Episode 20

1517 Words
“Lusi, Mama sama Papa pamit dulu ya. Pakaian kamu sama David untuk tiga hari ke depan sudah Mama siapkan di kamar kamu ya,” kata Amie yang sudah siap dengan koper dan beberapa tas bawaannya. “Sebenarnya Mama mau ke mana si, Ma? Masa Mama pergi ke mana aja Lusi ngak boleh tahu.” Lusi merasa kesal karena sedari tadi dia bertanya mau ke mana Amie dan James pergi tapi Amie tidak memberitahunya. “Iya Mama sama Papa mau liburan, sekarangkan kamu sudah ada yang menjaga jadi Mama sama Papa mau pergi liburan berdua,” jawab Amie yang hampir sama sejak tadi. “Apaan sih Mama ngak asik deh, kalau Mama ngak mau ngasih tahu mau pergi ke mana Lusi mau pulang ke apartemen aja.” Lusi kecil dan Lusi yang sekarang tidak jauh beda, masih dengan ancaman untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya atau yang seperti ia inginkan. “Dasar ya kamu ini bisa aja kalau ngancem Mama, heran deh ngak ada berubahnya dari dulu,” kata Amie. “Iya habis Mama ngak mau ngasih tahu aku sih,” sahut Lusi. “Mama itu mau pergi liburan sama teman-teman arisan Mama. Kamu waktu masih sekolah dulukan sering ikut juga,” ujar Amie mengatakan yang sebenarnya. “Oh liburan tahunan itu, ya ampun kenapa Mama ngak bilang dari tadi sih. Aku juga kenapa ngak kepikiran dari tadi ya.” David dan Amie hanya tersenyum melihat tingkah lucu Lusi. “Ya udah Mama berangkat dulu ya, kamu baik-baik di rumah. David, Mama titip Lusi ya, kalau dia nakal jangan lupa telfon Mama,” kata Amie bergurau. "Iya Ma, Mama dan Papa juga baik-baik ya di sana. Jaga kesehatan dan jaga pola makan juga," ujar David. "Hegh, sok-sokan peduli sampai disuruh jaga pola makan segala. Bilang aja mau minta oleh-oleh dari kita," kata James dalam hatinya saat mendengar kata-kata David. "Iya David makasih ya," sahut Amie. "Tunggu Ma," ucap Lusi menghentikan Amie yang hendak melangkah. "Ada apa Sayang?" tanya Amie. "Mama belum kasih tahu aku mau ke mana," ujar gadis itu. "Oh iya Mama sampai lupa, ini dia." Amie dengan penuh semangat menunjukkan tiket pesawat miliknya dan milik James kepada Lusi dan David. "Mama mau ke Dubai?" tanya Lusi seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. "Iya Sayang, kamu benar sekali," jawab Amie. "Ih jadi pengen ikut deh, Mama kenapa ngak ngajakin aku sama David si," protes Lusi. "Soalnya kamu belum jadi ibu-ibu, jadi kamu ngak boleh ikut." Lusi langsung memasang wajah cemberut mendengar jawaban asal dari Amie. "Apaan sih Ma," gerutu Lusi. "Mama ke Dubai cuma tiga hari? Ngak terlalu singkat ya Ma. Penerbanganannya aja pulang pergi udah satu hari, terus Mama di sana cuma dua hari. Belum istirahatnya habis turun dari pesawat kan capek banget pasti," ujar Lusi. "Kata siapa Mama di sana cuma dua hari, Mama di sana tiga hari penuh ngak termasuk naik pesawat pulang pergi loh ya," jelas Amie. "Jadi jatuhnya ngak tiga hari dong Mama, paling ngak kita empat hari tidur di sini." Amie sengaja memberitahu Lusi sekarang agar dia tidak menolak, karena sebenarnya Amie melakukan ini semua juga untuk Lusi dan David. Amie melakukannya agar David bisa merasakan tinggal di rumah utama tanpa adanya rasa canggung karena adanya kehadiran James. "Iya betul sekali," kata Amie membenarkan. "Mama kebiasaan banget deh suka gitu," gerutu Lusi lagi. "Udah ah, nanti Mama telat lagi. Jangan sampai Mama ketinggalan pesawat, bisa gagal liburan nanti Mama. Udah ya, kalian baik-baik di rumah, Mama tinggal dulu." Lusi dan David mencium tangan Amie secara bergantian sebelum Amie masuk ke dalam mobil. "Dadah." Amie membuka kaca mobil sambil melambaikan tangan ke arah Lusi dan David yang masih berdiri berdampingan. "Dah Mama dah Papa." Lusi dan David juga melambaikan tangannya sampai mobil yang Amie dan James naiki keluar dari pintu gerbang rumah besar itu. Meskipun sedari tadi James hanya diam di dalam mobil, tapi David tetap melambaikan tangan untuknya. Begitu juga dengan Lusi, dia tetap memanggil Papanya meskipun Papanya tidak memberikan respon seperti yang Lusi harapkan. "Mama sama Papa romantisnya sampai tua ya," ujar David tiba-tiba. "Kata siapa mereka romantis, sebenarnya mereka itu ngak romantis Sayang. Papa itu orangnya cuek dan ngak peka, jadi yang selalu membuat suasana romantis itu ya selalu mama," jelas Lusi. "Kalau aku orangnya romantis ngak?" Lusi hanya tersenyum simpul tanpa menjawab pertanyaan dari David. "Sayang, kamu belum jawab pertanyaan aku," kata David karena Lusi berjalan mendahuluinya. "Iya kalau itu harusnya kamu bisa menilai sendirilah kamu orang yang seperti apa," jawab Lusi tanpa menghentikan langkah kakinya. "Mana ada orang yang bisa menilai dirinya sendiri, yang menilai diri kita ya orang lain dong Sayang. Dimulai dari orang terdekat, orang terdekat aku itukan kamu jadi dari kamu dulu," ujar David. "Kalau orang ngak romantis mungkin ngak ngasih coklat waktu ulang tahun, terus dibela-belain hujan-hujanan pula." Lusi mengatakannya setelah menghentikan langkahnya, dia juga tersenyum-senyum sendiri karena mengingat momen indah waktu dia masih pacaran dengan David dulu. Langkah kaki David berhenti, dia terlihat sedang berfikir keras untuk mengingat momen yang dimaksud oleh Lusi. Untuk beberapa saat David hanya terdiam, sampai akhirnya dia ikut tersenyum sendiri karena sudah mengingat momen haru waktu ulang tahun Lusi dulu. "Kenapa kamu senyum-senyum sendiri gitu?" tanya Lusi. "Enggak apa-apa, lucu aja ingat masa-masa dulu," sahut David. "Jadi sekarang sudah bisa menarik kesimpulankan, kamu orang yang romantis atau tidak." Sebenarnya David bukan tipe laki-laki yang romantis, hanya saja dia punya inisiatif tinggi untuk memperhankan hubungannya dengan Lusi waktu dulu. "Em iya sudah aku ambil kesimpulan sekarang, kalau aku bukan orang yang romantis," kata David dengan wajah polosnya yang tidak merasa bersalah sama sekali. "Ya udahlah ya terserah kamu aja." Wajah Lusi terlihat kesal, David juga menyadari akan hal itu. David sadar kalau Lusi pasti kecewa dengan jawabannya karena tidak seperti yang Lusi harapkan. "Sebenarnya aku bukan orang yang romantis, hanya saja aku akan melakukan apapun untuk memperjuangkan cinta kita. Dan satu lagi, aku akan berusaha sebisa mungkin demi kebahagiaan kamu." Kata-kata yang David ucapkan terdengar tulus di telinga Lusi, tentu saja itu sangat tulus karena David mengatakan apa yang ada di hatinya. Benar saja wajah Lusi langsung berubah seketika itu juga, wajah yang tadinya cemberut sekarang sudah berubah. Senyum manis yang begitu khas dengan lesung pipi kecil yang tidak begitu terlihat membuat wajah Lusi langsung bersinar. Sorot mata yang tadi terlihat begitu kecewa sekarang berganti dengan tatapan hangat yang begitu dalam. "Terima kasih sudah hadir di dalam hidupku David Havi." Kata-kata itu Lusi ucapkan sesaat setelah ia berhasil membuat David susah bernafas karena pelukan Lusi yang terlalu erat. "Aku yang berterima kasih, hadirnya kamu dihidup aku itu seperti pelita yang menerangi kegelapan malam yang begitu sunyi." Lusi merenggangkan pelukannya pada David, lalu dia menatap David dari bawah dengan seulas senyum yang menghiasi wajahnya. Namun reaksi David sangat tidak terduga, dia justru menganggakat tubuh Lusi. Dia membawa Lusi ke taman belakang rumah sambil terus menggendongnya. "Ih Sayang mau ke mana?" tanya Lusi yang masih ada digendongan sang suami. "Mau ke taman belakang, aku penasaran seperti apa keadaannya sekarang," jawab David. Sampainya di taman belakang, David menurunkan Lusi dengan hati-hati. David memandangi keindahan taman yang masih rapi, lengkap dengan rumput alami dan juga bermacam-macam bunga yang ditanam oleh Amie. Pohon-pohon hias hijau yang tidak terlalu tinggi menambah keindahan taman yang cukup luas itu. Hal yang sangat David suka dari taman rumah orang tua Lusi adalah pemandangannya. Karena dari sana kita bisa melihat sebuah gunung di bagian utara taman itu. Meskipun gunung itu sebenarnya jauh, tapi dari taman itu sangat terasa begitu dekat setiap kali orang memandangnya. "Ternyata tidak banyak berubah ya, tapi jadi semakin indah," guman David dengan mata yang berkaca-kaca memandangi keindahan taman dan keindahan alam yang ada di sekitar rumah orang tua Lusi. "Kamu dari dulu sampai sekarang masih aja ya suka sama taman ini. Mungkin itu jadi alasan juga kenapa kita dipertemukan ya. Mama suka menghias taman, suka bunga-bunga dan kamu suka dengan keindahan alam. Suka yang berbau-bau alami dan suka kedamaian," kata Lusi menimpali. "Aku juga ingin membangun rumah yang jauh dari pusat kota. Lebih menyatu dengan alam, udaranya masih sejuk dan jauh dari kebisingan mobil-mobil dan angkutan kota," sahut David. "Mari kita lakukan, kita buat rumah impian kamu bersama." Lusi sangat mendukung keinginan David, karena Lusi juga tidak terlalu suka keramaian seperti kaum-kaum muda pada umumnya. Jiwa Amie sepertinya turun kepada Lusi, tidak suka keramaian, tidak pernah masik club, dan lebih suka membaca dari pada nongkrong di cafe. Itu sebabnya Amie membuat rumah yang jauh dari pusat kota. Karena wanita paruh baya itu lebih menyukai konsep menyatu dengan alam. Bahkan ada satu kamar di rumah Amie yang dindingnya terbuat dari kaca. Dua dinding yang menghadap ke luar terbuat dari kaca, dan atap kamar itu juga terbuat dari kaca. Hanya tirai putih yang menjadi penutup kamar itu saat diinginkan. Amie sering tidur di kamar itu bersama Lusi saat hujan turun. Melihat indanya tetesan air hujan yang jernih di atas atap membawa ketenangan dan kenyamanan tersendiri bagi Amie. Itu juga salah satu alasa kenapa Amie memilih membangun rumah di kawasan yang bisa dibilang dataran tinggi. Karena Amie suka menikmati hujan, karena saat hujan turun dia membawa suasana yang sangat damai bagi setiap orang yang menikmatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD