Begitu sampai di apartemennya, Rachel langsung mandi dan berendam dalam air panas. Sepanjang kegiatan mandinya itu, bibir Rachel tidak henti-hentinya menyunggingkan senyumannya. Pikirannya masih terus memutar kilas balik seluruh kejadian di Rumah Tasyi tadi, sampai ketika Alvin mengantarnya didepan pintu apartemennya.
Ia memang masih sedikit merasa bersalah dengan Laura. Tapi bukankah hati tidak bisa dipaksa?
Sambil berendam, pikiran Rachel menerawang. Ia memikirkan banyak hal tidak terduga yang terjadi belakangan ini. Sesak di dadanya tidak lagi terasa, berganti dengan kupu-kupu yang berterbangan setiap kali terbayang wajah Alvin diotaknya.
Mungkin ucapan Ferris waktu itu benar. Rachel terlalu larut dalam kesedihannya, sehingga ia tidak pernah membuka hati dan dirinya pada dunia. Membuat Rachel tidak sadar, kalau masih banyak kebahagiaan lain yang belum terlihat.
Tiba-tiba saja, Rachel jadi teringat pada Ferris. Kenapa laki-laki itu tidak ikut berkumpul di Rumah Tasyi juga? Bukankah Ferris juga terhitung sebagai sahabat Alvin, Gilang dan yang lainnya? Tidak mungkin kalau Tasyi tidak mengundangnya.
Ketika Rachel baru saja memikirkan alasan kenapa Ferris tidak datang, ponselnya berdering. Menandakan sebuah telepon masuk. Ia pikir, itu adalah Alvin yang biasanya selalu mengajaknya makan malam bersama.
Karena deringan ponselnya yang juga tidak kunjung berhenti, akhirnya Rachel menyelesaikan mandinya secepat mungkin, agar bisa segera mengangkat telepon tersebut yang bisa jadi itu sangat penting.
Namun, rupanya dugaan Rachel salah. Dia benar-benar menyesal kenapa sebelum mengangkat telepon ini, tidak melihat dengan baik siapa ID caller-nya.
“Halo.”
Refleks, Rachel menghela nafas kasar ketika suara baritone itu kembali terdengar dalam pendengarannya.
“Kenapa Om?” biasanya, pria diseberang telepon ini lebih memilih mengiriminya banyak pesan ketimbang menelepon begini. Dan kalau kali ini menelepon, sudah pasti ada sesuatu penting dibaliknya.
***
Ketika Rachel berumur 15 tahun, ia baru tahu apa pekerjaan Papinya yang sesungguhnya. Selama ini, ia mengira kalau Papinya mendapatkan uang sebanyak itu hanya dari hasil penyewaan villa, resort, dan beberapa hotel yang tersebar dikawasan Bali, Lombok, dan Singapura. Tapi ternyata, pendapatan itu hanyalah sebagian kecil dari pendapatan utama Papinya.
Setelah berusaha menganalisa dan meneliti selama setahunan kurang, Rachel tahu kalau Papinya memiliki bisnis gelap yang jaringannya sampai internasional. Selain menjual senjata illegal, Papinya juga punya kelompok mafia yang bergerak dalam pembunuhan bayaran. Biasanya, jasa ini dipakai oleh pengusaha-pengusaha kotor yang ingin menghabisi pesaingnya, atau pemerintah yang ingin menutup mulut saksi hidup kebusukannya.
Orang-orang tidak akan menyangka kalau Papinya yang selalu ramah dengan semua orang, ternyata punya sisi sekelam itu. Ia pikir, bisnis semacam ini hanya ada dalam film action yang biasa Ale tonton. Butuh beberapa bulan bagi Rachel untuk bisa memahami apa alasan Papi berkecimpung di dunia gelap itu.
Awalnya, jelas Rachel marah dan kecewa. Tapi, semenjak Maminya meninggal, ia memilih untuk menjauh sepenuhnya dari Papinya dan berusaha tidak peduli dengan apapun yang Papinya lakukan. Ia tidak tahu apakah kakak tirinya dan Mama tirinya sudah tahu soal hal ini, atau selama ini hanya dirinya sendiri yang tidak tahu apa-apa.
Berbagai macam bisnis Papi tersebut bergerak dengan baik berkat kinerja orang satu-satunya kepercayaan Papi—Daris—yang bertugas untuk mengurus seluruh kepentingan Papinya. Termasuk mengurus Rachel yang tidak pernah mau berhubungan lagi dengan Papinya.
Semenjak Rachel memutuskan untuk tinggal terpisah dari Papi dan keluarga barunya, Daris-lah yang siap siaga memenuhi seluruh kebutuhan Rachel dalam hal apapun. Sampai-sampai secara tidak langsung, Rachel sudah menganggap Daris seperti ayahnya sendiri, meskipun hubungan keduanya jarang akur, dan lebih sering berdebat.
Setelah putus dari Ale dan berdiam diri di kamar villa-nya tanpa keluar sama sekali, Rachl memutuskan ide gila yang sebenarnya sudah sempat terpikir diotaknya ketika ia berumur 16 tahun. Setiap kali Rachel mengalami depresi akan kehidupannya, dan mulai merindukan Maminya, ia selalu kepikiran untuk melakukan ini. Untung saja saat itu ada Ale yang siap siaga menghiburnya dan membangkitkan kembali semangat Rachel untuk melanjutkan kehidupan.
Tapi sekarang, ketika satu-satunya penyemangat hidup Rachel menyakitinya, ia langsung kehilangan pegangan dan merasa hancur sehancurnya. Membuatnya kembali kepikiran untuk melakukan ide gilanya itu. Tentu saja ide tersebut adalah bunuh diri. Satu-satunya cara yang menurut Rachel paling ampuh, untuk melupakan masalah dan berbagai sakit hatinya soal takdir yang menimpanya.
Seminggu setelah hubungannya dengan Ale kandas, Rachel mengiris pergelangan tangannya dengan pisau buah yang diantarkan pembantu villa-nya ketika memberikan sarapan pagi. Sialnya, saat itu adalah jadwal rutin kunjungan Daris ke villa-nya untuk mengetahui apa saja yang Rachel butuhkan. Ketika menyadari kalau kamar Rachel hening tanpa suara, Daris langsung membuka paksa kamar itu dengan kunci cadangan, dan menemukan Rachel bersumbah darah. Keberuntungan berpihak padanya karena Daris belum terlambat untuk menyelamatkan Rachel.
Setelah itu, Daris langsung memberikan penjagaan super ketat pada Rachel, untuk menghindari hal-hal semacam itu terjadi. Ia juga mengirimkan beberapa psikolog handal untuk menangani Rachel.
Tapi itu tidak pernah mengurungkan niat Rachel untuk tetap melakukan berbagai percobaan bunuh diri. Baginya, tidak ada lagi alasan untuk tetap hidup. Ketika dulu satu-satunya alasan untuk tersenyum adalah Ale, lalu sekarang siapa? Ide untuk menyusul Maminya lebih cepat, terdengar ide paling menarik yang Rachel pikirkan sejauh itu.
Kemudian Rachel memiliki ide genius. Ia sudah melakukan berbagai macam percobaan untuk menghentikan detak kehidupannya. Tapi, Daris selalu puny acara untuk menggagalkannya. Sampai akhirnya, ia kepikiran untuk mengambil jalur damai dengan Daris, dan membuat kesepakatan.
Rachel berencana membayar Daris untuk menggerakkan salah satu anak buahnya untuk menembak mati dirinya sendiri. Ya, menurut Rachel, ini adalah cara paling efektif untuk mati dengan cepat, dan terdengar lebih elegan. Dia bahkan bersedia membayar berapapun nominal yang Daris mau. Tentu saja Rachel tau Daris tidak akan memenuhinya begitu saja. Daris adalah pria paling menepati janji yang pernah Rachel temui. Sekalinya ia berjanji akan sesuatu, pria itu akan sungguh-sungguh menepatinya dengan mempertaruhkan nyawanya sekalipun. Hal ini sudah terbukti ketika Daris bersumpah akan mengabdikan seluruh hidupnya pada Papi, dan sampai titik darah penghabisannya, ia terus setia dengan Papi.
Selama beberapa hari berturut-turut, Rachel menemui Daris dan membujuk pria itu untuk mengabulkan permintaannya. Ia tidak lagi peduli dengan apapun di dunia ini, selain membujuk Daris agar mau membunuhnya. Sampai hari ketiga Rachel tidak makan, ia jatuh sakit dan dirawat beberapa hari di rumah sakit. Selama itu juga, ia tidak mau bicara apapun pada siapapun selain mengatakan pada Daris kalau ia ingin mati. Rachel pikir, menyusul Maminya saat ini akan membuatnya jauh lebih bahagia.
Keadaan Rachel yang lemah itulah, membuat Daris akhirnya sedikit melunak. Hari itu, ia datang ke rumah sakit untuk mendengarkan segala macam keluhan Rachel soal beban hidupnya. Dengan suara lemah yang nyaris berbisik, Rachel menceritakan banyak hal.
Sampai akhirnya, Daris menyimpulkan satu hal. Bahwa Rachel hanya butuh bertemu orang-orang baru, yang baik hati dan menerimanya apa adanya. Rachel hanya perlu bertemu laki-laki lain yang berhasil membuatnya move on dari mantannya.
“Oke, Om akan turuti permintaan kamu.” Daris mengangguk. “Tapi dengan syarat,”
Binar bahagia di mata Rachel langsung meredup ketika mendengar kalimat selanjutnya yang keluar dari bibir Daris. “Om mau kasih kamu waktu 6 bulan untuk memikirkan ulang keinginan bodoh kamu itu.”
“Nggak perlu 6 bulan, Om. Aku udah mikirin ini dari lama dan nggak pernah ragu sama sekali!” sanggah Rachel langsung.
“6 bulan itu nggak di Bali. Tapi di Jakarta. Om mau kamu pindah ke Jakarta, dan memulai kehidupan baru disana. Melanjutkan kuliah lagi, ketemu orang-orang baru, dan memikirkan semuanya dengan baik. Om harap, dengan ini bisa membuka jalan pikiran kamu yang pendek itu, agar lebih berkembang.”
Rachel mencebikkan bibirnya kesal. Menurutnya, syarat itu terlalu lama dan bertele-tele. Mengingat bagaimana hancur hidupnya belakangan ini, sudah membuat Rachel tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya hidup sampai 6 bulan kedepan.
“Kalau setelah 6 bulan kamu disana, dan masih kepikiran untuk memakai jasa anak buah Om, maka permintaan itu akan Om kabulin langsung tanpa sanggahan apapun lagi.” lanjut Daris. Ia diam sejenak untuk memberi waktu pada Rachel agar mencerna ucapannya dengan baik.
“Selama 6 bulan itu, kamu hanya perlu bertingkah seperti orang normal biasanya, melanjutkan kehidupan, dan melupakan cowok b******k itu. Atau, kamu mau sedikit balas dendam pada cowok itu?” alis Daris terangkat sebelah. Tentu saja Daris bisa melakukan apa saja untuk menghabisi Ale dan Luna. Tapi Rachel selalu mencegah. Menurutnya, itu tidak adil kalau sakit hatinya ini sampai dibalas dengan nyawa. Lagi pula, hati terdalamnya masih sangat mencintai Ale. Sehingga ia tidak tega untuk mencelakakan Ale dalam bentuk apapun.
Baik sekali bukan, Rachel ini?
“Kenapa harus Jakarta?” tanya Rachel.
“Atau kamu mau dimana? Tangerang? Bandung? Kota manapun yang kamu mau, akan Om kabulkan.”
“Nanti, dua minggu sebelum masa 6 bulan berakhir, Om akan minta keputusan dari kamu soal perjanjian ini, akan diteruskan, yang artinya kamu tetap akan ditembak mati oleh anak buah Om, atau dibatalkan, dan kamu bisa tetap melanjutkan hidupmu yang baru.”
Setelah berfikir beberapa menit, akhirnya Rachel mengiyakan syarat tersebut. Dengan dalih, ia bisa lebih mudah bunuh diri ketika berada di tempat yang lebih jauh dari pengawasan Daris. Rachel tahu pasti kalau nantinya ia akan merantau ke kota lain dengan beberapa body guard bersamanya. Tapi menyingkirkan para body guard itu pasti tidak akan sulit. Dan semain jauh dari jangkauan Daris, Rachel bisa punya lebih banyak lagi pilihan untuk bunuh diri dengan cara yang lebih mudah, tanpa harus menunggu 6 bulan.
