini turun begitu saja tanpa aba-aba.
"An, tolong jangan gini." Pinta Vio lemah.
"Maaf vi, karna aku kembali ngasih luka lagi buat kamu. Maaf karna aku kembali mempersulit hati kamu lagi, maaf Vio. Tapi aku udah gak sanggup, aku benar-benar gak sanggup Vi." Ungkap Andra dengan nada serak.
Vio mendorong tubuh Andra pelan. Andra menerima hal itu, tapi tangannya masih tetap melingkar di pinggang Vio. Vio menatap wajah Andra lama, menghapus jejak air mata Andra.
"Kenapa kamu jadi cengeng sih." Ejek Vio berusaha mengalihkan pembicaraan.
Andra hanya diam sambil menatap Vio, matanya masih menangis. Mungkin Andra akan terus menangis, hati nya senang ketika jari mungil Vio menyentuh pipinya untuk menghapus air mata nya.
"Apa ini karma buat aku Vi?" Tanya Andra mengabaikan ejekan Vio.
"Karma aku karna ngebuat kamu nangis selama 7 atau 9 tahun. Karma aku karna gak pernah sedikitpun ngeliat kearah kamu."
"An, semuanya udah berlalu. Gak ada yang perlu disesali. Apa yang terjadi sekarang adalah hasil dari pilihan kita dimasa lalu. Cukup terima dan belajar dari situ."
Andra tersenyum tipis.
"Aku terima, aku terima semua yang terjadi. Seperti kata kamu semua yang terjadi adalah hasil dari apa yang aku lakukan dimasa lalu. Aku bahkan sangat bersyukur saat ini, karna aku bisa ngerasain apa yang kamu rasain dulu. Setidaknya ini jadi hukuman yang cukup menyakitkan buat aku." Jelas Andra.
"Bukan cukup, tapi sangat menyakitkan Vi." Sambung Andra lagi pelan.
Vio diam, kemudian mengalihkan pandangannya dari Andra. Perasaan nya mulai terluka akibat ucapannya sendiri.
Andra melepaskan tangannya dari pinggang Vio kemudian mengelap air matanya.
"Maaf aku ngomong hal ini ke kamu." Ujar Andra setelahnya.
Vio hanya diam tidak menjawab. Lidahnya terasa kelu saat ini, suara sangat susah untuk dikeluarkan.
"Udah tengah malam, aku balik ya. Kasihan kamu tidur kemalaman." Ucap Andra.
Vio masih diam seribu bahasa.
"Bag-"
"Biarin aja Bagas disini, besok pagi aku flight jam 10. Tolong bilang kak putri buat jemput dia jam 8. Atau nanti aku antar aja kerumah kak putri." Ucap Vio memotong ucapan Andra.
Andra diam beberapa saat.
"Besok aku jemput aja." Ucap Andra sambil mendorong tubuh Vio menuju kamarnya dan pamit setelahnya.
•••••
Dikamar, vio menatap Bagas yang sudah tidur dengan nyenyaknya.
"Makasih Bagas." Batin Vio sambil menahan air matanya.
"Andra mana Vi?" Tanya Disya yang sedari tadi menatap vio.
"Udah pulang."
"Loh, Bagas gimana?" Tanya Disya lagi.
"Tidur disini, dijemput besok pagi. Lo gak masalah kan?" Tanya Vio sambil menatap disya.
"Ya gak apa-apa. Lo nya tuh yang ada masalah apa enggak? Lama banget diluar tadi." Ucap Disya menyelidik.
Vio menghela nafas panjang.
"Kayaknya gua harus berendam di air hangat sekarang." Ucap Vio mengabaikan pertanyaan disya, sambil berjalan kekamar mandi.
"Vi, vio." Panggil Disya.
"Jangan berisik Disya! Anak gua tidur itu!" Kesal Vio.
"Mana anak Lo? Bagas? Dia anak kak El sama kak putri. Dia keponakan Andra, bukan keponakan Lo apalagi anak Lo!"
"Lo pilih diam atau gua telpon satpam?" Kesal Vio sambil menatap disya tajam.
"Peace ibu Vio peace."
Vio masuk kedalam kamar mandi setelah airnya udah terisi di bathtub nya. Vio berendam sambil menatap langit-langit kamar mandi.
"An, kenapa kamu susah untuk aku gapai? Kenapa sangat sulit untuk bisa berdiri disisi kamu? Bahkan rasa saling sayang gak mampu ngebuat kita buat bersama. Kenapa takdir kita sekejam ini?" Batin Vio.