Chapter 37: Lega

969 Words
            Sam dan Adi menggotong tubuh sopir malang itu dengan cekatan. Begitu selesai, sisa perawatan langsung diambil alih oleh Fifi, sementara Irma dan Yeni sibuk menenangkan anak-anak berikut pengasuhnya yang mulai gelisah dan tidak sabaran.             Sudah lima belas menit namun sopir bus tidak menunjukkan ada tanda-tanda kesadaran.             “Di, elo bisa nyetir bus nggak?” tanya Sam.             “Gila lo. Mana pernah? Elo?” tanya Adi balik.             “Enggak. Udah deh, elo coba aja. Paling-paling nggak jauh beda sama mobil,” bujuk Sam.             “Kenapa enggak elo aja yang nyoba?” tanya Adi balik.             “Enggak, ah. Nggak berani. Jalanannya nggak rata kayak gini. Mana banyak binatang. Bisa-bisa ketabrak,” kata Sam.             “Yee, elo sendiri nggak berani, berani-beraninya nyuruh orang. Gue juga takut,” balas Adi sewot.             “Reseh lo,” kata Sam menjulurkan lidah.             “Elo yang reseh,” balas Adi jengkel.             “Terus sekarang gimana? Masa mau nunggu seharian?” tanya Sam lagi.             “Ya, udah. Gue coba, deh. Cerewet banget, sih, lo,” kata Adi jengkel. Ia duduk di bangku kemudi dan menyalakan mesin. Bus terbatuk perlahan. Adi menurunkan rem tangan dan mulai menginjak gas.             “Stooop!!!!” jerit Sam tiba-tiba.             Adi kaget, dan langsung mengerem mendadak. Bus sekali lagi terlonjak dan mati mesin.             “Mau lo apa sih?” bentak Adi habis kesabaran.             Sam menunjuk-nunjuk ke depan bus. “Ada singa tiduran di depan bus. Hampir aja lo nabrak dia,” kata Sam sambil menempelkan wajahnya ke kaca depan.             “Mana?” tanya Adi beringsut keluar dari bangku kemudi, lalu melongok ke kaca depan ke arah bawah.             Seekor singa jantan dengan seenaknya duduk dan tidur di depan bus persis.             “Wah, bener. Gila! Mepet banget. Harus mundur...” kata Adi.             “Lo, yakin Di? Kita di turunan lho. Kalo lo feelingnya ga bagus bisa-bisa kita maju bukannya mundur...” kata Sam ragu-ragu.             “Terus kita harus gimana? Terbang?” bentak Adi sewot.             Sementara Adi dan Sam lengah karena sibuk memperhatikan singa di depan bus, diam-diam Clark, si bocah nakal, menyelinap ke bangku kemudi dan menekan klakson bus sekencang-kencangnya. Teeeeeeet...             “CLARK!!!” jerit Adi dan Sam bersamaan, sambil menarik bocah nakal itu menjauh.             “Gimana? Singanya bangun nggak?” tanya Adi ngeri.             Sam melirik pelan-pelan ke depan bus.             “Nggak. Masih tidur,” kata Sam lega.             Adi melirik ke balik kaca untuk memastikan.             Teeeeeeeet.... tiba-tiba klakson bus sekali lagi berbunyi nyaring.             “Siapa lagi, sih?” bentak Adi dan Sam bersamaan.             Fifi mengangkat tangannya dengan muka bersalah.             “Fi, jangan main-main deh! Ntar kalo singanya bangun gimana?” kata Adi kesal.             “Tapi... tapi... kata papan yang di belakang sana, kalau ada masalah tekan klakson tiga kali,” kata Fifi takut-takut, sambil menunjuk ke arah belakang.             Adi dan Sam bergegas menuju ke bagian belakang bus. Di samping kiri ada tulisan di papan berwarna hijau.             JIKA ADA MASALAH TEKAN KLAKSON PANJANG TIGA KALI             “Kalo begitu kita tinggal tekan klakson sekali lagi, dong,” kata Sam penuh harap.             “Tapi, singanya marah nggak?” tanya Adi.             “Coba aja sekali lagi. Tanggung,” kata Sam.             Adi mengangguk. “Fi, pencet sekali lagi klaksonnya!!” serunya.             Fifi memencet klakson panjang sekali lagi. Bunyinya membahana di taman Safari. Sepuluh menit kemudian datang mobil jip loreng putih hijau untuk memberikan bantuan.             “Akhirnya....” kata Adi menarik napas lega.             Seorang petugas Taman Safari masuk ke dalam bus dan mengemudikannya melalui jalan pintas. Mereka sampai di tempat parkir, dan sopir bus buru-buru dibawa ke ruang kesehatan karyawan. Sementara itu, setelah melalui hari yang menegangkan, rombongan TK Apple duduk menonton pertunjukan burung sambil makan siang.             Fifi membagikan bekal yang dibuatnya kepada Sam dan Adi, lalu pergi untuk mengawasi anak-anak.             “Kapok gue,” kata Sam sambil mengunyah makanannya cepat-cepat.             “Iya, baru kali ini gue ngeri ke Taman Safari,” kata Adi.             Anita yang duduk tidak jauh dari mereka datang menghampiri sambil membawa sebuah apel yang sudah dibelah dua.             “Miss Sam, Mr. Adi, please take my apples. Just for you,” kata Anita malu-malu dengan pipi memerah.             Sam menerimanya dengan tersenyum cerah. “Thanks, sweetheart. I love apple,” jawab Sam.             “Thank you, dear,” sahut Adi sambil mengelus-elus kepala Anita.             Bocah perempuan itu senang sekali. Sambil tersenyum girang, ia kembali ke tempat duduknya sambil berlari-lari kecil.             Sam mengunyah apel itu dengan senang. “Ternyata nggak buruk-buruk amat,” gumamnya.             Setelah puas dengan beberapa pertunjukkan, anak-anak TK Apple digiring untuk melihat anak hewan di mini zoo. Lagi-lagi Sam dan Adi harus membuka mata lebar-lebar supaya tidak ada anak yang tertinggal atau mencoba-coba masuk ke kandang hewan. Setelah itu mereka sempat naik kereta api mini, komidi putar, dan tentu saja sky lift. Hari sudah agak sore ketika rombongan kembali berbaris menaiki bus. Pak sopir sudah sadar dan diberi pertolongan sementara. Meskipun benjol di kepalanya belum kempes, setidaknya sekarang ia sudah bisa menyetir kembali sambil menggerutu tidak ada habis-habisnya. Tidak seorang pun yang menaruh barang di dekat kepala Pak Sopir. Siapa yang berani? Perlahan-lahan bus kembali menuju Jakarta. Malam datang di tengah perjalanan. Anak-anak TK Apple sudah sangat lelah. Satu persatu dari mereka mulai terlelap. Bahkan beberapa pengasuh pun ikut tertidur. Adi dan Sam seperti biasa bertugas di bagian belakang bus. Mereka terduduk kelelahan, saling bersandar satu sama lain. “Ngantuk?” tanya Adi. Sam mengangguk. “Tidur aja duluan. Nanti gue bangunin. Kita gantian,” kata Adi. Sam mengangguk. Matanya membuka menutup. “Di... thanks, ya. Sori, gue ngebentak-bentak elo terus,” kata Sam lirih. Matanya semakin berat... “Gue juga sori udah ngebentak lo juga. Mulai sekarang kita baikan ya,” balas Adi lembut. “Di.... ngg....” Sam tidak meneruskan kata-katanya. Ia sudah jatuh tertidur di bahu Adi yang bidang. Adi tersenyum memandang Sam. Entah karena pengaruh sinar bulan atau apa, tapi wajah Sam ketika tidur terlihat sangat manis di matanya. Tergerak oleh dorongan bawah sadarnya, Adi mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Sam dengan lembut. Samar-samar Sam bisa merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menyentuh permukaan bibirnya. Ia tidak tahu apa, tapi yang jelas membuatnya merasa nyaman. Cewek tomboy itu tersenyum dalam tidurnya, tanpa menyadari ada seseorang yang telah dibuatnya jatuh cinta... ********* Bantu MASUKIN KE LIBRARY untuk 2 karya Author berjudul MY SEXY IT GUY (ENGLISH) dan ROMANCE OF LIGHT & NIGHT: ACROSS TWO WORLDS. Author butuh minimal 500 koleksi untuk lomba. Mohon dibantu ya. Makasih. MY SEXY IT GUY Indo sudah ada yaaa....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD