23

1105 Words

23 Jam makan siang tiba, Sherine memilih tetap di butik dan membiarkan beberapa karyawan butik istirahat makan. Sedangkan Sherine yang jam makannya tidak teratur sejak hamil, masih merasa kenyang berkat satu jam yang lalu memakan sepotong piza dengan banyak daging panggang dan sosis. Paman Joe sendiri sejak pagi ada urusan di luar, jadi tinggallah Sherine sendirian di butik. Bel pintu yang berbunyi membuat Sherine yang sedang berdiri di depan sebuah maneken dan tersenyum puas memandang gaun pengantin rancangannya yang rencananya akan diikutkan pada pameran gaun pengantin dua bulan lagi di Jakarta, berbalik. Seketika matanya melebar dengan bibir sedikit terbuka. Napasnya seolah berhenti tapi anehnya jantungnya berdegup jauh lebih cepat. “Nicholas..?” Sherine tidak sadar menggumamkan na

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD