Hari Pertama Masuk Kerja

812 Words
Cahaya mentari telah menyinari bumi menggantikan sinar rembulan yang meneduhkan. Kini kedua anak manusia itu sudah bersiap akan kembali melanjutkan perjalanan menuju ibu kota. "Kita siap pulang ai?" Sandy menatapku penuh arti. Ia menoleh sambil mencengkeram kemudi. "Siap," jawabku sambil membalas senyuman Sandy. Entah kenapa aku jadi terhipnotis oleh senyuman Sandy. Padahal kemarin aku selalu menunduk dan ingin menghindari senyuman manisnya. Namun setelah merasakan betapa romantisnya perlakuan Sandy terhadapku. Aku jadi ketagihan ingin selalu berada di sampingnya dan ingin selalu menatap senyumannya. "Lest go." Ucap Sandy sambil menghidupkan mesin mobilnya dan mulai menginjak pedal gas di kakinya sehingga membuat mobil yang kami tumpangi perlahan bergerak maju. Di dalam perjalanan aku banyak diam seperti biasa. Entah apa yang sedang aku pikirkan aku pun tidak paham tentang perasaan yang tengah aku rasakan. Aku melewati hari yang berbeda dengan Sandy. Aku juga mendapat perlakuan yang beda pula darinya. "Kenapa melamun ai?" tanya Sandy di sela-sela fokusnya mengemudi. Ia menoleh lalu mengusap bahuku menggunakan tangan kirinya. "Tidak. aku tidak melamun." Kilahku. Padahal sudah jelas-jelas aku melamun dam sedikit tersentak saat Sandy mengusap bahuku. Namun aku berusaha menetralkan nya. "Jangan bohong. Mikirin apa si?" tanya Sandy lagi. Dia itu orang nya pantang menyerah sebelum mendapat jawaban yang memuaskan pasti akan terus mencerca. "Tidak ada kok a." Jawabku sambil menoleh ke arah suami usil ku sambil berusaha menetralkan perasaanku yang entah apa yang membuatku menjadi grogi seperti ini. "Yakin kamu baik-baik saja?" tanya Sandy lagi sambil mengamati raut wajahku. "Yakin lah." Jawabku mantap. "Oke kalau kamu baik-baik saja. Oh ya, masih sakit tidak?" Sandy mengubah pertanyaan. Entah sakit apa yang ia tanyakan. Yang jelas aku berusaha sok polos. "Sakit? apanya?" aku menyerngitkan dahi. Pura-pura tidak tahu maksud pertanyaan Sandy. Padahal aku sangat paham dengan arah tujuan pertanyaannya. "Itu." Sandy melirik ke bawah sana. Dan benar saja dugaan ku itu. Aku langsung tertunduk malu tanpa menjawab pertanyaan Sandy. "Kenapa menunduk?" tanya Sandy di sertai kekehan nya. Aku yakin Sandy tahu kenapa aku menunduk. Aku hanya menggelengkan kepala. Aku tidak berani bersuara. Rasanya benar-benar malu. "Jangan malu ay, aku sudah melihat semuanya. Jadi tidak perlu malu lagi oke." Sandy menepikan mobilnya dan berhenti. Setelah itu ia mengangkat daguku menggunakan telunjuknya. Aku hanya tersenyum malu-malu meong. Karena benar apa yang di katakan oleh Sandy. Ia sudah melihat semuanya. Bahkan bagian yang sangat tersembunyi sekali pun. Ia juga sudah hampir menjebol gawang milik ku. Seandainya ia hanya mengedepankan hawa nafsu pasti sudah jebol. Namun Sandy tidak demikian orangnya. Dan itu yang membuat aku jatuh hati kepadanya. Aku sudah jatuh cinta kepada pria yang telah menikahi ku dua hari yang lalu. *** Dua minggu sudah berlalu. Dan waktu untuk berbulan madu sudah usai, kata mama. Hari ini Sandy akan mulai bekerja di kantor papa. Sedangkan aku akan ikut mama mengurus restorannya. "Al, kita berangkat agak siangan ya. Biarkan para lelaki pergi duluan." Ucap mama kepadaku saat aku sedang membereskan piring-piring kotor di atas meja makan. "Siap mama." Sahutku sambil memberi hormat layaknya sedang melaksana kan upacara bendera. Lalu aku melanjutkan aktivitas ku meletakan piring kotor di westafel. Selesai memberes kan piring yang kotor, aku segera menghampiri suami ku yang sudah siap berangkat kerja. "Aa sudah siap?" tanya ku sambil mendekat ke arah Sandy. Ia tersenyum kepada ku lalu menyerah kan dasi nya terhadap ku. "Tolong pasangin ai," ucap Sandy manja. "Harus aku gitu?" tanya ku. Aku meraih dasi tersebut lalu memasangkan nya di krah kemeja yang Sandy pakai. Aku tersenyum saat dasi sudah terpasang sempurna. "Nah gini kan romantis ay," Sandy tersenyum manis kepadaku lalu mencium keningku. Lagi-lagi aku tersenyum malu-malu meong saat di perlakukan manis seperti ini. "Aku berangkat dulu ya," Sandy ber pamitan. "Iya, aa hati-hati." Aku berjalan mengiringi langkah Sandy untuk mengantar nya hingga ke teras rumah. Sesampainya di halaman rumah, kedua lelaki anak dan ayah itu menaiki satu mobil yang sama untuk berangkat ke kantor. Sedangkan aku dan mama melambaikan tangan kepada mereka saat mobilnya mulai beranjak meninggalkan halaman rumah. "Ma, aku selesaikan cucian piringku dulu ya. Setelah itu aku akan bersiap." Pamitku kepada mama mertuaku saat kami memasuki rumah kembali. "Oke, mama tunggu." Jawab mama sambil berlalu meninggalkan ku di dapur. Seperginya mama aku segera mencuci semua piring-piring yang kotor lalu mengeringkan nya di rak piring yang terdapat di atas westafel. Setelah selesai aku kembali ke kamar untuk bersiap pergi ke restoran. "Berangkat sekarang ma?" tanya ku pada mama yang sudah duduk manis di ruang tamu saat aku menuruni anak tangga. "Iya, ayok." Mama menggandeng lenganku dan kami pun berjalan beriringan. Ah, rasanya seperti sebuah mimpi mempunyai mama mertua seperti mama Sandy. Sudah baik, ramah, perhatian serta penyayang. Beliau tidak pernah membeda-bedakan antara anak sendiri dan menantu. Bahkan mama dengan telaten mengajariku memasak dan hal-hal yang belum aku mengerti tentang tugas menjadi seorang istri. Tak pernah aku temukan wajah mengerikan seorang mama mertua selama aku tinggal bersama mereka. Papa dan mama sama-sama menyayangiku seperti menyayangi anak mereka sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD