“Enggak,” Jawab Rachel cepat. Saking cepatnya dia mengucapkan sepotong kata barusan, suaranya jadi terdengar sedikit bergetar. Sial. Apakah barusan Rachel sedang gugup?
Gantian Alvin yang terpaku mendengar jawaban Rachel. Dari tempatnya duduk, Rachel bisa melihat jelas kekecewaan yang tergambar dari raut wajah Alvin.
“Masa gue sayang ke elo, kayak nyokap lo yang sayang ke lo. Berarti gue nganggep elo kayak anak gue gitu?” lanjut Rachel. “Idih, ogah banget, punya anak songong begini!”
Perlahan Alvin tampak bernafas lega mendengar cibiran Rachel barusan. Tadinya, ia sudah berfikir yang aneh-aneh dan memikirkan segala macam kemungkinan terburuk kalau Rachel sungguhan menolak cintanya.
“Lo harus latihan menghadapi cowok songong yang ganteng ini. Besok-besok, kalo kita nikah, anak kita kan bakal mirip gue nih gantengnya. Tengil-tengil songongnya juga bakal mirip. Jadi lo siap-siap aja!” Alvin tertawa kecil, sementara muka Rachel langsung merah padam.
“Ngapain lo jadi ngelantur sampe kesono banget sih?!” sungut Rachel. “Udah songong, tengil, m***m lagi! Ck… ck… anaknya siapa sih ini?” Tangan Rachel terulur untuk mengacak-acak rambut Alvin kesal.
“Siapa yang m***m sih? Perasaan gue kan cuma nyuruh lo siap-siap, besok kalo punya anak bakal mirip kayak gue! Lo aja tuh, yang mukanya udah mupeng banget minta dicium!” balas Alvin santai.
Rachel melotot mendengar ocehan Alvin barusan, sementara cowok itu malah tertawa semakin keras. “Mukanya nggak usah sok males gitu deh! Kalo gue cium juga lo ketagihan kan, pasti! Kayak waktu itu!”
Bola mata Rachel semakin membulat, tidak menyangka Alvin mengungkit kejadian tahun baru kemarin dengan nada sesantai ini! Rasanya ia seperti sedang berada di ruangan kedap udara, karena saat ini dadanya sangat sesak, dan jantungnya memompa darah sepuluh kali lebih cepat dari biasanya. Namun, jantungnya malah memompa darah dengan lebih cepat untuk disemprotkan dimukanya, sehingga mukanya terasa memanas dan pasti saat ini merah banget.
“Nggak papa, Sayang. Nggak usah malu. Gue udah khatam sama cewek dan segala gengsinya yang segede Gunung Salak. Kalo lagi pengen, bilang aja, ‘Alvin ganteng banget kayak Herjunot Ali.’ Nanti langsung gue cium. Nggak usah gengsi bilang gue ganteng!” Alvin menyeringai sambil beranjak dari duduknya, dan memasuki kamarnya. Seolah laki-laki itu sedang memberi waktu pada Rachel untuk menyerap oksigen sebanyak-banyaknya agar otaknya ternutrisi dengan baik.
Tubuh Rachel sudah lumer seperti marshmellow yang disiram coklat panas. Ia menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa dan menghirup aroma maskulin Alvin yang menempel pada sofa.
“Gue ngerasa jadi orang spesial banget, Rach.” Ucap Alvin yang datang dengan sebuah gitar. Ia kembali duduk ditempatnya semula.
Kening Rachel mengerut bingung.
“Cuma dalam waktu beberapa bulan ini aja, gue udah berhasil melihat lo dengan berbagai ekspresi. Gue udah liat muka lo yang hampir nangis pas nunggu lift sambil ngelamun kemaren itu. Terus ekspresi lo marah-marah karena gue gangguin pas di balkon. Juga muka panik lo pas supir lo nggak bisa njemput. Dan sekarang gue, liat lo ketawa ngakak kenceng banget kayak naga kesurupan.”
Alih-alih mengomel karena dikatain mirip ‘naga kesurupan’, Rachel malah salah tingkah. Pertama, ia masih malu pada Alvin saat cowok itu memergokinya sedang melamun didepan lift karena kangen pada Maminya itu.
Kedua, ia juga tidak tahu kenapa bisa tertawa sekeras barusan, mengingat belakangan ini—semenjak putus dengan Ale—Rachel sangat jarang tertawa keras begini. Dan ini cukup melegakan perasaannya.
Ketiga, Rachel senang. Udah pokoknya senang aja gitu. Dan mulai sekarang, Rachel bertekad pada dirinya sendiri untuk membiarkan kesenangan ini terjadi, tanpa perlu memikirkan kemungkinan lain yang selama ini membatas dirinya untuk bahagia.
Ia tidak lagi peduli dengan segala resiko yang menimpanya kelak, kalau berurusan dengan Alvin. Yang jelas, pada detik pertama ia menginjakkan kakinya pada apartemen Alvin, hatinya sudah berhasil dicuri Alvin. Juga pertahanan diri yang susah payah Rachel bangun selama ini sudah sempurna roboh entah sejak kapan.
Kini dihadapannya Alvin memangku sebuah gitar hitam putih, dan mulai memetiknya asal, sebagai pemanasan. “Mau lagu apa, Yang?”
Demi tuhan. Mendengar Alvin memanggilnya ‘Yang’ saja, Rachel sudah panas dingin tidak karuan. Sial. Kenapa Rachel jadi selebay ini sih? Jadi begini ya, rasanya menjadi seorang bucin yang dimabuk cinta?
Tuh, kan lebay lagi!
“Emang ini nggak kecepetan ya, Vin?” tanya Rachel lirih, nyaris berbisik.
Kepala Alvin mendongak. Dia terkejut dengan ucapan Rachel yang tiba-tiba ini. Namun melihat raut wajah Alvin yang menuntutnya untuk segera menjawab, akhirnya Alvin menyunggingkan senyuman lebar. “Cinta itu nggak pernah kecepetan atau kelamaan, Rach. Dia selalu punya waktunya sendiri.”
Bagi Rachel, jawaban yang barusan didengarnya dari mulut Alvin sama sekali tidak menjawab keraguannya. Dia tetap merasa, kalau semua hal yang menyangkut dengan Alvin ini terkesan fiktif, dan terkadang masih tidak bisa dia percaya. Bagaimana bisa terjadi secepat ini?
Padahal, kalau bagi Alvin, waktu 2 bulan untuk masa pendekatan itu sudah lebih dari cukup. Beberapa teman-temannya malah hanya butuh dua minggu untuk pedekate dengan cewek. Bahkan, dulu Alvin juga pernah jadian dengan cewek yang baru dikenalnya satu bulan. Dan meskipun endingnya putus juga, tapi menurut Alvin itu nggak terlalu buruk.
Menyadari kalau suasana malah kembali kaku seperti semula, Alvin kembali berusaha untuk menenangkan Rachel, “Nggak ada masalah, Rach. Kita jalanin bareng-bareng aja ya. Yang penting, kita udah sama-sama tertarik satu sama lain. Urusan cinta dan yang lainnya, dipikir belakangan aja. Bisa jadi, yang kita rasain sekarang itu emang bener cinta. Tapi masih terlalu dini buat bilang cinta kan? Nggak papa. Nikmati prosesnya sama-sama ya!”
Tanpa sadar, kalimat lembut Alvin barusan berhasil menerbitkan senyuman Rachel. untuk sesaat keduanya sama-sama diam dengan pandangan terkunci, saling melemparkan pesan melalui telepati.
“Lagu yang galau atau yang happy?” setelah beberapa lama suasana hening, Alvin kembali mencairkan suasana.
Rachel mengendikkan bahunya. “Terserah,”
“Kenapa sih, cewek kalo ditanyain apa-apa jawabannya terserah?! Tinggal pilih satu aja kenapa repot amat sih?!” sungut Alvin.
“Yaudah, yang galau!”
“Alah. Ngapain sih, galau mulu? Udah ada gue gini, masih aja galau-galau! Harusnya lo tuh seneng ada gue yang—“
“Yaudah yang happy aja.” sela Rachel cepat.
Senyuman Alvin melebar. “Lo seneng gara-gara gue ya?”
“Mati aja lo matiiiii! Nggak usah nyanyiiii!” Rachel berseru kesal, mencebikkan bibirnya. Ia memang sudah tahu sejak awal pertemuannya, kalau Alvin memang sangat menyebalkan. Tapi kenapa rasanya Rachel malah senang-senang saja menghadapi sikap menyebalkannya ini?
Alvin tertawa keras. Benar-benar tawa keras sampai ia meletakkan gitarnya dilantai sembarangan, dan membungkuk sambil memegangi perutnya. Masih dengan tawa kerasnya, Alvin mendekatkan duduknya pada Rachel dan melingkarkan tangannya pada pundak Rachel dan mendekapnya erat dengan gemas. Sebelah tangan Alvin yang satu lagi berada di rahang Rachel untuk mencubit pipi Rachel bergantian.
“Gemes banget sih!”
Rachel berusaha memberontak dan berteriak kecil agar dilepaskan dari dekapan Alvin. Bukannya tidak suka berada dalam dekapan Alvin, tapi dia hanya tidak ingin membuat dirinya terlalu nyaman bersandar pada d**a Alvin, yang takutnya bisa membuat Rachel terus terbayang-bayang bagaimana kerasnya d**a tersebut, dan malah berpikir yang mantap-mantap.
“Sakit ih!” gerutunya sambil menarik tangan Alvin yang tengah mencubiti pipinya.
Alvin hanya cengengesan sambil mengeratkan dekapannya, dan menciumi pelipis Rachel bertubi-tubi, sebelum akhirnya melepaskannya.
“Makanya jangan gemes-gemes dong!”
Masih dengan sisa tawanya, Alvin mengambil gitar, kembali mendekapnya. Melihat muka Rachel yang kini cemberut sambil memegangi kedua pipinya bekas cubitan gemas Alvin tadi, sebelah tangan Alvin tidak tahan untuk tidak mencubit pipi Rachel lagi, membuat semburat kemerahan pada pipi Rachel.
“ALVIN AH! SAKIT!”
Bukannya minta maaf dan menghentikan aksinya, Alvin gantian mencubit hidung Rachel gemas. Dia hanya cengengesan melihat muka Rachel yang kini sedang memelototinya.
“ALVIN!”
“Maaf-maaf, sini diobatin dulu, biar nggak sakit!” Alvin kembali melingkarkan tangannya pada pundak Rachel, dan kembali mendekap gadis itu.
Tubuh Rachel yang memang sejak tadi lemas, pasrah saja kembali didekap erat oleh Alvin, yang kini malah mendaratkan kecupan di pipinya bertubi-tubi. Sesekali Alvin meniup pipinya, sambil mengucapkan mantra entah apa, sebelum kembali menghujani pipi Rachel dengan kecupan.
“Udah nggak sakit kan?” tanya Alvin yang sengaja menjauhkan mukanya dari Rachel, tapi tangannya masih melingkar di pundak Rachel.
Jangan tanya bagaimana degub jantung Rachel saat ini, akibat kelakuan Alvin yang semena-mena barusan. Rasanya Rachel ingin menarik kepala Alvin sekarang juga, dan mencium bibirnya. Dia ingin mengatakan pada cowok ini, kalau seberapa banyak pun ciuman di pipi yang Alvin berikan, tetap saja belum terasa cukup kalau dia belum dicium di bibir.
Oke, sepertinya Rachel harus mencuci otaknya setelah ini. Karena entah kenapa, belakangan ini pemikirannya jadi semakin kacau, liar, dan kotor banget! Bahkan dia yakin Alvin sendiri pasti akan jijik dengannya kalau mendengar khayalan apa saja yang selama ini bersarang di otaknya.
“Sebutin judul lagu yang paling lo suka banget!” sekarang Alvin sudah melepaskan tangannya, sehingga mereka kembali duduk berhadapan, dan Rachel bisa bernafas dengan baik, setelah sebelumnya dia susah payah menahan nafasnya ketika masih berada didalam dekapan Alvin.
Tanpa berfikir apapun, Rachel langsung menggeleng. “Gue nggak suka dengerin lagu.”
Seketika bola mata Alvin nyaris keluar dari tempatnya. “SUMPAH LO?”
“Jadi musisi yang lo suka itu siapa? Eh, taruhannya masih berlaku kan?” tanya Alvin.
“Udah expired lah! Itu kan udah lama banget!”
“Nggak masalah. Gue masih tetep bisa dinner bareng lo dengan cara lain yang lebih cool.” Alvin menganggukkan kepalanya sambil menaikkan sebelah alisnya sok kegantengan. “Jadi, siapa musisi favorit lo? Atau setidaknya, penyanyi yang lagunya sering lo dengerin.”
Sebagai jawabannya, Rachel menggeleng. “Gue nggak pernah secara khusus dengerin lagu apapun. Tapi, pacar—eh, maksudnya mantan gue, suka Westlife.”
Rachel menyadari perubahan raut muka Alvin ketika Rachel membicarakan mantannya. “Terus lo jadi suka Westlife juga gara-gara mantan lo?”
“Nggak juga. Cuma ya lagu-lagu Westlife jadi sedikit stuck in my mind, gara-gara lumayan sering dengernya.” Rachel tersenyum tipis. “Gue dengerin lagu cuma kalo nonton film atau drama musical gitu.”
“Contohnya?”
“The Greatest Showman.” Jawab Rachel. “Tapi ya, gue cuma dengerin pas difilm-nya aja. Nggak yang kecanduan banget, dan tiap hari harus dengerin lagu gitu. Malah, gue nggak pernah dengerin lagunya sendiri, kalo nggak nonton filmnya.”
“Terus apa lagi?”
“A Star is Born. Aladin juga suka.”
Alvin manggut-manggut. “Gue suka semua lagu yang ada di film yang lo sebutin. Mau gue nyanyiin semuanya satu-satu?”
Karena bingung mau menjawab apa, Rachel mengiyakan saja. Lagipula, sejak tadi Rachel sudah penasaran banget bagaimana suara Alvin. Apakah laki-laki ini hanya sekadar gaya-gaya-an saja, atau suaranya memang beneran bagus.
“Lagu yang agak mellow dulu aja, ya!”
Tanpa menunggu jawaban Rachel, Alvin mulai memetik gitarnya. Detik berikutnya, Rachel benar-benar ternganga ketika laki-laki itu mulai menyanyi. Alvin menyanyikan lagu Rewrite The Stars. Rachel tidak menyimak bagaimana liriknya. Yang jelas, ia sempurna jatuh kedalam dekapan Alvin Fedrivico Mahatma.
Apalagi, sepanjang bernyanyi tatapan mata Alvin terhunus kedalam bola mata Rachel dengan senyum manis disela-sela liriknya.
Baru kali ini Rachel merasakan bagaimana diperlakukan menjadi satu-satunya orang paling istimewa di dunia. Tatapan teduh Alvin, selalu berhasil menentramkan jiwanya. Seolah berhasil menghangatkan perasaannya yang semula beku. Pandangan yang berhasil membuat Rachel merasa sangat dihargai dan digilai, tanpa ada selipan gairah didalamnya. Sebuah pandangan yang tidak pernah Rachel dapatkan dari siapapun.
Bahkan Ale, yang sudah memenuhi hatinya hampir lima tahun tidak pernah berbuat sebegini manisnya.
Rachel tidak menyangka, adegan romantis yang biasanya hanya ada di novel-novel atau film, benar-benar terjadi dalam kehidupan nyatanya. Juga bagaimana musik yang biasa terdengar dimana pun ia berada dan selalu diacuhkannya, kini menjadi terdengar sangat indah dan menyentuh. Membuat Rachel berhasil ketagihan ingin terus mendengarkan nada-nada lainnya.
Alvin sungguh berhasil membuat Rachel jatuh cinta pada setiap petikan nadanya. Juga berhasil membuat Rachel jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya.
Tbc~