Ruangan yang begitu luas saat ini hening, hanya ada dua manusia yang sedari tadi diam. Nathan sedari tadi pandangannya tidak pernah lepas dari wajah cantik Claire. Hanya ada suara detak jam mahal di dinding marmer dan napas Claire yang tidak stabil.
Nathan yang duduk di sofa tepat di depan, Claire mengenakan setelan abu gelap yang tampak sempurna di tubuhnya. Dengan tatapan dingin dan tak terbaca seperti di malam gala waktu itu. Namun, ada sesuatu yang lebih menyeramkan dalam sorot matanya, yaitu kekuasaan.
“Bagaimana, sudah kamu tandatangani?” suara Nathan pelan, tapi tegas, memecah keheningan.
Claire menggenggam jemarinya yang dingin. “Aku... hanya ingin ayahku sembuh.”
Nathan berdiri dan menatap keluar jendela. “Aku bisa membeli apapun di dunia ini. Tapi tidak bisa membeli darah dagingku sendiri dari seorang wanita yang kemanduluannya diwarisi keluarga bangsawan.
Claire yang sedari tadi duduk dengan menunduk, bahkan tangannya terlihat gemetar. Setelah menginjakkan dirinya di lantai 56, lantai tertinggi yang hanya bisa diakses dengan kartu khusus. Rasa takut menggumpal di dadanya tapi tidak memiliki pilihan.
“Aku tahu ini bukanlah hal yang mudah bagimu, Claire. Tapi, bukankah aku memberimu solusi yang terbaik,” ucap Nathan dengan suaranya yang kali ini terdengar lebih lembut.
Claire masih diam dengan menggenggam kedua tangannya di atas pangkuan.
“Kamu pasti berpikir jika aku adalah pria monster dan sebagainya, menawar tubuhmu demi anak.”
“Aku seorang anak ingin memberikan yang terbaik untuk, ayah,” ucapnya. “Kita saling membutuhkan dengan dua hal yang berbeda. Aku tahu bahwa di dunia ini tidak kan satu orang pun memberikannya secara cuma-cuma.”
Keheningan, entah kenapa ruangan ini tiba-tiba sunyi setelah Claire bicara sedangkan Nathan masih berdiri menatap keluar jendela. Hingga dimana Claire kembali memberanikan diri bersuara.
“Bukankah banyak cara untuk memiliki anak, contohnya seperti mengadopsi anak,” ucap Claire pelan dan penuh kehati-hatian.
Nathan menoleh, “Karena aku tidak ingin membesarkan anak orang lain. Aku ingin dari darah dagingku sendiri.”
Claire menelan ludah, “A-apa istrimu tahu?”
“Tidak, aku melakukannya tanpa sepengetahuannya,” ucap Nathan. “Sejak awal memang pernikahanku diatur oleh keluargaku dan untuk bisnis.”
Nathan kembali duduk di sofa lalu membuka map yang berada di meja dan menyodorkan ke Claire.
“Ini kontraknya, kamu bisa menandatanganinya sekarang. Kamu juga akan tinggal di apartemen yang sudah aku siapkan. Kamu juga akan menjalani pemeriksaan rutin dari dokter yang sudah aku pilihkan. Selama berhubungan denganku maka jangan coba-coba dekat dengan pria lain. Setelah anak lahir kamu akan mendapatkan kompensasi tambahan dan bebas pergi.”
Claire membaca dengan seksama dan tidak ingin melewatkan hal sekecil apa pun. Bahkan nominal uang yang dituliskan di kertas itu cukup menyelamatkan ayahnya, bahkan lebih.
“Bagaimana jika aku tidak bisa hamil?”tanyannya pelan.
“Aku tidak memilih dokter sembarangan, dan aku yakin jika kamu bisa melahirkan anak untukku. Aku juga menyuruh dokter untuk memastikan semuanya dengan baik, aku juga akan melakukan bagian yang diperlukan.”
Wajah Claire memerah memahami maksud tersirat dari kalimat itu.
“Jadi... kita akan,” Claire tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
“Ya,” jawab Nathan dengan begitu tenang. “Tenang saja aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu sampai kamu siap. Tapi, pastikan satu hal Claire, jika kamu sudah putuskan ini maka kamu tidak bisa pergi.”
Hening, Claire kembali menatap kertas di hadapannya, dia bisa saja berdiri dan keluar dari ruangan ini. Kembali menjadi gadis yang bekerja sana-sini untuk membiayai pengobatan ayahnya dan mungkin saja tidak bisa menyelamatkan ayahnya.
Tangan Claire bergerak mengambil pulpen yang disodorkan oleh Nathan. Claire menandatangani kontrak itu.
Di hari yang sama, Claire di bawa ke apartemen mewah di Fifth Avenue. Di sana juga sudah ada wanita muda yang menyambutnya bernama Riley, “Saya akan menjadi asisten nona selama nona tinggal di sini. Tugas saya memastikan kebutuhan nona terpenuhi dan saya juga akan menemani nona kemana pun nona pergi kecuali saat nona bersama dengan tuan, Nathan.”
Claire tidak bicara banyak, dia hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam apartemen. Dimana apartemen itu sangat luas lengkap dengan isinya dan bersih jauh dari tempat yang selama ini dia tinggali bersama dengan ayahnya. Sofa mahal dan dapur minimalis yang bersih dan tertata rapi, balkon luas dengan pemandangan Central Park.
“Semua pakaian, nona yang dibelikan oleh tuan akan dikirim sore ini. Dokter juga akan datang tiga kali seminggu untuk pemeriksaan awal.”
Claire mengangguk pelan, kepalanya pusing, semuanya terjadi begitu cepat.
Malam ini dia berdiri di depan cermin besar di kamar yang dia tempati. Gaun tidur sutra menempel indah di tubuhnya, dia nyaris tidak mengenali dirinya sendiri di depan cermin, dia terlihat cantik, anggun, namun kosong.
Ponselnya tiba-tiba bergetar, pesan singkat dari nomor tidak dikenal.
“Ini aku, Nathan. Aku ingin bertemu besok dan aku ingin kamu menyiapkan dirimu.”
Claire menatap pesan itu lama. Lalu membalasnya.
“Baik.”
Claire memeluk dirinya sendiri, membiarkan air matanya keluar diam-diam. Langkah awal sudah dia ambil, tawaran iblis sudah dia terima dan dia sudah tidak bisa keluar. Claire harus menerima resikonya, dia lakukan demi ayah tercintanya.
“Maafkan, Claire. Ayah pasti akan kecewa pada Claire jika tahu ini,” gumamnya dengan sesenggukan.
Bagaimana juga ini adalah pilihan yang terbaik dari pada dia harus melihat ayahnya yang terus berada di ranjang rumah sakit terlalu lama dan entah sampai kapan hingga sang ayah tidak sanggup lagi menahan rasa sakitnya yang pada akhirnya akan meninggalkan Claire selamanya. Claire tidak ingin itu semua terjadi, Claire masih menginginkan sang ayah selalu berada di sampingnya.
Terlalu lama menangis di depan kaca akhirnya Claire berdiri dari duduknya. Claire merebahkan dirinya di ranjang yang berukuran besar dan empuk. Apa yang Claire terima jauh dari kata yang dimiliki Claire sebelumnya.
“Ayah. Claire berharap ayah sembuh,” ucapnya pelan dan ada senyuman tipis di bibirnya.
Claire menghela napas panjang, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan semuanya. Namun, apa ini kenyataannya dia masih takut dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Bagaimana jika dia tidak bisa memberikan anak pada Nathan? Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya, dia akan bekerja seperti semula.
Claire menggelengkan kepalanya, pasti dia bisa melakukannya dan melahirkan anak untuk Nathan. Dia adalah wanita sehat dan dia juga tidak memiliki penyakit, pasti semuanya akan baik-baik saja.
Claire akhirnya tertidur. Lelah, tidak hanya karena tubuhnya, tapi karena pikirannya tidak berhenti berputar. Ditambah jika Nathan menginginkannya besok saat mereka bertemu, tentu saja Claire belum siap, dia takut apa lagi melakukan hal itu untuk pertama kalinya.