Episode 18

2210 Words
"Sayang," panggil Lusi untuk merayu David yang sedari tadi hanya diam saja. "Iya aku percaya, habisin dulu itu bubur ayamnya. Punya aku udah habis nih." Ternyata David tidak menjawab kata-kata Lusi karena dia sibuk menghabiskan bubur ayam miliknya. "Oh ternyata kamu diam-diam ngabisin bubur, uh kirain kamu marah," kata Lusi tapi justru dapat balasan tawa dari sang suami. "Buat apa marah, lagian aku sama dia tetap aja lebih tampan aku. Mau dilihat dari aspek mana aja tetap aku lebih unggul dari pada dia." Sekarang giliran Lusi yang tertawa mendengar suaminya membanding-bandingkan dirinya sendiri dengan si penjual bubur ayam. "Kamu ngapain ketawa?" tanya David dengan wajah sinis. "Kamu lucu sih, orang lain kalau dibanding-bandingin itu pasti marah. Lah kamu, malah banding-bandingin diri kamu sendiri dengan orang lain. Sama penjual bubur ayam lagi bandinginnya, ngak sopan banget padahal orangnya ada di depan kita," kata Lusi sambil menahan tawa. "Ngak apa-apa, yang penting sekarang kamu jadi ketawa kan." Lusi langsung tersipu karena kata-kata David, tapi dia masih saja belum bisa berhenti tertawa. "Udah dong Sayang ketawanya, nanti buburnya kalau dingin jadi ngak enak. Ayo habisin." "Huh, oke Sayang oke, akan aku habiskan bubur ini dalam sekejap." Lusi menghela nafasnya agar dia bisa berhenti tertawa, setelah itu dia langsung menyantap kembali bubur ayamnya sampai habis. "Habis ini mau beli apa lagi, mumpung masih di sini. Dan penjualnya juga masih banyak," kata David menawarkan kepada Lusi. "Kita nanti sambil jalan aja gimana, sambil lihat-lihat mana yang mau aku beli," sahut Lusi. "Iya deh, diminum dulu tehnya." David yang sudah cukup mengenal dan paham bagaimana sang istri, dia sangat tahu bagaimana Lusi. Dia tidak jauh beda dengan wanita-wanita lainnya yang suka membeli camilan ataupun jajanan yang suka dijual di sekolah. Dulu tiap kali Lusi keluar dengan David, dia juga sering mengajak David beli makanan-makanan ringan di pinggir jalan. Dari mulai makaroni telor, molen, hingga makanan yang menurut David aneh yaitu cilung semua Lusi beli. Lusi juga sering kali membelikannya untuk Fiona dan adiknya. Maklum karena Lusi anak tunggal jadi dia tidak punya saudara, dan kehadiran Fiona dan adiknya sudah seperti saudara sendiri bagi Lusi. "Udah," kata Lusi membuyarkan lamunan David. "Sudah ya, ayo bayar dulu habis itu kita lanjut jalan lagi." David dan Lusi beranjak dari tempat duduknya, sembari menunggu David membayar bubur ayam yang mereka makan Lusi terlebih dahulu membetulkan tali sepatunya yang lepas. "Kamu kenapa Sayang?" tanya David menghampiri Lusi. "Enggak apa-apa, habis betulin tali sepatu aku aja. Kamu udah selesai?" tanya Lusi. "Iya aku udah selesai, kita jalan sekarang?" Lusi langsung mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan yang David tujukan. "Ya udah ayo, kita mau ke mana dulu?" Lusi tidak menjawab, tapi kedua matanya sibuk memperhatikan setiap makanan yang dijual di sepanjang jalan taman itu. "Wah kayanya aku mau telur gulung aja deh Sayang, sama cilor. Ayo." Dengan penuh semangat Lusi menarik tangan David untuk menghampiri penjual telur gulung yang ia maksudkan. "Pak telur gulungnya dua puluh ya," kata Lusi setelah sampai di tempat penjual telur gulung itu. "Siyap Neng, tunggu sebentar ya," jawab si penjual telur gulung itu. "Kamu beli dua puluh?" tanya David dengan wajah keheranan. "Iya, kan nanti makannya sama kamu juga," jawab Lusi dengan santainya. "Ngak kebanyakan ya?" tanya David lagi. "Iya enggaklah, kan telur gulung itu kecil Sayang, udah mending kamu diam aja ya." Lusi melebarkan senyumnya agar David tidak marah kepadanya. "Oh iya, aku mau telfon Disa sama Ina. Kali aja mereka mau nitip jajan apa biar sekalian." Inilah yang tidak pernah berubah dari diri Lusi sejak dulu, dia tidak pernah lupa dengan orang-orang yang ia sayang dan juga orang-orang yang ada disekitarnya. "Aku telfon mereka sebentar ya." Lusi meminta ijin kepada David, dan setelah David mengangguk Lusi langsung menelfon salah satu asisten rumah tangganya itu. "Hallo, Ina," kata Lusi membuka pembicaraan. "Hallo, iya Nya ada apa?" tanya Ina. "Saya lagi jajan di taman. Kamu sama Dasi mau titip jajan apa ngak biar sekalian?" tawar Lusi. "Iya sebentar Nya, saya tanya Disa dulu." Ina langsung bertanya kepada Disa rekan kerjanya. "Hallo Nya, katanya disamain aja sama punya Nyonya," jawab Ina dengan hati-hati. "Betul nih, saya belinya cilor sama telur gulung doang. Gimana?" tanya Lusi lagi. "Iya Nya ngak apa-apa, samain aja," jawab Ina lagi. "Oh ya udah kalau gitu, ngak ada yang lain nih?" Lusi bertanya lagi untuk memastikan pesanan dari Ina dan Disa, mungkin saja ada yang lain. "Ngak ada Nya, itu saja," sahut Ina. "Oh gitu, udah dulu ya." Lusi mematikan sambungan telfon setelah memastikan apa saja yang ingin Ina dan Disa beli. "Pak, telur gulungnya dua puluh lagi ya," kata Lusi kepada penjual telur gulung. "Mereka minta telur gulung juga?" tanya David kemudian. "Enggak sih, mereka cuma bilang samaain aja sama yang aku beli," jelas Lusi. "Oh gitu." "Sayang, aku mau beli cilor dulu ya. Kamu di sini aja ya, biar cepat." "Iya, jangan lama-lama ya." Lusi tersenyum sambil mengangguk lalu pergi ke penjual cilor yang tidak jauh dari penjual telur gulung. "Pak, cilornya tiga puluh biji ya," kata Lusi dengan sopan. "Iya Neng, ditunggu ya. Ini masih ada lima belas," jawab si penjual cilor. "Bapak sudah lanjut usia kenapa masih berjualan Pak?" tanya Lusi dengan hati-hati. "Dari pada di rumah aja mau apa Neng," jawab si Bapak. "Memangnya anak Bapak di mana?" tanya Lusi lagi. "Dia sudah mengabdikan dirinya untuk TNI dan negara selamanya Neng." Awalnya Lusi tidak paham, tapi setelah ia cerna kembali kata-kata penjual cilor ini, akhirnya dia paham maksud dari kata-katanya. "Ya ampun, maafin saya ya Pak. Saya tidak tahu, saya juga tidak bermaksud apa-apa," kata Lusi yang merasa bersalah. "Enggak apa-apa Neng, saya sudah ikhlas. Yang penting cita-cita dia suda tercapai menjadi seorang TNI, jadi saya sudah tidak ada beban dan hutang kepada anak saya lagi." Hati Lusi seketika terenyuh mendengar cerita dari penjual cilor itu. Kalau David tidak pernah bertemu kedua orang tuanya, tapi kalau penjual cilor ini harus kehilangan anaknya karena sebuah tugas dari negara. "Ini Neng cilornya sudah siyap." Karena sibuk dengan pikirannya Lusi sampai lupa kalau dia sedang menunggu cilor. "Oh iya Pak, jadi berapa Pak semuanya?" tanya Lusi setelah menerima cilor pesanannya. "Enam puluh ribu Neng," jawab si penjual cilor. "Ini Pak uangnya." Lusi memberikan tiga lembar uang seratus ribuan kepada penjual cilor itu. "Ini kebanyakan Neng, ini kembaliannya." Bukannya menerima penjual cilor itu justru mengembalikan dua lembar uang seratus ribu itu beserta kembalian Lusi. "Ini untuk Bapak saja, soalnya satu tusuk cilor yang saya beli ini harganya sepuluh ribu. Jadi semuanya tiga ratus ribu, diterima ya Pak," kata Lusi agar pejual cilor mau menerima uang itu. "Terima kasih ya Neng, semoga kebaikan selalu menyertai Neng dan keluarga Eneng," kata penjual cilor itu. "Sama-sama Pak, saya permisi ya Pak." Lusi meninggalkan penjual cilor itu dan kembali ke penjual telur gulung di mana suaminya berada. "Sudah," kata Lusi sambil menunjukkan plastik yang ada di tangannya kepada David. "Aku juga sudah, ayo." Karena David juga sudah selesai, akhirnya mereka jalan kaki dan pulang bersama menuju apartemen mereka. Di jalan, Lusi menceritakan kisah penjual cilor tadi kepada David. Mendengar cerita itu dari Lusi membuat David semakin bangga kepada istrinya sendiri. Lusi tidak pernah berubah, meskipun dia orang kaya, tapi dia tidak pernah memandang orang lain dengan rendah. Dan sifat suka menolong Lusi juga tidak pernah berubah sejak dulu. Istri David itu tidak pernah bisa kalau melihat orang lain apa lagi orang tua kesusahan. "Awalnya aku mau kasih lagi Sayang, tapi aku takut nanti bapaknya malah tersinggung," kata Lusi. "Lain kalikan kita bisa beli cilornya lagi, nanti kita belinya yang banyak. Satu tusuk enggak sepuluh ribu lagi, tapi dua puluh ribu, atau lima puluh ribu," jawab David yang sangat mendukung kebaikan istrinya. "Ih pinter banget sih," sahut Lusi. "Aku dulu ngak nyangka kalau kamu mau makan, makanan pinggir jalan loh," ujar David tiba-tiba. "Loh emang kenapa? Kenapa kamu bisa mikir gitu?" tanya Lusi yang lumayan terkejut. "Iya kamu kan orang kaya Sayang, mungkin aja kamu ngak suka makanan pinggir jalan. Kan banyak orang kaya yang menganggap makanan pinggir jalan itu ngak sehat," jelas David. "Aku enggak pernah mikir gitu ko Sayang, ya tapi aku juga lihat-lihat kondisi si. Kalau dari tempat jualan atau gerobaknya aja kumuh ya mungkin aku mikir berkali-kali meskipun lagi pengen. Tapi aku ngak apa-apa ko makan jajanan pinggir jalan model apa aja. Mama sama papa juga ngak pernah melarang. Yang penting jangan telat makan, minum air putih yang cukup, olahraga, dan jangan suka begadang. Itu aja sih yang selalu mama tekankan ke aku selama ini," jawab Lusi panjang lebar. "Ih makin gemes sama kamu." Tidak terasa mereka berdua sudah sampai di apartemen karena keasyikan berbincang sepanjang jalan. Sampai di apartemen Lusi langsung mencuci tangan dan kakinya, kemudian dia lanjut menikmati jajanan yang sudah ia beli bersama sang suami dan kedua asisten rumah tangganya. "Beruntung ya kita punya majikan kaya Bu Lusi, dia baik banget. Kalau beli apa-apa selalu ingat sama kita," kata Ina kepada Disa. "Betul In, aku juga bersyukur. Semoga Bu Lusi dan Pak David selalu diberi kesehatan dan kelancaran dalam bisnis mereka ya," kata Disa. "Iya Dis." Sambil mencuci piring bekas mereka makan jajan tadi, Ina dan Disa membicarakan Lusi sang majikan. Tapi mereka tidak membicarakan keburukan Lusi, justru mereka bangga dengan sosok Lusi yang sudah menjadi majikan yang baik bagi mereka. *** Hari sudah beranjak siang, Lusi dan David juga sudah bersiap-siap untuk mengunjungi Amie. Lusi sebenarnya enggan pulang ke rumah orang tuanya, bukan tanpa sebab itu semua dia lakukan karena David. Lusi sangat tahu kalau papanya tidak menyukai sang suami, karena itulah Lusi belum siap mengajak David untuk datang ke rumahnya. Hari ini pula Lusi bukan tanpa alasan kenapa dia datang ke rumah orang tuanya. Lusi berkunjung ke sana karena pagi tadi Amie menelfonnya, wanita paruh baya itu meminta Lusi untuk datang ke rumahnya bersama David. "Sayang, kamu beneran baik-baik aja?" Lusi memegang tangan David yang tengah menyetir mobil sambil bertanya dengan ragu. "Iya Sayang, aku baik-baik aja. Kamu ngak perlu khawatir kaya gitu ya, semuanya akan baik-baik saja." Meskipun David masih sedikit ragu, tapi dia memantabkan dirinya untuk berani. Karena sebelumnya David tidak melakukan kesalahan ataupun melukai James, jadi tidak ada alasan bagi David untuk takut bertemu dengan papa mertuanya itu. "Kita pulang aja yuk Sayang, lain kali aja kita ke rumah mama nya." David bisa melihat seberapa khawatirnya sang istri sampai terlihat gelisah dan terus-menerus mengajak pulang. "Sayang, tenang ya. Semua akan baik-baik aja. Kamu duduk aja yang tenang, rilekskan badan dan pikiran kamu. Sebentar lagi kita akan sampai, jadi kamu ngak usah panik gitu." David mencoba meyakinkan sang istri kalau dirinya memang baik-baik saja. "Sayang, kamu kan tahu papa orangnya gimana. Kamu ngak lupakan apa yang sudah papa lakukan ke kamu dulu?" David masih mencoba untuk tenang agar Lusi tidak semakin panik dibuatnya. "Iya Sayang aku tahu ko, makanya sekarang kamu duduk manis aja sambil menikmati perjalanannya ya. Duduk yang tenang jangan berfikir yang macam-macam," kata David menenangkan Lusi. "Iya mana aku bisa tenang Sayang, aku tuh tahu banget seperti apa papa. Dia itu orang yang sangat ambisius, dia bisa melakukan apa saja asal ambisinya tercapai." Lusi menghela nafasnya dengan sangat berat, dia tidak bisa berhenti khawatir dan panik seperti yang David sarankan. Tentu saja Lusi panik dan khawatir, apa lagi Lusi sangat tahu seperti apa sifat papanya. Dia orang yang mempunyai ambisi tinggi dan juga keras kepala, itulah James di mata Lusi selama ini. "Sayang kita pulang aja yuk, aku takut papa melakukan hal yang keterlaluan ke kamu nanti." David tersenyum baru kali ini dia melihat seorang anak yang dulunya manja tapi sekarang panik dan ketakutan saat hendak pulang ke rumah orang tuanya. "Kamu tenang aja, ngak akan terjadi apa-apa. Percaya deh sama aku, sekarang sudah ngak ada yang perlu kita cemaskan lagi. Toh sekarang mama sudah berpihak sama aku, dan kamu juga ada dipihak aku. Apa lagi sekarang kamu sudah resmi menjadi milik aku, jadi sudah tidak ada alasan lagi untuk takut bertemu papa kamu. Kalaupun papa berani macam-macam nantinya, aku yakin kamu dan mama akan selalu ada dipihak aku. Jadi aku ngak takut, aku yakin semuanya akan baik-baik saja." David mengatakan apa yang ia rasakan, dia memang sudah tidak terlalu takut sekarang. Dia yakin Tuhan dan semesta akan melindungi dirinya dan Lusi dari hal buruk yang mungkin saja direncanakan oleh papa mertuanya. "Kamu bisa seyakin itu sih, padahal papakan orangnya suka nekat Sayang. Dia suka ngak pikir panjang kalau mau melakukan sesuatu," kata Lusi yang tidak bisa berhenti panik dan berfikir yang bukan-bukan. "Iya memangnya aku harus gimana Sayang? Ngak mungkin aku ikutan panik juga kaya kamu sekarang inikan? Lagi pula mungkin ada hal penting yang ingin mama sampaikan," jawab David. "Tapi aku takut papa membawa kamu pergi jauh dari hidup aku lagi Sayang." Lusi bersender di bahu David, dia terlihat sangat cemas. Hal itu bisa David lihat dan rasakan dari wajah dan ekspresi sang istri. "Kalau itu sepertinya tidak mungkin terjadi Sayang, memangnya papa tega membuat putri semata wayang kesayangannya ini menjadi seorang janda? Pastinya papa ngak maukan?" Lusi langsung membenahi posisi duduknya, dia memikirkan ucapan David baru saja. "Iya juga sih Sayang, kamu ada benarnya juga. Kalau papa sampai melakukan itu artinya papa tega menghancurkan reputasi aku dan juga reputasi perusahaan. Kamu pinter juga ya ternyata, ngak salah deh aku pilih kamu." Saking bahagianya setelah panik sepanjang perjalanan, Lusi sampai tidak sadar kalau mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah orang tuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD