Di teras, Adi duduk dengan wajah gelisah. “Mau ngomong apa?” tanya Sam sambil duduk lebih serius. Ia menaruh piringnya di atas meja, dan menatap Adi dengan mimik serius. “Gue, mau minta maaf soal tembok,” sahut Adi memulai pembicaraan dengan gelisah. “Nggak usah dipikirin. To the point aja. Lo kenapa?” tanya Sam. “Hari ini, ada surat dari penerbit...” kata Adi, lalu diam sebentar, berusaha mengeluarkan kata-kata yang tidak ingin didengarnya saat ini. “Naskah gue... ditolak...” katanya pahit. “Terus...” tanya Sam penasaran. “Terus... karena udah gagal... mendingan gue balik aja ke rumah... percuma kan...” kata Adi berusaha tertawa riang. Namun tawanya terdengar menyakitkan sekali. “Kayakn

