"Papa keluar kota lagi, Ma?" tanya Gibran pada ibunya.
Selepas Maghrib, Gibran, Lara, dan Fatmawati makan malam bersama. Gibran merasa masih ada yang kurang karena sang ayah tak ikut serta makan dengannya.
"Iya, Nak. Akhir-akhir ini papamu sering bolak-balik keluar kota," jawab Fatmawati yang tengah sibuk menikmati opor ayamnya.
"Akhir-akhir ini Gibran merasa Papa itu kayak nggak punya waktu ya buat kita? Mama pernah kepikiran nggak sih, kalau di sana Papa kecantol sama perempuan lain? Papa itu terlalu sibuk loh menurutku. Terkadang, makan bersama aja, Papa seringnya jarang hadir."
Lara menyenggol kaki Gibran demi memberi kode. Ia merasa pertanyaan Gibran yang ini cukup lancang.
"Mama nggak pernah mikir begitu. Papamu itu sudah tua, Nak. Mana ada sih perempuan yang mau kecantol sama laki-laki seumuran papamu itu." Fatmawati memberi kepercayaan penuh pada suaminya.
"Dih, Mama. Jangan salah, Ma. Papa masih lima puluh lima tahun, loh. Ya belum tua-tua amat lah. Lagian juga Papa kelihatan awet muda kayak Gibran. Di luaran sana, banyak perempuan yang ngincar om-om loh. Apalagi om-om yang berduit kayak Papa ini. Aduh." Gibran mengaduh kesakitan karena Lara tiba-tiba saja mencubit pahanya. Ia pun langsung mendapat tatapan peringatan dari kekasihnya.
"Bisa nggak sih nggak usah jadi kompor meleduk? Takutnya Mama jadi mikir yang enggak-enggak, kan?" bisik Lara. Namun, Fatmawati masih bisa mendengar perkataannya.
"Nggak apa-apa, Lara. Wajar aja Gibran memiliki pikiran seperti itu pada papanya. Mama ya kadang mikir begitu juga, sih. Kalau dilihat-lihat kan, mama sama Papa kelihatan kayak masih mudaan Papa, padahal kita seumuran. Papa juga secara tampang, lumayan oke. Ya wajar aja kalau di luaran sana masih ada perempuan yang kecantol sama Papa. Meski begitu, mama yakin Papa nggak akan macam-macam di luaran sana." Fatmawati sangat memercayai suaminya, dan tidak mau ambil pusing dengan para wanita di luaran sana yang merasa terkesima dengan pesona suaminya. Yang terpenting, Wirawan tetap menjaga kepercayaannya itu sudah lebih dari cukup. Ia juga sangat yakin kalau sejauh ini Wirawan selalu setia padanya.
"Dengerin tuh, Ra, sekali-kali kamu mencontoh sikap dewasa Mama yang satu ini. Aku dan Papa kan sama-sama ganteng dari lahir, maka nggak heran kalau banyak perempuan di luaran sana, pada ngejar-ngejar kita. Kamu jangan terlalu cemburuan. Coba contoh tuh sikap Mama. Cukup ngasih kepercayaan aja dan yakin kalau pihak laki-laki nggak akan mengkhianati kepercayaannya. Dijamin deh, hubungan adem ayem, dan nggak ada ceritanya tuh bertengkar terus tiap hari." Tiba-tiba saja Gibran menyinggung Lara. Ia memiliki harapan kalau Lara dapat mencontoh sikap ibunya yang tidak gampang cemburuan itu.
"Perempuan kalau cemburu itu wajar. Itu tandanya si cewek sayang, peduli, dan nggak pengen hubungan ini berakhir begitu aja," bela Lara.
"Yang dibilang sama Lara memang benar. Ada kalanya perempuan itu harus memiliki sifat cemburu. Mama juga punya rasa cemburu ke Papa.
Cuma, kalau mama memang lebih memilih untuk nggak memperlihatkan sikap cemburu tersebut di hadapan Papa. Lara cemburu sama kamu itu bagus, Ran. Itu tandanya, dia ini nggak pengen kamu direbut orang lain. Dalam menjalin sebuah hubungan, yang terpenting kita harus percaya satu sama lain. Entah nanti kepercayaan kita mau khianati atau enggak, itu biar jadi urusan dia sama Tuhan. Toh, setiap perbuatan pasti ada balasannya. Orang yang curang, pasti akan dapat teguran dari Tuhan." Panjang lebar Fatmawati memberi petuah pada kedua anaknya.
"Tuh, Mas, untuk ke depannya, hati-hati dalam bertindak. Jangan sampai suatu saat kamu kena karma ya kalau berani mengkhianati kepercayaan aku." Lara mewanti-wanti kekasihnya agar tidak membuat masalah di masa depan.
Gibran kembali melanjutkan acara makannya yang tadi sempat tertunda karena keasyikan mengobrol. Ia bingung harus menanggapi perkataan Lara bagaimana. Sejauh ini ia tidak pernah merasa mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh kekasihnya. Memang Gibran sadar, ia kerap kali dekat dengan Rinka karena faktor tidak kesengajaan. Bukan karena Gibran berniat untuk mengkhianati kepercayaan Lara.
***
Selepas salat isya', Gibran mengantarkan Lara ke kamar untuk beristirahat. Pria itu membopong Lara dan memindahkannya ke atas ranjang. Gibran berpamitan keluar sebentar demi mengambil selimut.
Sambil menunggu Gibran kembali, Lara gunakan waktu untuk bermain ponsel. Namun, dari ujung matanya ia melihat ada sesuatu yang aneh dari arah jendela kamar. Lara putuskan menoleh ke arah jendela tersebut. Kedua netranya seketika terpaku. Di luar jendela sana, rupanya ada sesosok makhluk terbungkus kain putih lusuh.
Makhluk itu berdiri tegap. Kedua matanya berlubang, dipenuhi hewan menjijikkan bergelantungan di seisi wajah. Mulut robek sampai ke telinga. Air liur bercampur darah mengalir begitu deras tanpa henti.
Tubuh Lara seketika terasa kaku. Kedua mata bak terhipnotis. Tak sekali pun Lara mampu berkedip--mengalihkan pandangan dari sosok makhluk menakutkan yang entah sejak kapan telah berdiri di sana.
"Ay, pake selimut yang lain aja, ya. Selimut yang biasa, dicuci sama Bi Asri dan belum kering." Gibran datang sambil membawa selimut.
Ketika mendengar suara Gibran, sesaat Lara memiliki daya untuk berkedip dan bergerak. Ia merasa lega bukan main.
"Kamu kenapa, sih? Kok mukanya pucet gitu?" Gibran duduk di pinggiran tempat tidur. Ia langsung mendapati wajah pucat kekasihnya.
"Ran, a-aku nggak mau tidur di sini," kata Lara terbata-bata.
"Loh, kenapa? Kalau kamu nggak mau tidur di sini, terus mau tidur di mana? Tidur sama Mama?"
Lara mengangguk cepat. Hal ini membuat Gibran merasa ada yang tak beres dengan kekasihnya.
"Kamu kenapa, sih? Gelagatnya aneh gitu. Nah, aku tau, kamu pasti habis lihat nganu ya?" Gibran menyimpulkan kalau Lara ini habis melihat hantu, makanya gadis itu tak mau tidur sendiri di kamar ini.
"Rumah kamu horor banget, sih? Dan anehnya, kenapa cuma aku doang yang ditampakkin?!" protes Lara.
"Mungkin mereka mau kenalan sama kamu, Sayang. Diterima aja, napa? Gimana yang tadi? Kamu lihat apaan? Serem nggak mukanya?" Gibran justru penasaran dengan wajah hantu yang sempat Lara lihat tadi.
Hal ini membuat Lara jadi ketakutan lagi. Karena secara tidak langsung ia refleks teringat lagi dengan wajah mengerikan dari makhluk halus yang tadi sempat mengganggunya.
"Kamu tuh ya, pacar lagi ketakutan gini, pakai acara ditanyain mukanya 'mereka' kayak apa. Udah buruan, bawa aku ke kamar Mama. Aku udah nggak mau lama-lama di kamar ini," omel Lara.
"Kalau untuk seterusnya kamu nggak mau tidur di kamar ini, besok-besok kalau Papa pulang, kamu memangnya mau tidur di mana? Nggak mungkin juga kan kamu mau tidur sama Mama kalau ada Papa?"
Untuk urusan itu, Lara tidak mau memikirkannya sekarang. Yang jelas, malam ini ia tidak mau tidur di sini, dan lebih memilih tidur di kamar Fatmawati.
Tbc ...