“Kamu tidur di bawah,” ucap Dimas yang baru datang dengan seenaknya.
Anggun menoleh ke sumber suara, Dimas menutup pintu kamar tanpa menguncinya. “Enak saja. Ini kamarku. Kau yang harus tidur di bawah. Aku punya selimut bedcover di lemari,” jawabnya sembari berjalan menuju ke arah lemari baju dan membukanya. Anggun mengambil dua selimut bedcover yang ditaruh dalam plastik besar dengan resleting pembuka di tengahnya.
Ia mengeluarkan selimut bedcover tersebut, menggelarnya menumpuk di atas lantai. “Kamu tidur di sini,” ucapnya sekali lagi.
Tidak banyak protes, Dimas menurut. Ia segera merebahkan tubuhnya di atas tumpukan bedcover yang lumayan nyaman untuk dijadikan kasur darurat.
Anggun tidur di atas ranjang sembari memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Dimas. Ia melihat ke arah bawah ranjang. “Tadi aku mendengar perbincangan mu dengan Mamiku.”
“Hm ... Lalu?” tanyanya berbalik sembari acuh tak acuh.
“Apa rencana mu selanjutnya?” tanya Anggun ingin tahu.
“Soal apa?” Dimas terlihat tampak tidak tahu apa inti dari pembicaraan mereka.
Anggun mendesah kesal. “Bukannya Mami menginginkan untuk keluargamu datang ke sini? Memperkenalkan diri?”
“Hm ....”
Hening.
Anggun heran kenapa Dimas bisa sesantai ini, hanya menjawab ‘Hm ....’
“Hei Dimas, aku tanya apa rencanamu selanjutnya? Apa kita harus menyewa orang untuk berperan menjadi orang tua, kakakmu dan saudaramu? Mencari orang yang mau berpura-pura menjadi penghulu saja aku belum menemukannya.”
Dimas mengubah posisi tidurnya. Ia memunggungi Anggun. “Hal itu nanti saja kita pikirkan,” jawabnya sembari terpejam.
“Hah, nanti saja bagaimana? Santai benar kamu ini ... Mamiku jelas-jelas bilang jika ingin bertemu dengan keluargamu besok lusa.”
“Masih ada waktu untuk memikirkan segalanya. Tenang saja. Kenapa kamu berisik sekali,” gerutu Dimas. “Sudah malam waktunya tidur.”
Anggun memanyunkan bibirnya. Keningnya berkerut dan bibirnya maju tiga senti. “Dasar kau ini, cuek sekali ...,” gerutunya sembari membalikkan badan menghadap tembok.
Sunyi.
Suasana malam terasa tenang. Keheningan membuat Anggun segera dilanda kantuk berat.
“Anggun ....” Tiba-tiba suara Dimas memanggil. Padahal Anggun merasa baru saja memejamkan matanya.
“Argh ... Ada apa sih?”
“Mobilku ada di luar. Dimasukan ke dalam garasi kan tidak cukup. Aman tidak?” tanya Dimas yang baru teringat akan sedan hitam miliknya yang terparkir di halaman depan.
“Hm ... Aman. Aman,” jawab Anggun sekenanya. Matanya tetap terpejam dan kemudian kembali tidur lagi.
“Ah dasar kamu ini ...!” seru Dimas lirih. Ia melirik ke arah jam dinding yang berbentuk kotak warna-warni. Waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Tadi jelas-jelas telinganya mendengar suara gerakan pintu pagar yang terbuka pelan.
Dimas memutuskan untuk mengecek ke bawah. Karena saat melihat dari jendela kamar, tidak terlihat siapa pun. Suasana di luar sama sunyinya seperti di dalam kamar.
Sebelum keluar kamar, ia mengambil alat pemukul kasti yang tersandar di dinding antara pojokan lemari pakaian. Ia menggenggam pemukul kasti yang terbuat dari kayu itu dengan mantap. Selama ini firasat hatinya tidak pernah berbohong, pasti ada sesuatu di luar sana. Mungkin orang yang berniat jahat untuk berniat masuk ke dalam rumah diam-diam.
Perlahan tapi pasti Dimas membuka pintu kamar. Berusaha sebisanya tidak menimbulkan suara. Derap kakinya melangkah perlahan menuruni anak-anak tangga dan kemudian langsung menuju ke arah luar rumah.
“Kreeek ....” Pintu rumah terbuka pelan. Hembusan angin malam segera menyapa, dingin. Wajah Dimas terasa ditampar oleh udara menggigil. Sepasang mata tajamnya mengamati ke arah depan. Melihat ke kiri dan ke kanan dari celah pintu yang terbuka sedikit.
Sunyi. Sama seperti ketika ia melihat dari lantai atas. Dan tidak ada tanda-tanda orang jahat yang telah masuk ke dalam halaman rumah. Mungkin suara pagar yang terbuka tadi hanya karena hembusan angin kencang saja, pikirnya. Lalu memutuskan untuk mengunci pagar yang terbuka tersebut.
Dimas membuka pintu rumah lebih lebar dan berjalan menuju ke arah depan. Namun belum sampai ia menutup pagar, suara langkah berisik kaki menginjak dedaunan langsung terdengar.
Ia menoleh ke sumber suara. Pandangannya tertutup oleh mobilnya sendiri. Ia sedikit berjinjit untuk melihat apa ada orang dibaliknya dengan raut muka penuh waspada.
Tidak terlihat jelas apakah ada orang lain yang bersembunyi di balik mobil tersebut.
Karena tidak bisa melihat dengan jelas, Dimas mulai berjongkok untuk melihat apa ada orang lain di balik mobilnya. Dan benar saja, ketika ia melongok ke kolong mobil, netranya menemukan sepasang kaki terbalut sepatu kets abu-abu. Pria tersebut hanya berdiam bersembunyi di sana.
Melihat semua itu Dimas tidak bisa tinggal diam. Ia segera berjalan memutar dan akan memukul kepala calon pencuri dengan pemukul kasti yang dipegangnya.
Namun sayangnya gerakan langkah kaki Dimas tertangkap telinga orang tidak dikenal yang mengenakan topi dan juga masker. Orang asing itu segera berlari menuju pagar dan kabur.
“Hei!” teriaknya sembari mengejar ke luar.
Orang tidak dikenal itu lari tunggang langgang ketakutan. Larinya begitu cepat dan kemudian Dimas kehilangan jejaknya ketika dia melompat ke dalam halaman rumah orang lain. Ia tidak ingin ikut mendapatkan masalah karena memasuki rumah orang lain tanpa izin.
Walau masih penasaran dengan pria bertopi hitam dan mengenakan masker yang tadi masuk ke dalam halaman rumah, ia memutuskan untuk melepaskannya dan kembali pulang saja. “Postur tubuh orang tadi tidak asing. Seperti seseorang yang aku kenal,” gumannya lirih. Namun karena kegelapan malam dan lampu yang temaram membuat Dimas tidak begitu yakin dengan dugaannya itu.
***
“Hei!” Suara Anggun nyaring berdenging di telinganya Dimas. Sembari berkacak pinggang dan membungkukkan punggungnya, Anggun kembali bersuara keras. “Wah, wah kacau, ternyata kamu lebih parah dari aku ya! Bangunnya siang sekali.”
Dimas sedikit membuka matanya. Kelopak matanya terasa lengket bagai dilem. “Ada apa sih?” sahutnya sembari merengut dan kemudian tengkurap.
“Ada apa? Ada apa? Ini sudah siang. Sudah jam sembilan. Sejak tadi aku bangunkan untuk sarapan kamu enggak bangun-bangun! Sampai Mamiku yang bangunin, kamu juga tetap tidur kek kebo!”
Dimas segera tersadar setelah Anggun menjelaskan panjang lebar. “Tadi Rose ke mari? Membangunkan aku?”
Anggun mengangguk mantap. “Hm!”
“Astaga!” sahut Dimas panik. Ia segera terduduk dengan raut muka pucat. “Bagaimana tadi tampilan ku saat tidur?” tanyanya dengan tatapan sedih. “Apakah buruk? Aku mengorok tidak?”
“Kamu mau lihat bagaimana mukamu saat tidur tadi?”
“Apa kamu merekamnya?” Dimas sudah mulai tidak enak hati, pasti Anggun mengerjainya.
Sudut bibir Anggun tertarik ke atas. Ia tersenyum puas. “Tentu saja. Langsung viral hanya dalam dua puluh menit!” jawabnya sembari tertawa dan memperlihatkan rekaman Dimas yang tertidur mengorok dengan mulut terbuka lebar yang sudah diunggahnya di sosial media.
Sepasang mata Dimas membulat. “Anggun!” pekiknya marah. Ia menarik tangan Anggun dengan kasar. Ponsel yang dipegang Anggun jatuh.
“Eh, eh mau apa kamu!” Anggun panik saat Dimas mulai menarik dan mengapitnya seperti capit kepiting. Ia meronta sebisanya. Namun Dimas tidak membiarkan Anggun terlepas. Hingga posisi mereka saling menindih. Anggun di bawah dan Dimas berada di atas. Kedua tangan Anggun di genggamnya erat.
“Awas ya, liat aja akan aku balas!” seru Dimas emosi.
Anggun tidak bisa bergerak dengan posisi dicapit demikian. “Aku cuma bercanda. Kamu sensi bener. Aku janji, aku akan menghapusnya. Lepasin ....”
“Rose pasti akan merasa jijik padaku,” ucap Dimas sembari melepaskan tangannya menekan tubuh Anggun. Mereka tidak sadar posisi mereka terlihat sangat intim.
“Tadi sih Mami tertawa. Mami sama sekali enggak merasa jijik sama kamu kok ... Tenang aja,” kata Anggun lirih.
Raut muka Dimas berubah menjadi datar. “Apa ...?” Terlihat ekspresi kecewa dan malu. “Tidaaak ....”
Anggun mendorong tubuh Dimas ke samping ketika kedua tangannya tidak lagi dicegkeram.
Dimas menggeram kesal, “Ini semua gara-gara kamu! Aku terlihat konyol di mata Rose, bidadariku!”
Anggun segera berdiri. Ia sadar Dimas marah besar padanya. “Ya, memang kamu konyol kok!” serunya sembari berlari kencang ke luar kamar. Dimas mengejar dan akan menangkapnya. Setidaknya dia akan membalas perbuatan Anggun dengan menggelitiknya sampai mati karena tertawa.
“Anggun!”
“Aaaa!” Anggun berteriak bercampur gelak tawa. Ia kabur, berlari menuruni anak-anak tangga. Hingga langkah kakinya terhenti mendadak karena ada seseorang di depannya.
“Seru sekali hubungan kalian,” ucap Daniel.
Anggun terkesiap, pagi-pagi begini Daniel sudah bertandang ke rumahnya. “Hai, kapan kamu datang?” tanyanya sembari menatap lingkaran hitam di bawah mata Daniel. Sepertinya Daniel kurang tidur semalam, batinnya.
Dimas akan menangkap Anggun saat melihat gadis itu berdiri mematung di ujung anak tangga terkahir. Namun niatnya segera diurungkan karena ia melihat Daniel berdiri di depan Anggun. “Sedang apa kamu di sini Daniel?” tanyanya dengan nada dingin.
“Memenuhi janji. Apa kalian lupa jika kita akan ke kebun binatang? Rekreasi keluarga,” jawab Daniel sembari tersenyum simpul dan sepasang mata sedikit menyipit karena tarikan sudut bibirnya. “Di mana Rose?”
Anggun menaikkan kedua bahunya ke atas. “Mamiku ada di dapur, sedang menyiapkan bekal.”
“Rekreasi keluarga yang menyenangkan,” ucap Dimas jujur dari dalam hatinya. Sudah puluhan tahun ia tidak merasakan rekreasi keluarga dengan membawa bekal makanan. Rose benar-benar mirip mendiang ibunya.
“Hm ... Memang rekreasi yang amat menyenangkan,” sahut Daniel sembari tersenyum pahit.
Netra Dimas menangkap luka gores panjang di tangan Daniel. Luka gores itu terlihat baru. Tiba-tiba ia teringat dengan orang tak dikenal yang mengenakan topi hitam dan masker yang menyelinap masuk ke dalam halaman rumah.
“Daniel, dari mana kamu mendapatkan luka itu?” tanya Dimas sembari menunjuk ke arah lengan Daniel.
Daniel memandangi tangannya. “Oh ini ... Luka itu aku ....”
“Astaga!” seru Anggun. “Kamu mengalami luka? Sini aku obati.” Ia menarik Daniel dan memintanya duduk tenang di sofa sementara dirinya mengambil kotak p3k di lemari.
“Tidak apa-apa Anggun. Ini hanya luka gores biasa. Luka ini sudah aku obati semalam,” jawab Daniel dan segera mengatupkan bibirnya.
“Semalam?” Dimas menyela. “Memang semalam kamu ada di mana?” Netranya membulat bak telur ketika bertanya. Apa orang tidak dikenal yang menyelinap malam tadi adalah Daniel? tanyanya di dalam hati, ‘untuk apa Daniel menyelinap ke rumah ini malam-malam? Mencurigakan ....’
Daniel menatap Dimas. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan adik tirinya itu.
“Jawab ... Dari mana kamu mendapatkan luka itu? Apa karena tergores pagar rumah?” tanya Dimas mendesak.