Bab 17 Ingatan

1032 Words
Sudah 3 hari Yura tinggal di mansion milik Andra dan lelaki itu tidak pernah datang atau pun menunjukkan dirinya dan dari itulah Yura memutuskan untuk pulang kerumahnya. "Yakin mau pulang?nanti kalau penjahat itu datang lagi gimana?" Gerutu Andra tidak ingin Yura pulang kerumah karena dia takut kalau penculik itu datang dan membawa Yura pergi ketempat yang jauh. "Tenang aja, nanti aku tambah security-nya biar rumahku diperketat penjagaannya." Andra tidak tau harus buat apa untuk menghentikan kepulangan Yura, kalau pun dia memaksa yang dipikirnya dirinya bukan laki-laki yang baik dan Yura malah ilfel. Padahal kenyataannya tidak. "Oke, tapi kalau terjadi sesuatu kabarin aku secepatnya,ya?" Yura mengangguk dan membawa barangnya menuju mobilnya yang di bawa oleh Cana. "Cieeee." "Apaan sih." "Iya itu si Andra mulai menaruh hati sama kamu." Yura hanya tersenyum. "Dia itu cuman khawatir bukan berarti dia suka." Padahal dalam hati dia seneng banget di perhatikan sama Andra tapi dia sadarlah mana bisa dia gapai Andra apalagi saat melihat Jeana, dirinya iri karena gadis itu yang duluan deket apalagi menyukai lelaki itu. "Ya, tapikan....cinta." "Dih." "Udah ketara kok kamu masih suka." Yura menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya yang selalu mendukungnya dan selalu menjadi senderennya. Mereka berdua pun sampai ke rumah dan tentunya ketiga security membukakan gerbang lalu Yura pun turun. "Yura!" "Iya apa?" "Barangku ada yang kelupaan di Gallery Rose jadi aku mau kesana untuk mengambilnya, gak apa-apa kan aku pinjem mobilmu?" "Pakai aja, tapi inget jangan pulang larut malam." "Iya bos qu." Setelah itu Cana pun pergi mengendarai mobil dan menelpon seseorang barulah dia pergi ke Gallery Rose. Yura pun berjalan ke arah balkon melihat matahari terbenam dan tentunya hal yang Yura lakukan adalah melukis pemandangan senja saat ini karena melukis membuat dirinya lebih tenang dan semua masalahnya hilang begitu saja. Setelah melukis Yura pun memasak makan malam dan menunggu kedatangan Cana tapi sampai larut malam Cana tidak pulang dan ditelpon pun tidak diangkat. "Sebenarnya kamu kemana aja sih, na?." Yura gelisah dan memutuskan untuk pergi ke Gallery Rose untuk menemui Cana tapi nihil dia tidak menemukan siapa-siapa di sana kecuali security yang menjaga keamanan di sana. "Tapi tadi saya liat mbak Cana pergi bersama seorang lelaki dan saya gatau itu siapa." "Ciri-cirinya seperti apa pak?" "Tinggi dan tubuhnya kekar tentunya ganteng tapi masih gantengan saya, iyakan bu bos." "Iya pak iya bapak ganteng kok." Yura mah cuman iyain aja dan pamit untuk pulang. Dan saat pulang dia tidak menemukan Cana "Ck, ternyata dia masih belum kembali, Yura gatau lagi mau nyari Cana dimana. Yuru pun akhirnya tidur dan saat mencium aroma gosong, tiba-tiba saja Yura terbangun dari tidurnya. Dia masih setengah sadar tapi yang namanya panik mana bisa Yura diam gitu aja. "Astaghfirullah Cana, kamu lagi ngapain?" Cana yang sedang memotong cabe langsung menoleh saat Yura melihatnya. "Aku lagi buatin tahu goreng." "Tahu goreng atau tahu gosong, hah?" Cana tak sadar kalau dia belum mematikan api kompor makanya tahu itu gosong saat ingin dimakan dan Cana fokus mengulek sambal. "Maaf ra, aku lupa matiin kompornya." "Lain kali kalau masak itu jangan fokus sama satu aja." "Iya maaf." Cana pun menundukkan dirinya yang merasa bersalah akibat tahunya yang ia goreng gosong padahal sambalnya sudah jadi. "Aku maafin tapi jangan kek gitu lagi lah kan makanannya jadi mubazir." Karena tahu itu gosong mereka tidak ingin memakannya dan Yuda pun akhirnya membuangya ke tong sampah. "Btw kamu kemana aja semalam?" "A...aku ada urusan sebentar diluar bareng teman SMA ku." "Oh, siapa?" "Temen dudukku dulu." "Si ketos itu ya?" "Tau aja kamu." "Jangan bilang kamu masih suka lagi sama dia, iyakan?" "Ng..nggak kok." "Kamu gabisa ngelak dari aku." "Iya deh iya aku masih suka." Cana tersenyum pahit ya mau gimana dia berbohong kepada Yura, padahal dia ketemuan dengan salah satu keluarga Adipati kalau Yura tau dia akan dimarahi habis-habisan. "Aku pengen cerita." "Cerita apa?" "Sebenarnya aku itu curiga sama kakaknya Andra, apalagi mukanya itu familiar. Tapi gatau pernah ketemu dimana." "Curiga gimana?" "Ya curiga, gimana ya dia itu kek sering banget liatin aku dan saat malam hari aku liatin dia menelpon seseorang, kupikir cuman telepon biasa tapi pas kudengar dia nyebut namaku sebagai korban, dia gak jahat kan?" Yura gak terlalu mendengar pembicaraan tapi saat namanya disebut Yura pun semakin yakin kalau Arga itu mungkin ada sangkut pautnya saat Yura diculik. "Mungkin dia nyeritaain tentang kamu ke sahabatnya ya karena dia jadi korban di percintaan kamu sama Andra dan mungkin aja dia menaruh hati sama kamu." Itu yang ada dipikirkan Cana saat ini agar Yura positif thinking tentang permasalahan yang dihadapinya saat ini. "Aku yang curiga lho, kok malah jadi cinta." "Ya siapa tau." Yura gamau ngobrol lagi, biar ini yang ia pikirkan sendiri sampai permasalahan ini selesai. Disini Yura tidak bisa mengenali siapa orang-orang yang dulu pernah membuat mereka kesal karena ulahnya tapi Yura ingat siapa namanya mereka. "Gak mungkin aku lupa gitu aja dan sekarang mereka baru muncul mencari masalah." Yura gatau harus buat apa karena didunia ini dia tidak tau siapa yang harus ia percaya karena bisa saja orang yang ada didekatnya itu adalah orang yang ingin menjahatinya, apalagi dari suara Arga membuat Yura semakin yakin kalau kakaknya Andra adalah orang dibalik penculikan dirinya. Mungkin kalau dulu Yura gak salah pergaulan mungkin dia gak akan kek begini tapi memang benar dia tidak mengingatnya sama sekali. Yura pun memegang kepalanya yang sakit karena banyak pikiran yang terus saja menelusuri setiap masa lalu yang memang Yura tidak bisa mengingat mungkin kalau dia bisa merubah dirinya saat SMA dia gak akan seperti ini. Karena Yura lelah dengan pikirannya akhirnya dia memutuskan untuk tidur dan mungkin saat pas bangun dia udah bisa mengingat tapi kalau emang gak bisa dia gak bisa paksain karena dia gak bisa memaksanya yang ada kepalanya makin sakit karena disuruh ajak berpikir. # "Jangan pernah kamu dekati anak saya lagi apalagi kalau sampai kamu menyentuhnya, saya tidak akan segan membunuhmu." "Saya tidak bisa jauh dari Yura om dan izinkan saya bersama dengannya." "Tidak akan pernah terjadi." Setelah itu lelaki itu pun pergi karena merasa kesal atas semua yang ia perjuangkan tapi saat itu juga ia melihat Yura bersama cowo lain yang pastinya itu adalah sahabatnya sendiri di sana lelaki itu merasa kesal dan saat itu juga ia ingin membunuh gadis itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD