“Thomas, apa yang akan kita lakukan selanjutnya kepada penyihir ini?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh sang pemuda di sana, membuat Thomas pun berucap,
”Arak penyihir ini untuk keliling desa, dan bakar dia di tengah!” sebuah perintah yang di lontarkan oleh Thomas pada saat itu pun tentunya membuat Ingrid terkejut dan segera berteriak untuk menghentikan mereka di sana.
“Tidak! Kalian tdak boleh melakukannya, dia bukan seorang penyihir!!” itu lah teriakan yang di lontarkan oleh Ingird sekuat yang ia bisa, yang tentu saja hal itu percuma.
Para pemuda yang mendengar perintah dari Thomas pun segera pergi untuk mencari sesuatu dan separuh lagi tetap memegangi Emely agar tidak kabur sama sekali, sedangkan pandangan Ingrid kini tertuju pada Emely yang berada di masa kini, yang kala itu menangis dan meraung-raung ketika merasakan panas di mulutnya, dan tentu saja itu membuat Ingrid merasa kasihan sekaligus merasa ngeri.
“Emely … Emely … kau harus memanggil 911 segera, panggil lah mereka!” ucap Ingrid berusaha memberikan arahan kepada Emely, namun nampaknya Emely tidak mendengar ucapan itu, yang membuat Ingrid berlari untuk menghampiri ke arah telepon rumah yang ada di sana, dan berusaha untuk meraih ponselnya, namun ia tidak bisa melakukan hal itu.
“Bakar !!! Bakar!! bakar!!”
“!!”
Ingrid terhentak, ketika dirinya terkejut mendengar suara yang serempak memerintahkan untuk membakar sesuatu, yang tentu saja membuat Ingrid kini menolehkan dan memusatkan penglihatannya ke arah kanan, yang ternyata kini Emely pada abad 14 memang benar-benar di arak keliling desa tersebut, dan tidak hanya itu, setiap langkah mereka semua warga mengiringinya perintah ‘Bakar!’ yang tentu saja sangat mengejutkan Ingrid saat itu.
“NO!, EMELY!!! EMELY!!!” sebuah suara yang di lontarkan oleh seorang lelaki muda di sana pun membuat pandangan Ingrid kini teralihkan melihat lelaki tinggi dan tampan dengan pakaian yang berbeda dari pakaian orang-orang di sana, lelaki itu mengenakan baju yang nyaris sama sepertinya (style pada zaman sekarang) yang tentu saja mendatangkan sebuah tanda tanya besar di dalam benar Ingrid pada saat itu.
“Bakar dia!! bakar!!” teriakan itu sangat lah serak dan menggema, dari kedua mata para warga yang di sorotkan ketika menatap Emely pun terlihat sangat-sangat tajam, seolah menggambarkan sebuah amarah yang sangat-sangat besar malam itu kepada Emely.
“No, Emely!!” itu lah teriakan dari lelaki tersebut, yang detik kemudian membuat Emely kini menoleh untuk menatap lelaki yang baru saja berteriak di sana, namun kala itu ia benar-benar tidak bisa melakukan apa pun, baik Emely, Ingrid maupun lelaki itu.
“Siapkan kayu-kayunya!” perintah Thomas, dan membuat Ingrid kembali terkejut dan kembali meneriaki lelaki tersebut.
Para pemuda itu kini berjalan dan meletakkan tubuh dari Emely yang terikat di tengah-tengah tumpukkan kayu, yang tentu saja membuat Ingrid merasa jika mereka yang ada di sana benar-benar akan membakarnya.
“Tidak, hentikan!!!” teriak Ingrid berusaha sekuat yang ia bisa, namun pada kenyataanya ia pun tidak bisa didengar.
“No, wait!! apa yang kalian lakukan?! dia nenekku!! grandma!! grandma!!”
Panggil lelaki itu, dan membuat Ingrid menyadari jika lelaki itu pasti mengenali Emely.
Ketika semuanya sudah disiapkan dan minyak tanah sudah membasahi kayu-kayu di sana, Thomas sang lelaki gagah pun kini berjalan membawa sebuah obor yang menyala, yang tentu saja membuat Ingrid merasa tegang skarenanya, karena pada kenyataannya lelaki itu benar-benar menyulut miyak tanah itu dengan api, yang tentu saja membuat kayu tersebut terbakar dan Emely menjerit histeris kepasanan.
“AAAAAA!!!”
“EAAAKHH!!!”
“HH!! hh … hhh !!” deruan napas Ingrid kembali menderu-deru, dirinya tidak hanya melihat Emely pada abad 14 yang dibakar hidup-hidup saja, namun Emely pada zaman yang lain pun ia lihat berteriak kepanasan setelah sebuah cahaya api lainnya muncul dari dalam tubuh Emely dan membakarnya perlahan-lahan.
“No!!!!” teriak Ingrid,
“No, Grandma!!” teriak lelaki itu bersamaan dengan teriakan dari Emely yang ada di penglihatan lainnya yang kini berteriak.
“Joshu … Josh … JOSHUAAAA!!!!”
Teriakan Emely begitu miris seolah begitu kesakitan, yang kemudian detik kemudian pun Ingrid terbangun dari tidurnya setelah tubuh dan otaknya merasakan jika mimpi itu terlalu buruk untuk mental Ingrid, yang membuatnya kini bernapas menderu-deru dengan tubuh yang sangat basah, karena keringat yang dikeluarkan oleh tubuhnya pada saat itu.
“Ingrid?!” sebuah panggilan pun membuat Ingrid terlonjak kaget dan menoleh menatap Tiffany yang terbangun dari tidurnya pada saat itu, yang membuat Ingrid pun menghela napasnya dengan lega setelah menyadari bahwa yang memanggilnya pada saat itu adalah sahabat yang menemaninya malam itu.
“Kau baik-baik saja?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Tiffany pun membuat Ingrid kini menganggukkan kepalanya meski deruan dari napas Ingrid masih terdengar tersengal-sengal, yang tentu saja membuat Tiffany sang sahabat pun meraih segelas air untuk memberikannya kepada Ingrid.
“Minum lah!” itu lah yang di ucapkan oleh Tiffany, yang pada akhirnya menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu.
“Kau bermimpi buruk?” tanya Tiffany kepada Ingrid, namun Ingrid sama sekali tidak menjawabnya, yang pada akhirnya membuat Tiffany pun menganggukkan kepalanya mengerti, mungkin Ingrid tidak ingin membahas hal itu.
Namun, berbeda dari pemikiran Tiffany, Ingrid terdiam karena ia tidak bisa memutuskan apakah itu merupakan mimpi yang buruk ataukah sebuah memori dari sebuah film yang sebelumnya pernah ia tonton, namun ia tidak dapat memutuskan hal itu. Yang pada akhirnya ia pun tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Tiffany.
Pandangannya kini menoleh menatap ke arah jam dinding yang kala itu menunjukkan pukul tiga lebih tujuh pagi, dan membuat Ingrid kembali menghembuskan napasnya cukup panjang.
“Apakah kau melihat ku mengigau, Tiffany?” tanya Ingrid, dan membuat Tiffany menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu,
“Tidak, aku tidak mendengar igauan darimu, Ingrid … ada apa?” tanya Tiffany, yang membuat Ingrid menggelengkan kepalanya menjawab hal itu, namun sebenarnya ia bertanya karena tenggorokkannya terasa amat menyakitkan, seolah ia berteriak dengan kencang secara terus menerus.
…
Aku tidak tahu apa yang aku lihat pada saat itu, aku merasa jika itu teramat nyata untukku. Meski, pada kenyataannya aku menyadari jika aku baru saja terbangun dari mimpiku!
Mimpi buruk itu sangat-sangat buruk dan bahkan lebih buruk dari mimpiku yang sebelumnya, yang tentu saja terus ku ingat hingga bahkan aku masih bisa dengan jelas melihat raut wajah ketakutan dari Emely, dan wajah kekhawatiran dari lelaki yang kala itu dipanggil oleh Emely sebagai Joshua. Yang membuatku merasa jika mereka berdua merupakan seseorang yang benar-benar nyata, namun aku tidak memiliki keberanian untuk mencari keduanya, karena aku takut jika ternyata mimpi ku itu bukanlah sebuah mimpi namun sebuah pesan yang tersembunyi. Dan permintaan pertolongan yang mungkin tidak bisa aku lakukan.
-Ingrid-
to be continue.