Hari Minggu. Sam masih belum bangun, padahal sudah hampir jam dua belas siang. Biasanya ia bangun sekitar jam sembilan atau sepuluh pagi. Adi tidak pergi ke mana-mana. Hatinya masih gelisah. Pagi-pagi sekali ia sudah mandi dan membereskan rumah, berusaha menyibukkan diri. Namun, pikirannya sama sekali tidak bisa dialihkan. Fifi tidak pulang. Sejak kemarin, ia pergi menginap di rumah saudaranya. Ting tong... Bel rumah berbunyi. Adi bergegas membukakan pintu gerbang. Belakangan ini banyak orang yang datang untuk melihat kamar kost. Sayang, belum ada yang tertarik untuk mengisi kamar ke-empat. Sejauh ini, Adi melayani mereka dengan sopan, mewakili Sam yang nyaris tidak ada di rumah. Wajah Adi langsung mengeras begitu menyadari siapa yang dat

