CHAPTER 51: Pecundang

906 Words

            “BRENGSEEEK!!!!” teriak Adi keras-keras sambil menghantam dinding dengan tinjunya. Dinding itu bergetar saking kerasnya, garis-garis tipis keretakan muncul di dinding bagaikan pembuluh nadi. Beberapa serpihan tembok berjatuhan, meninggalkan bekas sekepalan tangan. Untunglah tidak jebol. Tapi, hal itu tidak terpikirkan olehnya saat ini. Mungkin lebih baik dinding itu hancur berantakan, hingga membuat perasaannya lebih ringan. Adi berlutut dan jatuh bersimpuh di atas lantai. Ia menangis terisak-isak, makin lama makin keras.             “Kenapa? Kenapaaaaa???” jeritnya berulang-ulang dalam tangis.             Semua rasa percaya dirinya lenyap. Harga dirinya hancur seketika. Adi benar-benar tidak menyangka akan begini jadinya. Ia sama sekali tidak mengharapkan kegagalan. Ia sama

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD