Part 22. Goodbye Days

1917 Words
"Kenapa aku nggak bisa tidur, ya? Kepikiran terus gitu sama Lara." Gibran beranjak bangun setelah sejak tadi ia bergulang-guling di atas kasur, tapi sama sekali tak bisa tidur. Ia selalu kepikiran kekasihnya. Padahal Gibran sudah yakin kalau saat ini Lara pasti baik-baik saja karena sudah ada Aida yang menjaga gadisnya di rumah sakit. "Mendingan aku ke rumah sakit aja lah. Daripada kepikiran terus." Lelaki itu mulai memakai jaketnya dan meraih kunci mobil di meja nakas. Saat ia berniat akan membuka pintu kamarnya, Gibran tiba-tiba saja mencium bau busuk di sekitarnya. "Lara-mu sudah mati, Gibran." Jantung Gibran seakan ingin lepas dari tempatnya. Ia tiba-tiba saja mendengar suara seorang wanita misterius di belakangnya. Gibran memberanikan diri untuk menoleh, lebih tepatnya membalikkan badan. Dan di depannya, ada seorang wanita berwajah mengerikan dengan pakaian perawat berlumuran darah. Wanita tersebut adalah hantu perawat yang pernah meneror Gibran lewat mimpi. Detik ini ia tengah melayang mendekati pria itu. Gibran tak bisa lari ke mana-mana. Tubuhnya terasa kaku. Ia tak bisa mencegah ketika tangan wanita itu bergerak menyentuh wajahnya. "Kamu pasti sudah tau siapa yang sudah membunuh kedua orang tuamu. Pembunuhnya adalah aku. Apa detik ini kamu ingin marah kepadaku? Wanita itu semakin mendekat. Gibran berperang dengan kekakuan pada dirinya. Ingin hati berlari atau setidaknya menyingkirkan makhluk berbau busuk itu dari hadapannya. Namun, untuk menggerakkan satu jari saja ia tak mampu. Hanya mata dan telinga yang senantiasa setia melihat serta mendengarkan apa yang akan dilakukan juga dikatakan oleh wanita itu. "Tujuanku merasuki raga Lara dan membunuh kedua orang tuamu dengan tangannya, adalah ingin mengadu domba kalian. Tapi faktanya kalian tetap bersatu, dan memilih menjadi pembohong besar di hadapan polisi. Jadi, ketika aku gagal membuat Lara dipenjara, aku memilih untuk menghabisi nyawanya dengan tangan orang lain. Menurutku ini jauh lebih baik, karena akhirnya kalian akan berpisah untuk selama-lamanya." Napas pria itu nyaris tercekat saat Ayudia memberitahu bahwa dirinya telah membunuh Lara. Gibran benar-benar tak percaya dengan lelucon yang tengah dipermainkan oleh hantu perawat tersebut. Ponsel milik Gibran tiba-tiba berdering nyaring. Saat itu juga Ayudia tiba-tiba lenyap dari hadapan Gibran. Ia bernapas lega karena akhirnya tubuhnya dapat digerakkan. Gibran bergegas meraih ponselnya di meja nakas. Rupanya ada panggilan telepon dari Rasya. "H-halo, Sya?" "Ran, coba lo keluar. Gue sekarang lagi di depan rumah lo." Gibran memutuskan sambungan telepon kemudian segera menemui Rasya di depan. "Lo kenapa malam-malam ke sini, Sya?" Gibran menemui sahabatnya itu di halaman rumahnya. "Kita ke rumah sakit sekarang ya, Ran. Di rumah tadi gue nggak sengaja ketiduran. Gue mimpi buruk, Ran. Mimpi soal ...." Rasya merasa berat sekali memberitahu tentang mimpi buruknya itu pada Gibran. "Lo mimpi apaan, Sya?" desak Gibran. "Gue mimpi berada di sebuah kuburan, dan gue nemuin ada makam yang papannya bertuliskan nama Lara." Perasaan Gibran makin tak karuan. Ia masih tak percaya kalau Lara telah tiada. Jika memang Lara meninggal, harusnya Aida menghubunginya. "Gue coba hubungi Aida dulu, deh, biar pasti." "Gini aja, Ran, mending kita jalan sekarang. Lo nanti coba hubungin Aida pas di jalan aja," saran Rasya. Gibran pun setuju dengan saran yang diberikan oleh sahabatnya. Ia lalu pergi ke rumah sakit dengan Rasya menggunakan mobilnya. Yang mengambil alih untuk menyetir adalah Rasya, karena Gibran sibuk menghubungi Aida tapi tak kunjung diangkat. "Ya ampun, Aida. Apa susahnya sih ngangkat telepon? Kalau kayak gini kan bikin gue khawatir aja," keluh Gibran. "Gue coba ngebut ya, Ran, biar cepat sampai. Lo coba hubungi Aida terus," perintah Rasya. Ia lalu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tak peduli banyak klakson kendaraan lain meneriaki tingkah gilanya. "Astaghfirullahal'adzim ... apa-apaan ini?!" Rasya terlihat sangat kesal. Bagaimana tidak kesal, jalanan di depannya kini tiba-tiba macet. Ia menekan klakson berulang-ulang, kemudian memukul-mukul stir dengan geram. Kemacetan tiba-tiba terjadi di depannya. Kepadatan lalu lintas di kota gudeg pada malam ini membuat Rasya dan Gibran benar-benar kalut. Mereka sudah tidak sabar untuk lekas sampai di rumah sakit. Tapi kalau macet begini, mana mungkin mereka akan segera sampai. "Astaga ... gue cuma pengen tau kabar Lara sekarang, kenapa pake acara dipersulit, sih?!" Gibran geram sendiri. Ia memilih menyandarkan kepala dan tak terasa kedua matanya sudah berkaca-kaca. Pikirannya sudah kalut. Ia sangat takut kalau yang dikatakan oleh hantu perawat itu benar adanya. Oh goodbye days ima kawari hajimeta mune no oku all right ... Kakko yokunai yasashisa ga soba ni aru kara ... La la la la la with you ... Ponsel milik Gibran tiba-tiba berdering nyaring. Hatinya justru makin tak karuan ketika mendengar lagu yang menjadi nada dering di handphone-nya tersebut. Lagu itu adalah lagu favorit Lara. Lagu dengan tema tentang perpisahan. Entah kenapa Gibran sangat takut perpisahan dengan Lara akan benar terjadi. "Siapa yang telepon, Ran?" tanya Rasya membuyarkan lamunan sahabatnya. "Aida, Sya." Gibran lalu menerima panggilan telepon tersebut. "Halo, Da. Kenapa dari tadi aku telepon nggak diangkat? Apa yang sebenarnya terjadi di sana, Da?" Hening. Aida tak kunjung menjawab pertanyaan Gibran. "Da, please, ngomong. Lara baik-baik aja, kan?" "Ran ... Lara lagi nggak baik, Ran." Mendengar jawaban serta tangisan Aida, d**a pria itu semakin sesak. Dengan dikabarkan kondisi Lara saat ini sedang tidak baik, pikiran Gibran makin ke mana-mana. Ia mencoba tegar, meski air matanya kini tak dapat dicegah lagi. "A-ada apa dengan Lara? Lara baik-baik aja, kan, Da? Lara bukannya lagi tidur nyenyak, kan?" Gibran hanya mampu mendengar suara tangisan Aida yang makin ke sini terdengar makin pilu. "Da, jawab pertanyaanku, Da. Lara lagi apa sekarang?!" Gibran mengusap kasar air matanya. Ia tengah menanti sebuah jawaban di sisa-sisa kehancurannya. "Maaf, Ran. Aku nggak becus jagain Lara. Pas aku nyampe sini, Lara udah meninggal, Ran." Lelaki itu segera menutup telepon. Ia menjambak rambutnya frustrasi. Tanpa sadar ia pun berteriak. Gibran benci dengan hidupnya saat ini. "Kenapa orang-orang yang gue cintai satu per satu pergi ninggalin gue, Sya?! Apa gue ini nggak pantas bahagia, hah?!" Gibran bertanya dengan nada emosi. Rasya paham betul dengan perasaan Gibran saat ini. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua sudah takdir. "Lo yang sabar, Ran. Kita akan segera sampai." Rasya mencoba menenangkan Gibran. Jalanan di depannya kini sudah tidak begitu macet. Pelan-pelan ia mulai menjalankan mobil sahabatnya tersebut. *** Langkah kaki kedua pria itu memijak cepat lantai-lantai putih rumah sakit. Banyak orang menatap heran saat berpapasan dengan mereka. Perasaan Gibran dan Rasya sudah tidak bisa digambarkan dengan apa pun. Mereka hanya ingin segera sampai di ruang jenazah demi menemui Lara. 'Mas, kapan kamu siap nikahin aku? Aku udah nggak sabar pengen nyandang status jadi Nyonya Ardhafirassya.' Gibran tiba-tiba saja menghentikan langkah larinya saat mendengar kalimat itu. Terdengar jelas, bahkan suara itu seperti ada di belakangnya. Ia menoleh. Menatap sekeliling. Senyap dan hampa. Tidak ada siapa-siapa di sana. "Ran, kenapa berhenti? Ayo, Ran." Rasya meminta Gibran melanjutkan langkah kembali menuju ruang jenazah. Gibran dan Rasya kembali berlari menuju kamar jenazah yang terletak di lantai tiga. Mereka bergegas menuju lift. Sampai di lantai dua, keduanya berlari kembali menuju ruangan paling ujung. Ruangan tersebut adalah kamar jenazah. Sebelumnya Aida sudah memberitahu kalau Lara sudah dipindahkan ke ruangan ini. Dengan tangan bergetar, Gibran mencoba mendorong gagang pintu. Ia pun memasuki ruangan yang isinya penuh dengan bed pasien. Dari kejauhan, ia melihat Aida tengah menunggui salah satu jenazah. Meski langkahnya terasa berat, Gibran memutuskan untuk menghampiri Aida. "Ran ...." Aida tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia makin larut dalam tangisan. Gibran melangkah pelan mendekati ranjang besi itu. Ia mengamati dengan saksama tubuh yang tengah tertutup kain putih tersebut. Dengan tangan bergetar, Gibran mencoba menyentuh, menyibak kain penutup jenazah kekasihnya. Seketika runtuh. Dinding-dinding hatinya serasa runtuh. Bahkan kedua matanya terasa panas. Pria itu mengalihkan pandangan. Menyapu kedua mata yang sudah berkaca-kaca. Rasya mencoba menepuk-nepuk punggung Gibran sebagai upaya menenangkan sahabatnya. Lelaki itu pun tak kalah hancur melihat jasad Lara yang telah terbujur kaku. "Lara nggak mungkin pergi, Sya. Minggu depan dia baru mau operasi kan, Sya? Dia nggak mungkin pergi secepat ini, Sya!" Gibran kembali menatap wajah jenazah itu. Wajah seorang gadis yang sudah menemaninya selama dua tahun terakhir. Lara selalu ada di sampingnya dalam situasi apa pun. Seketika tangisannya memecah diiringi dengan ambruknya tubuh pria itu, mendekap erat jasad seorang gadis yang paling ia cintai. Tidak ada yang tahu bagaimana hancurnya perasaan Gibran saat ini. Dia datang saat semua sudah terlambat. Satu-satunya orang yang begitu ia cintai kini telah terbujur kaku dalam pelukannya. Lara pergi tanpa memberi kesempatan pada Gibran untuk membahagiakan, terlebih menepati janji sucinya untuk menikahi Lara. Gibran menatap wajah pucat pasi sang kekasih sekali lagi. Wajah yang terlihat begitu tenang, dengan seulas senyum tipis tersungging dari sudut bibir gadis itu. Tanpa Gibran sadari, air matanya jatuh dengan deras membasahi wajah gadis malang di depannya. Kenangan demi kenangan sekitar dua tahun lalu tiba-tiba menari di kepala. Semua sikap manja Lara, sikap posesifnya, terlebih sikap dewasa gadis itu begitu membekas dalam benak Gibran. 'Aku suka kamu. Mau nggak jadi pacar aku?' 'Pokoknya mulai sekarang kamu resmi jadi pacar aku. Nggak boleh nolak, apalagi protes!' 'Kamu tau, kenapa aku minta hadiah buku dan pensil saat hari jadi kita? Karena, aku dan kamu seperti buku dan pensil. Mereka saling membutuhkan dan saling melengkapi. Aku ingin kamu menjadi pensil dalam buku kehidupanku.' Gibran merengkuh tubuh lemah kekasihnya. Menangkup wajah pucat itu, menepuk-nepuk pipi tirus gadis tak bernyawa di depannya. Mengguncang-guncang tubuh lunglai mataharinya, berharap Lara akan membuka mata kembali. "Ay ... bangun, Ay! Kamu nggak boleh ninggalin aku! Aku bilang, bangun! Bangun, Ay! Bangun ...!" Tangisannya tidak dapat dilukiskan dengan apa pun. Terdengar meraung dan begitu menyayat hati. Ia memang pernah kehilangan, tetapi rasanya tidak sesesak ini. Mencintai Lara adalah sebagian dari hidupnya. Jika gadis itu pergi, sama saja Gibran kehilangan separuh jiwanya. "Maafin aku, Ay. Aku bodoh! Aku laki-laki nggak berguna! Harusnya aku selalu ada di samping kamu, Ay. Aku mohon bangun, Ay ... bangun ...!" Sekali lagi, ia mencoba tegar menatap wajah sendu gadis pujaannya. Andai Gibran tahu, Lara akan pergi secepat ini, ia tidak akan menyia-nyiakan satu detik saja waktu bersama bidadarinya itu. Mencoba berlapang d**a ikhlas merelakan yang sudah tiada, memang bukanlah hal mudah. Berulang kali Gibran mencoba membangunkan Lara. Ia memohon agar gadis itu kembali membuka mata. Namun, permohonan seperti apa yang harus Gibran lakukan agar kekasihnya hidup kembali? Tidak cukup dengan memohon, bahkan, jika pria itu menangis darah pun, sesuatu yang mati tidak akan hidup lagi. Kecuali jika Sang Pemberi Kehidupan mengubah garis takdir gadis malang itu untuk melihat dunia lagi. Aida tidak sanggup melihat kehancuran Gibran. Ia memilih pergi dari ruangan ini sambil menutup mulut menahan tangisannya. Beberapa detik kemudian, Rasya pun menyusul. Mereka hanya ingin memberi waktu dan ruang untuk Gibran. "Kamu masih ingat janji kita ...? Kita akan sama-sama terus kan, Ay? Kamu nggak boleh ninggalin aku, Ay! Aku bisa gila kalau nggak ada kamu, Ay ...!" Tangan pria itu bergerak mengusap puncak kepala sang kekasih. Ia daratkan satu kecupan hangat pada kening bidadari surganya. Kecupan itu turun menghujani kedua mata indah Lara yang telah menutup sempurna. Lalu, satu ciuman terakhir ia habiskan pada bibir yang sudah terkatup rapat itu. Hanya inilah kenangan terakhir dari Gibran untuk Lara. Gibran kembali mendekap tubuh Lara dengan hangat. Hanya itu saja yang ingin ia lakukan saat ini. Meski dirinya tahu, Lara harus segera dipulangkan karena besok pagi akan dilakukan proses pemakaman. Namun, bisakah ia meminta waktu sebentar saja? Hanya sebentar, sebelum ia benar-benar ikhlas untuk ditinggalkan. Jemari pria itu mengusap helaian rambut panjang kekasihnya. Ia memejamkan mata, menikmati moment-moment indah untuk terakhir kalinya, yang mungkin takkan Gibran rasakan lagi bersama orang lain. "Sayangku, tidurlah dengan tenang. Kamu akan tenang di sana. Doaku akan selalu menyertaimu. Dan sampai waktunya tiba nanti, tunggu aku, aku akan tidur di sampingmu ..." Tbc ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD