Laki-laki itu membaringkan tubuhnya disisi kasur yang kosong sambil menghela nafas kasar. Dipandanginya gadis yang sudah terlelap disebelahnya. Dadanya terasa nyeri melihat keadaan gadis itu. Untuk pertama kalinya, Alvin merasa sesakit ini. Bahkan, ketika mantannya dulu selingkuh didepan matanya, ia tidak merasa sehancur ini. Tadi, setelah Rachel mengatakan di telepon kalau ingin pergi agar mereka impas, Alvin langsung gelisah. Hanya dengan satu kata—impas, laki-laki itu langsung bangkit dari duduknya, mengambil kunci mobil, dan kembali ke Tangerang, tanpa menghiraukan pertanyaan kedua orang tuanya, juga kakak iparnya. Selama perjalanan, ia berusaha menelepon Rachel dan ponselnya tidak aktif. Saking terburu-burunya dengan pikiran kalut, ia sampai tidak sempat me