Maka dibuatlah perjanjian itu. Dan seminggu setelah itu, Rachel langsung berangkat menuju kota yang Daris janjikan. Lengkap dengan supir pribadi, dan mata-mata yang tidak Rachel ketahui keberadaannya.
***
“Apa kabar kamu? Disana banyak cowok ganteng ya?”
Rachel mendengus kesal. Meskipun ia tidak memberi tahu Daris kabar apapun mengenai kehidupannya disini tetap saja, sangat mudah bagi Daris untuk mengetahui semua itu. Mengingat Daris punya banyak anak buah yang bisa saja memata-matainya 24 jam.
“Kalo Om telpon cuma buat ngeledekin doang, mending nggak usah deh!”
“Enak kan tinggal disana? Yang penting sekarang kamu happy kan?”
Rachel hanya menggumam mengiyakan. Malas menjawab. Meskipun pria ini adalah sosok yang baik dan selalu mengerti segala kebutuhannya, tetap saja Rachel kesal untuk mengakui itu dan harus jual mahal padanya, agar Daris tidak kegeeran dan meledeknya macam-macam.
“Jadi, udah seneng kan sekarang?”
Tuh, kan. Nadanya benar-benar sinis dan sangat menyebalkan. “Om mau ngomongin apa sih?” gerutu Rachel.
Terdengar suara tawa dari seberang telepon. “Benar kan dugaan Om. Kamu memang butuh suasana hidup yang baru dan banyak bertemu orang baru. Sekarang, kamu sudah menemukan banyak teman baru, juga pacar baru. Jadi kayaknya, kamu harus membatalkan perjanjian kita tiga bulan yang lalu.”
Rachel langsung tersentak. Ia cukup terkejut ketika menyadari kalau dirinya sudah melewati setengah dari masa perjanjiannya dengan Daris. Dan selama itu pula, ia benar-benar menikmati setiap detik kehidupannya, terlebih setelah munculnya Alvin dalam hidupnya. Yang dengan cepat sudah berhasil merubah banyak hal dalam hidupnya.
“Atau jangan-jangan, karena keasyikan sama pacar baru, kamu jadi lupa sama perjanjian kita ini ya?”
“Om nggak masalah, kalo kamu mau pindah selamanya di Jakarta sampe kamu bosen. Om juga udah bilang sama Papi kamu, dan Papi kamu selalu setuju selama kamu bahagia disana.”
“Enggak, Om. Aku masih tetep mau melanjutkan perjanjian ini.” Bukan Rachel namanya kalau tidak punya ego sekeras ini. Ia tidak terima kalau pendapat Daris harus benar, dan pria itu akan meledeknya dengan nada-nada sarkasm yang menyebalkan. Dan Rachel tidak boleh kalah begitu saja dengan pria itu.
Sejujurnya, kehidupannya sekarang memang sangat jauh lebih baik dari yang ia pikirkan selama ini. Benar kata Daris tadi, Rachel sudah lupa kalau ia sempat ingin mati dan punya perjanjian busuk dengan Daris. Tapi, ia memilih untuk membatalkan perjanjian itu nanti, dua minggu atau seminggu sebelum harinya. Ia hanya kesal karena semua ucapan Daris itu benar, dan Rachel makan omongannya sendiri.
“Oke. Om tunggu keputusan kamu tiga hari sebelum akhir bulan April.”
Begitu sambungan telepon mati, kata-kata Alvin tempo hari langsung terngiang diotaknya bagaikan kaset rusak yang terus berputar tanpa henti.
“Hidup lo itu berharga, Rachel Xaquilla Arthura! Berharga banget buat gue!”
“Jangan pernah mikir yang aneh-aneh lagi. Aku sayang kamu! Terus hidup disamping aku buat ngewujudin mimpi-mimpi kita ya!”
“Janji sama aku ya, untuk terus hidup dan berjuang buat kebahagiaan kita?”
“Hidup kamu berharga lho, Rach. Jangan sedih-sedih terus dong!”
Hidup kamu berharga…
Tbc~