Junior Kampus

1301 Words
"Bagus bajunya, aku suka," kata David sembari menunjukkan baju baru yang ia kenakan kepada Lusi. "Bisa cocok banget di kamu ya Sayang, pilihan mama emang ngak pernah salah," sahut Lusi. "Uh paket sudah di terima dengan baik, sekarang kurir jomblo ini mau pulang biar ngak mengganggu keuwuhan pasangan pengantin baru." Fiona melirik ke arah Lusi dengan wajah dan tatapan menggoda. "Loh mau pulang sekarang, Fi. Ngak ikut ke mall aja sekalian sama kita?" sergah David. "Eh, emang boleh kalau aku ikut, nanti yang ada aku malah gangguin kalian berduan dong," sahut Fiona. "Enggaklah, Fi. Ikut aja sekalian bantuin aku cari-cari barang." Lusi mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali ke arah Fiona dengan maksud untuk merayu sahabatnya itu. "Ih apaan sih kedip-kedip gitu, kalau mau merayu yang bermutu dikit dong Lusi," ejek Fiona. "Kalau kamu ngak mau ya udah ngak apa-apa, nanti aku mau beli tas dior edisi terbatas satu aja kamu ngak kebagian," kata Lusi dengan nada suara yang dibuat-buat. "He he he, iya-iya aku ikut. Tapi aku juga ngak mau tas diornya, aku cuma mau sekalian ke sana aja. Mau beli beberapa keperluan sekolah Via, sama keperluan ibu juga," jawab Fiona. "Ya udah nanti sekalian aja bareng, apa mau jemput Via sekalian?" tawar Lusi. "Ngak usah, Lus. Nanti malah ngerepotin kamu, lagian ngak banyak ko cuma beberapa alat tulis aja." Fiona tidak mau terus-terusan merepotkan Lusi, karena sejak adiknya Via bersekolah di bangku sekolah dasar Lusilah yang selalu membelikan semua keperluan sekolahnya sampai sekarang. "Tunggu bentar ya, aku ambil tas dulu. Sayang kamu telfon Bern ya, biar dia siapkan mobil," kata Lusi kepada David. "Biar aku aja yang nyetir, ngak usah bawa supir," tukas David. "Hah, kamu serius?" ujar Lusi yang sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Iya Sayang, aku serius. Kamu ngak percaya kalau aku bisa nyetir? Aku punya sim loh," sahut David. "Bukan gitu, tapi kitakan mau belanja ya mungkin banyak nanti belanjaannya. Kamu ngak apa-apa ngak bawa supir?" tanya Lusi yang memang merasa tidak yakin. "Enggak apa-apa, kan ada Fiona. Iya ngak, Fi?" kata David dengan ekor mata yang merilik ke arah sahabat dari istrinya itu. "Enak aja, ya nanti kuli ongkoklah yang bawain belanjaannya. Ha ha ha." Lusi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Fiona tertawa lepas seperti orang uang tidak punya beban hidup apa-apa. "Ya udah aku ambil tas dulu ya, tunggu sebentar." Lusi langsung bergegas ke kamarnya untuk mengambil tas dan juga dompetnya. Lusi juga mengambil kardigan panjang berwarna coklat s**u untuk melengkapi pakaian sederhananya yang sekarang ia kenakan. Dan secepat kilat Lusi langsung kembali ke ruang tamu. "Ayo, aku sudah siap," kata Lusi dengan semangat. "Ayo," sahut David dan Fiona bersamaan. "Disa, Ina, kita mau keluar dulu ya. Kalian mau nitip apa? Sabun muka atau apa mungkin?" tanya Lusi sebelum keluar dari apartemen. "Em itu aja Nya, pasta gigi sensitif, kalau kamu apa, In?" ujar Disa. "Aku lagi ngak butuh apa-apa Nya, kalau camilan terserah Nyonya aja mau beli apa," sahut Ina. "Oh ya udah kalau gitu, baik-baik ya di rumah," kata Lusi lagi. "Iya Nya," jawab Disa dan Ina secara bersamaan. Lusi memang selalu memperlakukan pelayannya dengan baik. Lusi sudah menganggap mereka seperti keluarga, dia juga selalu memperhatikan makanan dan keperluan mereka sekecil apapun itu. Lusi selalu bertanya kepada kedua pelayannya setiap kali akan pergi berbelanja. Dia tidak akan lupa menawarkan kepada mereka hal yang ingin mereka beli. Hal itu membuat pelayan baik di apartemen Lusi, di villa, hingga di rumah utama selalu betah. Karena Lusi diajarkan oleh Amie untuk memeperlakukan mereka dengan baik. Karena meskipun mereka hanya seorang pelayan, tapi jasa mereka sangat berarti. Karena menjadi asisten rumah tangga bukanlah pekerjaan yang hina, selama mereka bekerja sesuai kewajiban mereka dan tidak menyalahi aturan-aturan yang ada. Itulah yang selalu Amie katakan kepada Lusi, karena bagaimanapun orang-orang seperti Lusi dan Amie tidak bisa hidup tanpa jasa orang-orang yang mau menjad asisten rumah tangga. Lusi, David, dan Fiona sudah berada di tempat parkir. Tapi saat mereka hendak masuk ke dalam mobil, ada seseorang yang tiba-tiba memanggil David. "Loh Kak David," kata seorang wanita yang terlihat lebih muda dari Lusi. "Em maaf siapa ya?" tanya David dengan sopan. "Saya Zana, junior Kakak di kampus," kata gadis itu dengan senyum yang merekah. "Oh mungkin saya lupa," jawab David sekenanya. "Ini pacarnya Kak David ya?" tanya Zana sambil menunjuk ke arah Lusi yang berdiri tepat di samping David. "Oh ini istri saya," jawab David. "Lusi," ujar Lusi sambil mengulurkan tangannya ke arah Zana. "Zana," jawab Zana sambil memjabat tangan Lusi. "Kamu junior suami saya waktu kuliah dulu ya?" tanya Lusi tiba-tiba. "Iya Kak, dulu kita pernah ambil mata kuliah yang sama juga," jawab Zana penuh percaya diri. "Kalau begitu kamu juga junior saya ya dulu, kebetulan saya dan suami saya ini satu fakultas dan selalu mengambil mata kuliah yang sama." Lusi sengaja memperjelas karena dia merasa risih dengan sikap gadis kecentilan ini. "Oh begitu ya, pantas saja wajah Kak Lusi tidak asing rasanya. Ternyata senior saja juga di kampus," sahut Zana. "Kamu tinggal di sini?" tanya Fiona menimpali. "Iya Kak, saya tinggal di lantai dua," jawabnya. "Oh begitu," guman Fiona. "Ya sudah kalau begitu kiita permisi dulu ya, mari Zana," kata Lusi dengan senyum yang ia paksakan. "Iya mari, hati-hati ya Kak David." David hanya tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya untuk menanggapi ucapan Zana baru saja. "Kecentilan banget sih itu anak," gerutu Fiona setelah berada di dalam mobil. "Aku junior kakak," kata Lusi sambil menirukan gaya bicara Zana. "Iya-iyalah ngak bakalan ingat sama aku, diakan ingatnya cuma sama senior-senior yang cowok aja," ujar Lusi yang belum bisa meredam rasa cemburunya. "Kamu cemburu?" tanya David dengan santai. "Iya kamu pikir aja sendiri," sahut Lusi dengan sewot. "Baik sebelum ataupun sesudah kenal dengan kamu, aku selalu membatasi interaksi dengan wanita. Kalau tidak terlalu penting aku lebih baik tidak berinteraksi," kata David. "Terus kenapa dulu mau kalau aku ajak makan bareng?" tanya Lusi. "Iya karena ajakan kamu itu seperti sebuah impian yang aku tunggu-tunggu," jawab David. "Gombal," tukas Lusi. "Enggak gombal Sayang, kalau aku ngak suka sama kamu ngak mungkin aku mau makan siang, mau ke cafe sama kamu," jelas David. "Iyakan soalnya dulu aku yang ngajak, jadi kamu ngak enak kalau mau nolak, iyakan?" tanya Lusi yang mulai kemana-mana fikirannya. "Iya enggak gitu juga Sayang, aku mau karena aku suka. Kalau aku ngak suka pasti akan aku tolak seperti sebelum-sebelumnya." Fiona yang duduk di kursi belakang hanya bisa mengangkat kedua alisnya ke atas sambil mendengarkan ocehan pasangan pengantin baru yang ada di depannya ini. "Jadi dulu banyak yang suka ngajakin kamu makan?" tanya Lusi yang tak kalah sewotnya dari sebelumnya. "Ya ampun Sayang, ngak gitu juga. Udah ya jangan marah-marah lagi, yang penting hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai. Jangan berpikir yang macam-macam lagi ya, ngak ada yang bisa gantiin kamu di hati aku sekarang dan selamanya. I love you Lusiana." Kata-kata David kali ini berhasil membuat senyum di wajah Lusi akhirnya merekah. "I love you too Davidku," jawab Lusi dengan nada suara manja. "Sayang sama kamu," ujar Lusi sambil bergelanyut manja di bahu David. "Udah aku duga akan seperti ini akhirnya, jadi obat nyamuk di sini," tukas Fiona. "Ya maaf, Fi. Ya gimananya, namanya juga habis ldr jadi pengennya kangen-kangenan mulu sih," sahut Lusi. "Tadi yang maksa-maksa buat ikut siapa ya? Ko sekarang aku di suruh jadi patung gini," sindir Fiona lagi. "Ha ha ha, iya-iya Fi, maaf," ucap Lusi. "Huh, udah lanjutin aja mesra-mesraannya, aku mau tidur aja ngak mau ganggu kalian. Tapi jangan lupa bangunin aku kalau udah sampai ya." Fiona langsung memejamkan matanya sambil bersandar di sandaran kursi mobil. "Oke deh," jawab Lusi dengan semangat. Setelah kata-kata yang Lusi ucapkan baru saja, mobil menjadi hening karena Lusi dan David tidak lagi berdebat. Fiona juga sibuk dengan dunia mimpinya sampai mereka tiba di tempat parkir salah satu mall besar yang ada di kota itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD