Di negeri nan jauh di seberang pegunungan berkabut, ada sebuah tanah yang oleh para pelancong disebut Verellen—tanah para pemberani. Di sana, angin yang berhembus pun seakan membawa bau besi dan keringat kuda; anak-anak tumbuh dengan cerita tentang sayembara, duel kehormatan, dan para ksatria yang gugur dengan pedang di tangan.
Malam itu, hutan di pinggir tanah Verellen menggeliat dalam gelap. Kabut tipis merayap di antara batang-batang pohon tua, ranting-ranting menggantung seperti tangan kurus yang hendak meraih siapa pun yang lewat terlalu dekat.
Di tengah semua itu, seberkas cahaya lentera bergoyang-goyang gelisah.
“Hamba mohon, Paduka Putri... ayo kita pulang saja,” suara seorang perempuan muda bergetar. “Tempat ini... benar-benar menakutkan.”
Dayang itu bernama Maera.
Tubuhnya kecil, punggungnya sedikit bungkuk karena kebiasaan menunduk di hadapan bangsawan. Kedua tangannya memeluk erat gagang lentera, seolah cahaya kecil itu adalah satu-satunya batas antara dirinya dan kegelapan yang hendak menelannya.
Di hadapannya, seorang gadis berjalan mantap tanpa menoleh.
Rambut hitamnya tergerai, sedikit bergelombang, mengilap meski hanya diterangi cahaya lentera. Jubah berkerudung menutupi gaun yang seharusnya tak pernah menginjak tanah hutan seperti ini.
Langkahnya tenang, nyaris angkuh, seolah akar-akar yang tersembunyi dan tanah berlumpur pun wajib menyingkir dari jalannya.
Dialah Elowen Verellen, putri bungsu Kerajaan Verellen.
“Putri... hamba mohon...” Maera menyusul dengan langkah terburu-buru. “Hamba sudah mengucapkannya enam kali, kalau kita terus maju, hamba takut—”
“Teruskan saja, Maera,” sela Elowen, suaranya dingin namun tenang. “Kau baru menyebutnya enam kali. Biasanya kau menyerah setelah yang ke delapan.”
Maera tersentak. “Pa–Paduka Putri mengingatnya?”
“Aku punya ingatan yang baik, bukan hanya untuk buku dan pedang,” jawab Elowen datar. “Juga untuk rengekanmu.”
Nada itu bukan benar-benar marah—namun jauh dari lembut. Maera menggigit bibir, menundukkan kepala lebih rendah.
“Penyihir Wren itu tukang hisap uang, Paduka,” lanjutnya lirih, nyaris berbisik kepada dirinya sendiri. “Hamba dengar, jika koin yang dibawa tak cukup, ia jadikan tamu-tamunya b***k. Hamba tidak ingin berakhir jadi katak, atau... atau sapu ijuk yang bisa bicara...”
“Jika ia hendak mencelakaimu,” sahut Elowen, masih tanpa menoleh, “aku akan memenggal kepalanya sebelum ia sempat mengucap mantera kedua.”
Cara ia mengatakannya begitu dingin dan sederhana, seolah yang dibicarakan hanyalah memotong roti.
Maera merinding. “Hamba... hamba tahu Paduka lihai dengan pedang. Tapi ini penyihir, Paduka. Penyihir! Bukan pencuri jalanan...”
“Justru itu,” gumam Elowen, lebih kepada dirinya sendiri. “Pencuri dapat ditangkap penjaga istana. Penyihir seperti Wren... hanya bisa ditangani di tempatnya sendiri.”
Maera hendak menjawab lagi, namun suaranya tercekik di tenggorokan ketika ia melihat sesuatu di antara kegelapan.
Di kejauhan, di tengah-tengah barisan pohon yang bagai lorong, tampak sebuah gubuk reyot berdiri sendirian. Atapnya hampir tertelan lumut. Lampu kekuningan dari dalam menembus jendela kecil yang berjelaga, menimbulkan ilusi seolah gubuk itu sedang mengawasi mereka dengan mata yang lelah.
“Syukur...” Elowen menghela napas pelan. “Akhirnya.”
“Syukur...?” Maera hampir memekik. “Hamba lebih suka menyebut itu ‘pertanda celaka’, Paduka...”
Elowen mengangkat kerudungnya sedikit, menatap gubuk itu dengan mata gelap yang tenang. Ada kilau penilaian di sana, bukan ketakutan. Ia memperhatikan letak jendela, pintu, cerobong asap, bahkan tanah di sekeliling gubuk—seperti seorang pendekar yang menilai medan pertempuran.
Di bawah jubahnya, pinggangnya terbebani oleh sesuatu yang Maera tahu betul tidak sepantasnya dibawa seorang putri ketika menyelinap keluar istana: sebilah pedang tipis, diselipkan dalam sarung yang disamarkan.
“Paduka,” bisik Maera lagi. “Kita sudah jauh dari istana. Jika ada serigala, bandit, atau makhluk lain—”
“Maera.”
Dayang itu terdiam.
“Jika kau terus menyebut bahaya yang kau bayangkan, pada sepertiga malam nanti kita baru sampai ke pintu gubuk itu,” ujar Elowen tenang. “Aku sudah menyelinap keluar istana demi ini. Aku tidak akan berbalik hanya karena kabut, pohon, dan reputasi seorang perempuan tua diasingkan."
Ia melangkah maju, tanpa ragu. Maera, sambil mengusap lengannya yang merinding, terpaksa mengikuti.
Gubuk itu, dilihat dari dekat, tidak tampak lebih ramah.
Papan kayunya miring, beberapa retak seolah hendak runtuh. Di atas pintu, tergantung bundel-bundel ramuan yang sudah mengering; sebagian berbau tajam, sebagian lagi menguar wangi manis yang justru membuat hidung pedih. Ada garis-garis yang digoreskan di kusen pintu—lingkaran-lingkaran, tanda-tanda runcing, lambang-lambang yang tak dipelajari di ruang kelas istana.
Maera berdiri mematung di belakang Elowen, lututnya lemas.
“Paduka... ayo kita pulang saja,” bisiknya untuk ketujuh kalinya. “Jika Ayahanda Raja mengetahui—”
“Ayahanda sibuk menghitung ksatria yang akan ikut sayembara minggu depan,” sahut Elowen singkat. “Ia tak akan memperhatikan putri bungsu yang tak pernah masuk hitungan dalam hal apa pun.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada datar, namun ada sesuatu yang keras di baliknya. Bukan rengekan, bukan pula keluhan—melainkan kesimpulan yang sudah lama mengendap.
Tanpa menunggu komentar lagi, Elowen mengangkat tangan dan mengetuk pintu gubuk itu.
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan yang tenang, padat, tanpa gentar.
Hening sejenak. Hutan pun seakan menahan napas. Lalu—
Pintunya terkuak dengan bunyi berderit yang dramatis, seolah sengaja.
Cahaya kuning dari dalam menumpahkan diri ke ambang pintu, menyinari sosok yang berdiri di sana: seorang perempuan tua, rambutnya putih kusut tergerai, kulitnya keriput namun matanya... matanya tajam, jernih, dan bersinar aneh, seperti bara yang hampir padam namun enggan mati.
Ia mengenakan jubah lusuh abu-abu, lengannya menggantung longgar, namun ada sesuatu dalam caranya berdiri yang membuat Maera merasa, jika perempuan tua itu hendak mengangkat seluruh gubuk, ia akan dapat melakukannya.
“Verellen...” gumam perempuan tua itu pelan, seolah mengecap rasa kata itu di lidahnya. “Dan darah istana, rupanya.”
Maera merinding. “Pa–Paduka Putri... hamba rasa... hamba rasa kita sudah salah alamat. Mari kita pul—”
“Elowen Verellen,” ujar sang putri tanpa menunggu. Suaranya dingin, namun sopan. “Putri bungsu Verellen.”
Ia menundukkan kepala, cukup dalam untuk sekadar menghormati, namun tidak sampai merendahkan martabatnya sendiri.
“Dan ini dayangku, Maera.”
Maera terlonjak, buru-buru ikut menunduk terlalu dalam sampai-sampai lentera hampir jatuh.
“Ha–hamba... hamba hanya Maera, penyihir Wren,” ucapnya terbata. “Hamba mohon belas kasih, jika Paduka... maksud hamba, jika Nyonya menghendaki kami pulang, hamba akan tarik Paduka Putri saat ini juga—”
Perempuan tua itu—Wren—mengangkat alisnya yang putih tipis.
“Aku belum mengusir kalian,” ujarnya tenang. “Masuklah, sebelum hutan memutuskan kalian lebih pantas tinggal di antara akar-akar pohon.”
Elowen melangkah tanpa ragu. Maera menelan ludah, lalu mengikuti, menutup pintu perlahan di belakang mereka.
Bagian dalam gubuk itu jauh lebih luas daripada yang tampak dari luar.
Rak-rak kayu memenuhi dinding, dipadati botol, guci, gulungan kertas, dan benda-benda aneh yang tak dapat segera diberi nama. Lampu minyak menggantung dari langit-langit, cahayanya bergoyang, menimbulkan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas lantai papan dan permadani lusuh.
Di sudut ruangan, seekor kucing hitam besar meringkuk dengan mata setengah terpejam. Ketika Elowen dan Maera masuk, ia membuka matanya sebentar, menatap mereka dengan pandang yang seolah berkata, lagi-lagi manusia, lalu menutup mata kembali.
Wren berjalan perlahan ke meja kayu di tengah ruangan, tongkat kurus di tangannya mengetuk lantai setiap langkah. Ia menunjuk dua kursi tua di seberang meja.
“Silakan duduk, Paduka Putri,” katanya. “Dan kau, dayang kecil yang hampir menangis, silakan pula duduk. Jantungmu berdetak terlalu keras, aku bisa mendengarnya dari sini.”
Maera memerah, lalu memaksa diri duduk di ujung kursi, punggungnya kaku.
Elowen tidak tampak terkesan. Ia duduk tenang, tangan terlipat di pangkuan, memandangi ruangan dengan mata tajam yang biasa ia gunakan untuk membaca taktik di papan latihan.
“Aku sudah mendengar kabar tentangmu,” ujar Wren, sambil mengaduk-ngaduk sesuatu di dalam kuali kecil di meja. “Putri Verellen yang lebih akrab dengan pedang daripada sulam. Yang lebih memilih melatih kuda daripada menata rambut.”
“Aku tidak menyangka kabar sedangkal itu sampai ke hutan sejauh ini,” sahut Elowen datar. “Yang kuharap sampai padamu justru kabar tentang sayembara yang akan diadakan minggu depan.”
Wren tersenyum kecil. Senyuman itu tidak ramah, namun bukan pula kejam; lebih mirip senyum seseorang yang sedang menikmati permainan yang hanya ia pahami.
“Tentu saja aku mendengarnya,” katanya. “Sayembara yang diadakan oleh Ayahandamu, untuk mencari suami bagi Putri Bungsu Verellen. Hadiah utamanya: tangan seorang putri dan sebagian dari kehormatan Verellen.”
Maera mengejang di kursinya. “Paduka Putri... hamba memohon, jangan bercakap terang-terangan begini—”
“Elowen Verellen,” potong Wren, matanya berkilat, “tidak datang ke gubuk seorang penyihir yang diasingkan hanya untuk mengulang kabar yang sudah aku tahu. Katakan saja apa yang kau kehendaki.”
Elowen menatap Wren langsung. Sekilas, Maera menangkap sesuatu di mata tuannya—bukan takut, bukan ragu, melainkan kehendak besi yang dibungkus lelah.
“Sayembara itu diadakan untukku,” ucap Elowen, jelas. “Aku tidak ingin ada seorang pun yang menang.”
Hening.
Bahkan kucing hitam di sudut ruangan tampak membuka sebelah mata.
Maera menahan napas, menatap tuannya dengan campuran panik dan takjub. Mengatakan hal seperti itu keras-keras, tentang sayembara yang diumumkan di depan rakyat, adalah sesuatu yang bahkan para pangeran sekalipun enggan lakukan, apalagi di tanah seperti Verellen.
Wren tertawa pelan. Tawanya serak, namun jernih, seperti ranting kering yang dibakar.
“Berani,” gumamnya. “Benar-benar Verellen... tapi dengan lidah yang lebih tajam.”
“Katakan harga jasamu,” ujar Elowen. “Aku datang bukan untuk menukar sopan santun.”
Maera hampir pingsan di tempat.
“Pa–Paduka Putri—”
Wren mengangkat tangannya, dan Maera mendadak tak mampu mengeluarkan suara; suaranya tertahan di tenggorokan, meski mulutnya terbuka.
“Tenanglah, dayang kecil,” ujar Wren tanpa menoleh. “Aku hanya membungkam ketakutanmu sejenak. Ia terlalu berisik.”
Ia memandang Elowen lagi, matanya menyipit seperti sedang menakar.
“Untuk mengacaukan sayembara yang diumumkan di hadapan rakyat?” katanya perlahan. “Untuk memutar arah takdir yang ditentukan seorang Raja? Sepuluh koin emas, Putri.”
Elowen menarik napas, mengangkat dagu sedikit.
“Tidak.”
“Sepuluh,” ulang Wren, suaranya tenang. “Kau datang padaku karena tak ada penyihir lain yang berani menentang keputusan istana terang-terangan. Kau tidak membawa tentara, tidak membawa penasihat. Kau membawa dayang yang hampir menangis dan keberanianmu sendiri. Harga bagi keberanian orang lain adalah sepuluh koin emas.”
Elowen merogoh bagian dalam jubahnya, mengeluarkan kantong kecil. Bunyi logam beradu terdengar ketika kantong itu diletakkan di atas meja.
“Di sini tiga,” katanya. “Aku tidak akan menambahkannya.”
Wren mengerutkan kening, seolah baru saja dihina.
“Tiga koin emas?” ia mendengus. “Itu harga ramuan untuk menghilangkan jerawat anak bangsawan. Kau datang meminta campur tangan dalam sayembara kerajaan.”
“Elowen Putri Bungsu Verellen,” jawab Elowen, suaranya tetap datar namun setiap kata terpahat jelas, “menyelinap keluar istana hanya dengan satu dayang. Jika aku membawa kantong besar berisi sepuluh koin emas, penjaga gerbang sudah bertanya hendak kemana. Tiga adalah jumlah yang dapat kuselipkan tanpa menimbulkan curiga.”
Ia mencondongkan tubuh sedikit.
“Dan kau tahu benar bahwa jika rencanamu berhasil, bukan hanya aku yang akan berutang padamu, tetapi juga Verellen yang selamat dari suami bodoh yang hanya mengincar gelar.”
Wren memandangnya lama. Di sudut lain, Maera memandang bergantian antara tuannya dan penyihir, meski suaranya masih dibungkam.
“Lima,” kata Wren akhirnya. “Tiga kau berikan sekarang. Dua lagi, setelah kau melihat dengan mata kepalamu sendiri bahwa siasat ini berhasil. Jika tidak, kau bebas dari sisa hutang—karena mungkin, pada saat itu, kau sudah terlalu sibuk berusaha lolos dari suamimu.”
Elowen terdiam sejenak, menimbang.
“Baik.” Ia mengangguk sekali. “Lima.”
Ia mendorong kantong itu ke arah Wren. Penyihir tua itu membuka ikatannya, menimbang koin-koin di telapak tangannya, mendengarkan bunyi logamnya, seolah dapat menilai kejujuran dari suara emas.
“Tinggal satu hal,” ucap Wren. “Aku tidak menerima pembayaran dari orang yang tidak bersedia menanggung akibat perbuatannya sendiri.”
“Apa maksudmu?” tanya Elowen.
Wren berbalik, mengambil sesuatu dari rak di belakangnya: sebuah mangkuk batu abu-abu, permukaannya tergores garis-garis halus yang membentuk lingkaran-lingkaran aneh. Ia meletakkan mangkuk itu di tengah meja, lalu mengambil kendi tanah liat dan menuangkan air ke dalamnya.
“Taruh tanganmu di atas mangkuk ini,” perintahnya. “Aku akan mengikat siasat ini pada darahmu sendiri.”
Maera berusaha bersuara, namun hanya hawa yang keluar dari mulutnya. Matanya membesar ngeri ketika Wren mengambil sebilah pisau kecil dari pinggangnya—pisau tua, tajam, dengan gagang kayu yang sudah licin oleh waktu.
Elowen tidak bergeming.
“Berapa banyak?” tanyanya tenang.
“Setetes saja cukup,” jawab Wren.
Elowen mengulurkan tangan, punggung telapak menghadap ke atas. Wren menyentuh kulit pucat itu, mencari urat yang tepat. Pisau itu kemudian menggores pelan—tidak dalam, namun cukup untuk membuat garis merah muncul dan menetes ke dalam air.
Setetes. Dua. Tiga.
Wren mengusap luka itu dengan ramuan kental berbau pahit; darah berhenti mengalir seketika. Maera akhirnya dapat mengeluarkan suara lirih, meski masih serak:
“Pa–Paduka Putri... hamba... hamba mohon, sudah cukup, bukan...?”
“Diam, Maera,” ujar Elowen, masih tenang. “Ini hanya sedikit darah. Aku sudah kehilangan lebih banyak di arena latihan.”
Wren mulai berbisik, menggerakkan jari-jari di atas mangkuk. Air yang bercampur darah itu berputar pelan, lalu kian cepat, seolah ada sesuatu yang mengaduknya dari dalam. Cahaya pucat keperakan muncul di permukaannya, berkilau seperti bulan muda di permukaan danau.
Setelah beberapa saat, Wren menghentikan bisikannya. Air dalam mangkuk kembali tenang—namun warnanya kini berubah sedikit, seolah bayangan merah dan perak saling merayap di kedalamannya.
Wren mengambil sebilah pedang tua dari sudut ruangan. Pedang itu panjang, bilahnya kusam, gagangnya sederhana tanpa permata; namun bentuknya sempurna, seimbang, seolah dibuat untuk menari di tangan seorang pendekar sejati.
“Kau mengenali jenisnya?” tanya Wren.
Elowen menatap pedang itu sekilas.
“Pedang Verellen lama,” jawabnya. “Model yang digunakan sebelum Ayahanda mengganti gaya latihan. Bilahnya berat di pangkal, cocok untuk tebasan dari atas kuda.”
“Benar,” gumam Wren, agak puas. “Kau memahami besi lebih baik dari kebanyakan ksatria yang datang padaku minta ramuan keberanian.”
Ia kemudian mencelupkan pedang itu ke dalam mangkuk, menyapu bilahnya dengan air berdarah itu perlahan, dari pangkal hingga ujung.
Maera memeluk dirinya sendiri.
“Untuk apa pedang tua itu, Nyonya...?” suaranya nyaris hilang.
Wren tidak menjawab pertanyaan Maera. Ia menatap Elowen, suaranya menjadi lebih rendah, hampir seperti mantra yang lain.
“Mulai saat ini,” katanya, “pedang ini terikat pada darahmu, Elowen Verellen. Pada namamu. Pada wajahmu. Pada segala harap dan takut yang melekat padamu.”
Ia mengangkat pedang itu dari mangkuk; tetesan terakhir jatuh kembali, membentuk lingkaran kecil di permukaan air.
“Siapa pun yang memiliki hasrat atas dirimu—atas tubuhmu, atas gelarmu, atas semua yang melekat pada nama Verellen di pundakmu—tak akan mampu mengangkat pedang ini barang sejengkal pun dari tanah.”
Elowen mengerutkan alis.
“Jadi,” lanjut Wren, “buatlah aturan sayembara untuk ‘mengangkat pedang ini’. Katakan bahwa siapa pun yang mampu mengangkatnya akan menjadi pemenang. Para laki-laki yang berdiri di barisan itu, yang datang dengan ambisi, nafsu, dan mimpi tentang gelar dan ranjang, akan mendapati tangan mereka seberat batu. Pedang ini akan menolak mereka.”
Maera menatap pedang itu seakan hendak pingsan.
“Hamba... hamba tidak mengerti...” gumamnya. “Bagaimana mungkin hanya pedang...”
Elowen menyipitkan mata. “Dan jika ada yang bisa mengangkatnya?”
Wren tersenyum tipis.
“Jika ada yang datang tanpa hasrat?” ia mengangkat bahu. “Tanpa keinginan memiliki? Tanpa niat menjadikanmu trofi di atas tunggangan kuda? Maka pedang ini akan ringan di tangannya, seperti kayu kering."
Elowen menatap pedang itu, kemudian Wren.
“Kau saja seorang tua bisa mengangkatnya,” katanya, nada suaranya terdengar sedikit sinis. “Bagaimana aku tahu ini bukan tipuan? Kau bisa saja menjual pedang biasa dengan harga lima koin emas.”
Wren tertawa—tawa pendek yang membuat bulu kuduk Maera berdiri.
Ia berdiri, menancapkan ujung pedang ke lantai tanah yang keras, lalu melepaskan gagangnya. Pedang itu berdiri tegak, seolah menghunjam bumi.
“Lihat baik-baik,” katanya.
Ia lalu mengulurkan tangan dan memegang gagang pedang. Dengan satu tarikan, pedang itu terangkat dengan mudah, seolah tak berbobot. Ia mengayunkannya sekali di udara, bilah kusam itu mendesis pelan, sebelum ia kembali menancapkannya.
“Jika aku bisa mengangkatnya,” ujar Wren, “itu karena aku tidak memiliki hasrat sedikit pun atas tubuh, gelar, atau namamu, Putri. Aku melihatmu dan melihat pekerjaan. Koin. Dan sedikit hiburan.”
Ia menyeringai, memperlihatkan beberapa gigi yang telah hilang.
“Leherku jaminannya,” tambahnya tenang. “Jika siasat ini tidak bekerja sebagaimana kujanjikan, kau boleh memenggal leherku sendiri dengan pedang ini di halaman depan gubukku.”
Maera menjerit kecil, menutup mulutnya sendiri.
“Jangan bicara tentang memenggal kepala seperti sedang membicarakan memotong lobak, Nyonya...” keluhnya lirih.
Elowen menatap pedang itu lama. Ada sesuatu yang berputar di balik mata hitamnya—perhitungan, keraguan, harapan yang enggan diakui.
Maera mengangkat tangan ragu-ragu.
“Penyihir Wren...” katanya pelan. “Bagaimana jika... jika ada seorang peserta yang... yang tidak memiliki hasrat? Yang datang bukan karena ingin memiliki Paduka Putri, tetapi karena... hal lain? Mungkin... kehormatan, atau—”
Elowen menoleh, memotong.
“Tidak akan ada,” ujarnya tegas. “Aku bungsu. Aku bukan pewaris tahta. Sayembara itu, Maera, bukan tentang kehormatan; itu tentang hadiah. Hadiah bernama aku dan apa yang melekat padaku.”
Ia kembali memandang pedang itu.
“Yang akan datang adalah orang-orang yang berniat memiliki,” lanjutnya, suaranya dingin. “Yang menginginkan gelar, tubuh, dan semua yang bisa mereka genggam sekaligus. Orang-orang yang berhasrat. Dan pedang ini—”
Ia menyentuh gagang pedang perlahan dengan ujung jarinya, seolah hendak memastikan kenyataan. “—akan menolak mereka.”
Wren mengangguk ringan, seakan menyetujui kesimpulan itu.
“Hasrat selalu lebih berat daripada besi,” gumamnya. “Bahkan ksatria terkuat sekalipun akan kalah jika hatinya terlalu penuh dengan dirinya sendiri.”
Maera menggenggam ujung jubah Elowen, gelisah.
“Paduka Putri... jika... seandainya saja... ada satu orang yang berbeda?” tanya Maera ragu. “Seseorang yang datang tanpa niat memiliki? Hamba hanya... hanya bertanya saja...”
Elowen menarik jubahnya pelan dari genggaman Maera, lalu merapikannya.
“Jika ada,” katanya datar, “maka mungkin ia satu-satunya yang layak.”
Ia berdiri. “Namun aku tidak hidup dari khayal. Yang datang ke sayembara adalah mereka yang berhasrat. Itu sudah cukup.”
Wren menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran kagum dan iba.
“Bawalah pedang ini ke istana,” katanya akhirnya. “Perintahkan tukang besi untuk membersihkan bilahnya dan memberi sarung yang layak, namun jangan ubah bentuknya. Katakan bahwa pedang ini adalah ‘Pedang Verellen Lama’, simbol keberanian nenek moyangmu. Raja akan menyukainya. Ia suka hal-hal yang tampak gagah di hadapan rakyat.”
Elowen mengangguk pelan. “Dan air di mangkuk?”
“Buang di tanah Verellen,” jawab Wren. “Biarkan meresap. Darahmu sudah terikat pada pedang. Selebihnya hanya sisa-sisa.”
Ia menyeringai lagi.
“Dan ingatlah, Putri. Lima koin emas. Tiga sudah kuberikan balasannya malam ini. Dua lagi... ketika kau menyaksikan para lelaki gagah itu berkeringat sia-sia di hadapan pedangmu.”
Elowen meraih gagang pedang. Sesaat, Maera menahan napas, takut pedang itu mendadak menolak tuannya sendiri. Namun pedang itu terangkat begitu saja—berat, namun bukan berat yang melawan; hanya bobot besi yang wajar.
Ia mengangkatnya ke bahu, seolah sudah biasa membawa senjata.
“Baik, Wren,” katanya. “Jika siasat ini berhasil, aku akan kembali dengan dua koin emas. Jika tidak—”
Ia menatap lurus ke mata penyihir tua itu.
“—aku akan kembali dengan pedang yang sudah terhunus.”
Wren hanya tertawa kecil, sama sekali tak terlihat gentar.
“Kembalilah ke istanamu, Putri Elowen,” ujarnya. “Dan persiapkan dirimu untuk pesta yang penuh lelaki berhasrat... dan pedang yang tak sudi digerakkan.”
Ketika mereka keluar dari gubuk itu, malam terasa lebih dingin.
Maera memeluk dirinya sendiri, lentera di tangannya bergoyang-goyang.
“Paduka Putri...” katanya akhirnya, setelah berani bersuara lagi. “Hamba masih... masih agak ngeri. Bagaimana jika penyihir itu berdusta? Bagaimana jika ada orang yang bisa mengangkat pedang itu?”
Elowen melangkah pelan di depan, pedang tua itu diselubungi kain dan disampirkan di punggungnya.
“Jika ada yang dapat mengangkat pedang itu,” katanya tanpa menoleh, “maka salah satu dari dua hal pasti benar.”
Maera menelan ludah. “Dua hal...?”
“Pertama,” lanjut Elowen, “ia datang bukan untuk memiliki, melainkan untuk sesuatu yang lain. Maka ia berbeda dari yang lain.”
Ia menghela napas, mengembuskan uap putih ke udara dingin.
“Kedua,” ujarnya, lebih pelan, “sihir Wren gagal, dan ia harus menepati janjinya pada lehernya sendiri.”
Maera menggigil, entah karena udara atau karena bayangan kata-kata itu.
“Namun, Maera,” kata Elowen, suaranya kembali dingin dan pasti, “di antara dua kemungkinan itu, ada satu hal yang dapat kupastikan sejak sekarang.”
“Apa itu, Paduka Putri...?”
Elowen menatap ke depan, ke arah kabut yang menyembunyikan jalan pulang ke istana.
“Bahwa yang akan memenuhi halaman istana pada hari sayembara,” katanya pelan, “adalah orang-orang yang berhasrat. Yang datang bukan karena aku, melainkan karena apa yang mereka kira akan mereka dapatkan dariku.”
Ia mengepalkan tangan di samping tubuhnya.
“Dan untuk mereka,” bisiknya, “pedang ini akan lebih berat daripada dunia.”
Maera menatap punggung tuannya, merasakan sesuatu yang aneh merambat di dadanya—gabungan antara takut, hormat, dan kasihan yang tak tahu hendak diarahkan ke mana.